Menambah Dosa Evolusionis dengan The Origin of Humankind


Judul Buku: The Origin of Humankind
Pengarang: Richard Leakey
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan, Tahun: Ketiga, April 2019
Tebal: 218 hal + xviii
Harga: Rp. 70.000,-

Hari ini, saya berhasil mengkhatamkan buku The Origin of Humankind karya Richard Leakey, yang saya targetkan selesai di bulan ini. Alhamdulillah, target itu terlampaui, mengingat hari ini masih pertengahan bulan Agustus. Sebenarnya saya sudah mulai menyicil pembacaan buku ini sejak Juli, sejak saya membelinya di hari ulang tahun. Tapi ketika itu saya juga membaca buku-buku lain. Akhirnya saya putuskan untuk menamatkan satu per satu. Dan berhasillah saya menamatkan satu buku ini.

Buku ini saya beli sebagai hadiah ulang tahun, di mana setiap tanggal 21 Juli atau sesudahnya, saya punya tradisi untuk membeli buku-buku yang sudah saya incar jauh-jauh sebelumnya. Dan buku ini menarik perhatian saya, karena saya sendiri masih belum mendalami antropologi lebih jauh. Oh, iya, sebelumnya, mari saya perkenalkan dengan Richard Leakey, penulis buku ini.

Biografi

Bernama lengkap Richard Erskine Frere Leakey, beliau lahir pada 19 Desember 1944 di Kenya dari pasangan paleoantropologis bernama Louis dan Mary Leakey. Richard tinggal bersama dua saudaranya, Jonathan dan Phillip di Nairobi, Kenya. Keluarga mereka adalah perntis paleoantropologi di Afrika Timur, dan berhasil menemukan fosil-fosil legendari seperti 'Turkana Boy' dan Homo rudolfensis KNM-ER 1470 (saya tidak mengerti kenapa fosil diberi barcode). Saat ini, beliau menjabat sebagai kepala dari Kenya Wildlife Service, serta aktif dalam upaya konservasi di negaranya.

Sebenarnya buku ini bukanlah 'pertemuan' pertama saya dengan Richard Leakey. Sebelumnya, saya sudah membaca bab-bab awal buku Pithecanthropus yang ditulisnya terkait penemuan fosil oleh Eugene Dubois di sangiran. Buku itu ditandatangani oleh Presiden Soeharto, yang kemudian saya temukan di Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya. Pengalaman membaca itu sudah pernah saya tulis sebelumnya.

The Origin of Humakind

Sebelum menyentuh buku ini, pastikan dahulu Anda meyakini dengan pasti tentang kebenaran Teori Evolusi. Atau, setidaknya, tidak ada pemahaman lain yang menganggap Teori Evolusi adalah konspirasi terbesar ilmuwan se-dunia, entah itu ajaran Agama, local wisdom, dan lain sebagainya. Karena, jika Anda membaca buku ini tapi tidak percaya terhadap teori evolusi, maka itu sia-sia. Buku ini secara sederhana mengungkap apa saja yang membuat manusia berevolusi atau mengapa evolusi terbesar terjadi pada manusia.

Richard Leakey melalui buku ini menjelaskan tentang evolusi manusia dari sekumpulan primata, menjadi spesies paling berbudaya dan berkuasa di muka bumi. Tapi, sebagaimana ilmuwan lain, ia menjelaskannya dengan pertanyaan-pertanyaan: Mengapa harus manusia? Mengapa bukan primata lain seperti siamang atau katak, misalnya? Dan mengapa manusia begitu istimewa? Richard berusaha mengulik, setiap aspek yang mendukung evolusi manusia, baik dari segi biologis-morfologis, maupun budaya.

Sampai saat ini masih menjadi misteri bagi kita -tidak hanya ilmuwan evolusionis- mengapa evolusi kita begitu cepat? Mengapa kita begitu berbeda dengan siamang yang ternyata memiliki 99% DNA mirip dengan manusia? Richard menuliskan daftar apa saja perbedaan itu: bipedalisme (berkaki dua), otak yang membesar, berjalan tegap, kesadaran, dan kemampuan berbahasa serta berbudaya. Jujur saja, saya sendiri -yang selama ini diajarkan untuk tidak percaya dengan teori ini- ikut bingung. Richard Leakey mengajak pembacanya untuk ikut berpikir, sekaligus menyajikan data-data antropologis yang selama ini muncul ke permukaan.

Bintang Empat

Saya tidak bermasalah dengan buku ini secara keseluruhan. Sejak masuk kuliah antropologi, saya mulai meyakini kebenaran teori evolusi sedikit demi sedikit. Lagipula, itu adalah tiket masuknya: tanpa evolusi, perkembangan antropologi tidak sejauh ini. Dalam beberapa literatur, teori evolusi -baik biologi maupun kebudayaan- adalah pondasi dari bidang studi ini. Dan sekali lagi, mau tak mau saya musti meyakininya.

Richard Leakey menjelaskan asal-mula manusia dengan menyenangkan. Ia seolah-olah sedang mengajar di suatu ruangan, dengan kapur di tangan kanan dan penghapus berdebu di atas meja. Richard seperti dosen yang selalu tersenyum, bahkan ketika muridnya tidak memahami penjelasannya yang panjang lebar. Sayangnya, ada satu hal yang luput dalam buku ini: penerjemahan yang tidak membumi.

Jujur saja, meski diterbitkan oleh penerbit yang bagus dan kredibel, penerjemahan buku ini terlalu tinggi, terlalu melangit. The Origin of Humankind  seolah-olah diterbitkan hanya untuk kalangan akademisi saja, kemudian menafikan masyarakat umum yang sebenarnya tertarik dengan kajian evolusi. Sebenarnya ini kelemahan saya saja, yang tidak memahami bahasa-bahasa ilmiah dalam studi antropologi. Jelas, saya baru selesai semester dua. Tapi, saya juga harus melihat masyarakat umum, yang sebagaimana saya sebutkan tadi, berpeluang mendalami evolusi. Tidak salah, bukan?

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir