Memikirkan Makna Perjalanan
Dalam beberapa perjalanan, saya merasa seperti berjalan terlalu cepat. Kaki saya bergerak seperti berlari, atau melangkah terlalu lebar. Dalam hati, saya bertanya-tanya, ingin pergi ke mana? kenapa terburu-buru? Apa yang sebenarnya saya kejar?
Tidak ada. Saya sedang tidak mengejar sesuatu. Tidak ada suatu hal khusus yang saya kejar atau cita-citakan. Prestasi akademik? Tidak. Saya ingin kuliah dengan cara yang biasa dan memperoleh IPK yang memuaskan hati saya. Capaian non-akademik? Tidak. Meskipun saya ingin ikut dalam beberapa lomba MHQ, saya hanya ingin perlombaan seperti itu memperluas relasi saya dengan kenalan, baik itu musuh atau kawan. Karir organisasi? Gak ada. Saya masuk UKM Seni Religi karena nyaman berada dalam lingkungan santri, bukan karena mengincar jabatan atau posisi tertentu. Jodoh? Jangan ditanya. Saya gak mikir jodoh sama sekali.
Lalu, kenapa saya berjalan terlalu cepat? Apakah ada sesuatu yang mengejar saya dari arah belakang?
Tidak ada. Tidak ada suatu hal khusus yang memaksa saya dalam bertindak atau melakukan sesuatu. Ketika nanti memasuki masa-masa kuliah, mungkin saja ada beberapa tugas makalah atau review jurnal yang mengejar saya, tapi untuk saat ini, keduanya belum ada. Setoran hafalan? Mungkin saja. Tapi bukan itu yang saya pikirkan dalam beberapa perjalanan. Pikiran saya terus bertanya-tanya, tentang apa sebenarnya yang membuat saya berjalan terlalu cepat.
*****
Melewati rumah-rumah warga di daerah Kertoleksono, sekilas saya melihat pantulan wajah saya. Kumuh seperti gembel yang tidak mandi beberapa hari. Tanpa senyum dan merautkan keseriusan, terpancar begitu saja. Melihat wajah sendiri, saya merasa hati saya kelam, layaknya puisi-puisi tentang kematian seorang tokoh besar atau kejatuhan sebuah peradaban. Dan hanya dengan melihat wajah saya saja, orang-orang yang berada di sekitar saya selalu merasa saya adalah orang yang sombong.
Padahal tidak begitu.
Saya adalah bocah yang murah senyum. Meskipun rupa saya tidak terlalu good-looking, saya tahu dengan senyumlah orang-orang berdamai dengan kejelekan rupa. Memang sih, saya biasanya hnaya ramah kepada orang-orang yang saya kenal, atau hanya kepada teman-teman dekat saya. Tapi saya murah senyum kok. Itu pembawaan saya dari lahir.
Kembali ke topik.
Melihat wajah sendiri kadang membuat saya berpikir, saya benar-benar tidak berubah. Dari dulu. Seorang teman SD yang saya temui lagi di masa-masa awal kuliah mengatakan hal yang sama. Saya tetap Fariduddin Aththar, bocah yang namanya sulit diucapkan, tetapi mudah sekali diingat. Karena lahir dengan wajah yang sangat-tidak-pasaran, beberapa orang merasa bosan bertemu saya secara terus-menerus, seolah-olah ada tulisan di dahi mereka, "Kamu lagi, kamu lagi. Kamu pikir gak bosen apa ngeliat kamu terus?"
Dan saya tetap terlihat menyebalkan, hanya dengan alasan pakaian yang saya kenakan terlalu aneh dan tidak sesuai dengan fashion anak muda pada umumnya. Menghadapi orang-orang yang berpendapat seperti itu, saya hanya bisa berkata dengan sedikit lantang, "Ya afwan keh, saya bukan anak kaya yang beli baju setiap bulan. Toh pakaian saya dari atas ke bawah, dari dalam keluar ini hasil dikasih orang." Lalu dengan wajah yang mengesalkan orang-orang itu berlalu, atau -dalam opsi yang paling menyebalkan- mendekat dengan wajah kasihan nan prihatin, "Ya udah Rid, ambil nih baju-baju saya. Atau kamu mau lihat isi lemari saya? Ambil dah yang kamu pengin!" Tentu saja saya menolak. Saya benci orang yang memelas, apalagi dengan maksud prihatin terhadap kondisi saya.
Intinya, saya tidak pernah berubah. Itu saja.
*****
Bukan berarti saya tidak ingin berkembang. Itu hal yang berbeda. Perkembangan sendiri didefinisikan sebagai perubahan yang positif. Dalam ilmu biologi, hal itu bersifat kualitatif, sehingga, tidak ada satuan khusus yang mengukurnya.
Apakah saya berkembang?
Ketika pertanyaan semacam itu dilemparkan tepat ke wajah, saya tidak tahu bagaimana menjawabnya. Untuk sejenak, saya hanya bisa berfikir dalam-dalam, perkembangan macam apa yang telah saya buat? Apakah hafalan qur'an saya semakin lancar? Atau saya sudah ada tujuan dalam mempelajari antropologi? Tidak. Saya tidak tau. Tepatnya, saya tidak tahu bagaimana menjawabnya.
Pada intinya, saya hanya berusaha berkembang, dengan melakukan apa yang bisa saya lakukan, dan mencoba beberapa hal baru, yang mungkin membuat saya lebih berpengalaman. Saya tetap mengaji, melancarkan hafalan qur'an yang kocar-kacir tidak tahu berada di otak bagian mana. Saya tetap membaca buku, atau karya-karya ilmiah yang bertebaran di internet. Saya juga berusaha untuk tetap rutin menulis, meskipun saya yakin tulisan saya tidak terlalu bagus dan menarik perhatian banyak orang.
-Untuk semua orang, yang saya temui dalam perjalanan dan kehidupan saya, baik yang sudah atau nantinya-


Sekarang bajunya sdh cukup nagus, dr pd wsktu di SD, kancing baju putihnya hanya tinggal dua atau tiga yg di tengah, atas bawah sdh lepas.
BalasHapus