Menjaga Kesadaran di Kelas Teori dan Ketegangan Sore Hari


Hal yang paling menjengkelkan dari hari ini, adalah bagaimana buku yang saya pesan melalui aplikasi jual-beli online, tidak datang ke tujuan. Dan saya musti mendatangi agen cabang untuk menjemputnya.

*****

Hal ini bermula dari suatu panggilan telpon yang saya terima ketika sedang bersepeda. Saya dalam perjalanan menuju kelas, yang akan dimulai pada pukul 9.40. Dan ketika saya sudah sampai di GRL, memarkir sepeda di tempat yang sempit, saya buka hape untuk melihat nomor si penelepon. Nomor tak dikenal. Orang itu juga menelpon saya lewat telpon biasa (bukan telpon WA maksudnya). Saya pikir, hanya orang salah sambung sebagaimana yang pernah ssaya terima beberapa hari lalu.

Tapi ternyata bukan.

Nomor yang sama menghubungi saya lewat WA. Ia memperkenalkan diri sebagai kurir Wahana. Saya pun mengingat pesanan buku online saya lima belas hari yang lalu. Pesanan itu menunggu sekitar setengah bulan karena memang pre-order. Harganya lebih murah memang, tapi untuk ditandangani penulisnya secara langsung musti menunggu agak lama. Penuli kawakan bernama Iqbal Aji Daryono -yang dituduh buzzer Jokowi itu- baru saja pulang berlibur dari Jepang.

Setelah menerima telpon itu, saya masuk kelas. Tak lama kemudian dosen datang dan menerangkan tentang serba-serbi paradigma ilmu sosial-budaya. Meski duduk di barisan paling depan, saya tak bisa berkonsentrasi. Pikiran saya melayang pada buku pesanan saya yang akan datang. Alamat pengiriman saya tunjukkan ke UKM, agar setidaknya jika saya tidak ada, bisa diwakilkan kepada orang lain di sana. Setidaknya, itulah harapan saya.

Sayangnya, harapan itu tidak jadi nyata.

Kurir yang bertugas mengantar buku saya tak tahu arah Gedung UKM. Dari telpon yang saya terima, ia salah alamat dan malah pergi entah ke mana. Akhirnya, buku itu harus ditaruh lagi di kantor agen pengiriman, Wahana. Setelah ashar, saya pergi ke sana. Dan dengan susah payah -karena harus menembus macet dengan sepeda yang sadelnya ketinggian, saya akhirnya menemukan kantor Wahana. Lokasinya tidak resmi, karena merangkap juga dengan toko kasur. Di kasir depan, saya menemukan buku itu. Penjaganya, seorang laki-laki setengah baya, memberikan buku itu kepada saya. Setelah itu, saya harus berjuang lagi menembus macet, menuju RTMA.

Saya melihat jam di hape, pukul empat lewat.

BANGSUL! TUGAS REVIEW MATKUL BESOK DIKUMPULIN JAM LIMA SORE INI!

*****

Tidak banyak hal menarik hari ini. Kelas teori yang dibawakan oleh Pak Iwan terasa lebih membosankan lagi. Saya berjuang setengah mati menjaga kesadaran, meski sudah beberapa kali menguap. Akhirnya, demi membunuh rasa kantuk itu, saya mengambil rubi dari dalam tas, dan memainkannya di bawah meja. Kelas itu berjalan dua jam, dan sepuluh menit sebelum waktu berakhir, Mas Iwan menyelesaikan kelas. Kami keluar tepat pada pukul dua belas.

Di asrama, saya berhasil mengirimkan review tepat pukul lima kurang seperempat. Agak malam, ada banyak notifikasi dari grup ghibah, yang ternyata memberitahu saya bahwa deadline tugas review itu jam tujuh. Sial. Tapi ya sudahlah. Yang penting saya sudah ngumpulin.

Terimakasih untuk hari ini. Semoga besok lebih baik.

Komentar

Posting Komentar

Apa pendapatmu?

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir