Menjalani yang Hidup, Meskipun Tak Tentu


Hari ini saya terbangun dengan sakit kepala yang luar biasa. Di asrama, saya masih tidak memiliki bantal yang cukup memadai, hanya sebuah jaket lama masa SMA. Jaket berwarna hitam dengan corak merah itu saya buat bersama teman-teman pondok asal Surabaya. Tulisannya 'ASKING', singkatan dari All Surabaya King, merujuk pada kami sebagai santri kelas akhir sekaligus senior konsulat Surabaya. Tentu saja nama itu terinspirasi dari nama band metal Amerika yang terkenal: Asking Alexandria.

Setelah berhasil bangun, saya bangkit dengan susah payah. Rasa sakit itu terus menjalar di kepala, hingga saya masuk kamar mandi. Cuaca dingin turut menghambat, dan akhirnya saya butuh sekitar lima belas menit hanya untuk berwudhu. Selesai berwudhu, saya kembali ke kamar dan sholat shubuh sendiri. Jam dinding menunjukkan pukul lima, terlalu terlambat jika saya harus pergi ke Masjid Utsman. Selesai shalat, saya berdzikir (secukupnya) dan mengambil mushaf Qur'an: saya harus setor hafalan hari ini. Hari sebelumnya, saya tidak setor sama sekali. Parah.

Alhamdulillah, setoran saya cukup lancar. Mengulang kembali hafalan-hafalan lama yang selama ini tersimpan terlalu dalam, sehingga harus digali dengan susah payah. Dalam hal ini saya cukup beruntung, karena tidak terlalu banyak kesibukan yang mengganggu jadwal saya mengaji. Hanya rasa malas, dan tentu saja hanya itu yang menghambat saya. Selebihnya, tidak ada. Tenggorokan terasa masih kaku untuk bersuara keras ketika menyetor, dan mungkin harus saya biasakan kembali mulai hari ini.

Selesai setor, saya langsung mengganti pakaian. Jaket Icksan berwarna merah dan bertuliskan Barcelona belum saya kembalikan. Pilihan saya jatuh pada jaket Asking itu. Setelah mengecek isi tas, saya berangkat. Di depan asrama, seorang teman yang baru saya kenal pagi itu sedang menyapu halaman. Kepadanya, saya mengatakan hendak jalan-jalan. Ujung-ujungnya, saya ke kampus juga. Dengan earphone di telinga kiri, saya memutar lagu-lagu Fall Out Boy. Terasa teralu pagi, untuk sebuah band rock.

Jalanan yang saya tempuh selama ini sama: melewati Masjid Utsman, ke gerbang belakang UIN, lalu tembus ke Kerto. Saya selalu menyukai suasana UIN ketika sepi. Karena ketika ramai, UIN terasa seperti pasar: kendaraan sulit bergerak dan dagangan tumpah-ruah di jalanan. Meski sudah diperbaiki di sana-sini, UIN tetap menjadi lokasi yang epik: pepohonan palem menjulang tinggi di penjuru kampus. Konon, karena investasi dari Timur Tengah-lah, yang membuat UIN penuh dengan palem. Tidak seperti UB yang rindang karena memang hutan.

Setelah melewati kampus UIN, saya harus menyeberangi Jl. Sumbersari yang sudah ramai dilalui kendaraan bermotor. Tepat ketika arus kendaraan mulai sepi dari arah timur, saya menyeberang. Tak disangka, dari arah kiri, seseorang dengan kerudung merah dan jas biru hampir menabrak saya. Saya refleks menghindar dan beristighfar dengan keras. Perempuan yang hampir menbrak saya itu tetap melaju melawan arus dan dengan sedikit menoleh, berteriak: "Sorry, sorry!" Saya hanya bisa menggelengkan kepala dan menunggu jalanan kembali sepi.

Meski jalan Sumbersari ukurannya kecil, arus kendaraan di sini cukup ramai. Butuh perhatian yang tinggi agar bisa selamat melewati jalan dengan lebar hanya beberapa meter itu.

Saya memasuki kampus melalui Gerbang Fapet, sebagaimana biasanya. Beberapa mahasiswa sudah terlihat di berbagai penjuru kampus. Biasanya, orang-orang ini sedang menjalani latihan untuk persiapan ospek yang tidak berguna. Entah itu ospek kampus yang dikenal secara umum dengan nama Rabraw (Raja Biasa Aja), ospek fakultas, maupun ospek prodi. Secara pribadi, saya tidak punya dendam dengan ospek. Hanya saja, menurut teori Evolusi yang dipelopori KH. Robert C. Darwin, terkahir kali ospek dijalankan dengan kesia-siaan, telah berhenti di masa Pithecanthropus. Jauh dari masa modern.

Karena terlalu pagi, dan rasanya Gedung UKM belum buka di jam tujuh, saya memutuskan untuk pergi ke perpus. Jika biasanya saya melewati dua gedung Kimia -yang penuh dengan bau jahe, kali ini saya melewati gedung Fisika dan Biologi. Kebetulan keduanya berada di belakang Gedung FIB A. Jika lurus terus, saya akan sampai di Perpustakaan Pusat. Suasana kampus sangat sepi. Hanya ada seorang cleaning service. Saya memilih salah satu bangku di depan pintu, kemudian mengeluarkan buku yang harus saya hatamkan bulan ini: The Origin of Humankind. 

*****

Tidak ada yang luar biasa dalam kehidupan saya. Hanya kumpulan dari kegiatan sehari-hari yang terkandang random. Terkadang, dalam perjalanan saya yang dipenuhi dengan jalan kaki kesana kemari, saya merasa tak punya tujuan. Beberapa orang yang dekat dengan saya juga mengatakan hal yag sama, atau setidaknya, menanyakannya: cita-cita kamu apa sih? Tapi sebenarnya tidak begitu. Saya juga punya tujuan. Atau setidaknya, saya punya tempat untuk kembali.

Dan ada orang yang menunggu kepulangan saya.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir