Kenangan Buruk tentang Arloji dan Tugas yang Tiba-Tiba Menumpuk
Jum'at, 23 Agustus 2019.
Entah hari ini ditakdirkan menjadi hari baik atau buruk, saya tetap berharap semua sisi kehidupan saya berjalan baik dan normal. Tidak ada ganjalan di tengah jalan yang musti saya singkirkan dengan berlebihan. Setidaknya, saya berdoa untuk itu.
Kelas hari ini dijadwalkan sore hari, oleh karena itulah saya masih bersantai-santai di kamar selepas selesai waktu setoran. Saya menyalakan smartphone, lalu secara bergantian membuka media sosial satu persatu. Tidak ada pesan di WA, tidak ada notifikasi di LINE, dan timeline Instagram masih biasa-biasa saja, tidak ada yang menarik. Saya berencana mencuci baju kotor yang sudah menumpuk. Ada opsi untuk me-laundry, tapi saya tidak ada baju lagi untuk kuliah. Lagipula...
"Ada beberapa hal yang harus dilakukan sendiri." begitu kata Abi melalui telpon pada suatu waktu. "Kalau masih bisa nyuci sendiri, mending dicuci sendiri." Secara pribadi saya tidak keberatan dengan hal itu. Lagipula, saya sudah terbiasa mencuci baju sendiri sejak mondok di masa SMP.
Maka saya pun beranjak bangkit dari kasur, mengambil beberapa lembar uang, lalu pergi ke Indomaret. Saya mengenal wajah-wajah kasir dan karyawan di sana, karena hampir setiap hari saya mampir untuk membeli satu-dua barang. Di rak sabun cuci, saya mengambil So Klin, karena harganya paling murah, dengan ukuran yang rerata sama. Di pagi itu, sebenarnya saya sudah merasa lapar, tapi saya tunda sarapan saya hingga nanti pergi ke kampus saja.
*****
Saya selesai mencuci baju di pukul sebelas kurang, termasuk menjemurnya di rooftop. Selepas itu, saya masih malas bergerak, lalu kembali meringkuk di kasur. Lag-lagi saya mengeksplorasi smartphone, membuka satu per satu media sosial, mencoba game-game yang lama tak dimainkan. Bosan dengan semua itu, saya melihat jam dinding. Pukul sebelas lewat beberapa menit. Ayolah berangkat. Maka saya pun berangkat. Berjalan kaki menuju kampus.
*****
Selepas sholat Jum'at di Masjid Raden Patah, saya mengajak kating untuk makan. Ia tak punya uang cash, lalu mengajak saya untuk pergi ke CL dahulu, mengambil selmbar uang lima puluh ribu. Pilihan tempat makan kami masih di Pujasera. CL terlalu ramai. Pilihan makan yang beragam menjadi faktor utama. Demi tempat yang lebih sepi, kami berjalan agak jauh lagi.
*****
Sore menjelang kelas, waktu menunjukkan pukul dua siang lewat. Kating mengajakku untuk menemaninya membeli baterai arloji. Tempatnya di Jl. Sumbersari, dekat dengan Sardo. Kami pergi ke sana dengan motor pinjaman kating yang lain. Secara pribadi, saya punya sejarah buruk dengan arloji. Itu saja. Saya tak ingin bercerita lebih panjang tentang sejarah buruk itu. Yang paling mudah diterima akal adalah bagaimana saya selalu merasa gatal ketika ada sesuatu yang menggantung di pergelangan tangan. Intinya, saya tak tahan menggunakan arloji. Pergelangan tangan akan terasa gatal.
*****
Selepas ashar, saya pergi ke fakultas dengan terburu-buru. Kelas dijadwalkan mulai pada pukul 15.20, sedangkan sholat ashar baru saja selesai. Sesampainya di kelas -yang berada di lantai empat Gedung Rektorat Lama- dosen sudah datang. Lekas saja saya mengganti baju, melepas jaket dan memakai kurta. Seperti kemarin. Agak lama, dua orang teman wanita datang. Keduanya duduk tepat di depan saya. Selama kelas, kami banyak berbincang. Dan memang, selain cantik, keduanya supel.
Yang mengejutkan dari kelas sore ini adalah tentu saja tugas yang tiba-tiba menumpuk. Bu Wikke, yang pada semester lalu mengampu mata kuliah Antropologi Ragawi, kini mengganti Bu Mirta -seperti semester yang lalu- mengajarkan kami tentang metode penelitian survei. Jika di kelas-kelas sebelumnya kami cukup dengan kontrak kuliah dan pembagian kelompok untuk presentasi, Bu wikke meminta kami langsung praktik. Beliau hanya menjelaskan metode penelitian survei dengan cepat dan seadanya, lalu memberi tugas. Sebuah pencapaian luar biasa untuk kuliah di minggu pertama.
*****
Cukup itu saja untuk hari ini. Kalau ada yang merasa mengapa banyak hal dalam keseharian saya terasa terlewat begitu saja, barangkali saya memang tidak mau menceritakannya. Atau saya tdak tahu bagaimana menuliskannnya. Begitu.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?