Idul Adha dan Rasa Gatal yang Menjalar di Lengan


"Wes pegel aku cuk!" saya  mengumpat pada diri saya sendiri, meludah pada rerumputan yang mulai menguning. Matahari bersinar dengan amat terik, panasnya sangat terasa. Saya mencoba mencari tempat untuk beristirahat, dengan duduk di sebuah kursi yang dibiarkan begitu saja tergeletak. "Mambengi aku gak turu blas."

"Lah, lapo awakmu gak turu, Rid?" kating asrama yang sedari tadi bekerja menguliti domba bertanya. Saya jelaskan saja kalau saya takut bablas ketiduran sampai siang, hingga tidak sholat Ied sebagaimana tahun lalu. Ya, tahun lalu saya tidak ikut sholat Ied karena ketiduran di kamar. Memang hukumnya sunnah, tapi kan ini momen yang jarang terjadi, hanya dua kali setahun. Oleh karena itulah saya memutuskan untuk tidak tidur hingga subuh menjelang.

Sembari duduk, saya mencoba beristirahat total. Tidak sampai tertidur, sebenarnya. Hanya meluruskan kembali kaki yang sedari tadi saya gunakan untuk mengejar dan menangkapi domba-domba qurban. Toh, saya juga tidak bisa tidur dalam keadaan yang kotor dan berantakan: kami sedang berada di halaman belakang pondok putri Darul Qur'an. Sepetak tanah digunakan sebagai kandang darurat, bersebelahan secara langsung dengan garasi. Domba-domba qurban sudah banyak yang dikuliti, tapi pekerjaan masih panjang di tengah terik mentari.

*****

Sebagaimana saya ceritakan di atas, kami -para mahasantri Rumah Tahfidz- merayakan Hari Raya Idul Adha dengan membantu proses penyembelihan hewan qurban di pondok putri. Kami berangkat pagi sekali, dari daerah Sunan Kalijaga, menuju tempat yang belum pernah saya kunjungi. Toh, saya memang anak baru. Belum sebulan saya berada di sini. Meski begitu, saya mudah dalam beradaptasi. Toh, ini pengalaman saya yang ketiga kalinya.

Sesampainya kami di pondok putri, kami hanya perlu menunggu beberapa menit sebelum sholat Ied dimulai. Imamnya adalah ustadz yang menjadi mustami' kami. Dalam dua rokaat, beliau membaca surat yang amat-sangat-panjang. Kaki saya sampai terasa sangat capek. Saya pikir, beliau bukan hendak mengimami, tapi setor seperempat juz. Setelah shalat, ada khotib berjas UIN yang maju. Tanpa teks di tangan, khotib itu menyampaikan khutbah Idul Adha. Dan betul saja sebagaimana perkiraan saya, khutbahnya berantakan. Terbata-bata. Seperti sudah menyiapkan poin-poin khutbah, tapi tak punya kemampuan menyampaikan yang bagus.

Setelah shalat, kami dijamu dengan sarapan di dalam aula asrama. Sarapan kami sederhana: lontong, sayur lodeh, dan ayam berkuah kuning. Sebagaimana santri baru yang malu-malu saya hanya mengambil sedikit, itu pun tanpa ayam di piring saya. Teman-teman saya seasrama mengambil sebanyak mungkin. Wajar. Toh, jarang-jarang kami mendapat kesempatan seperti ini: makan gratis dan sepuasnya bersama asatidz senior. Kami seperti santri yang tak tahu diri, tanpa rasa malu mengambil porsi yang banyak. Kecuali saya, tentunya.

Setelah itu, kami turun ke kandang untuk membantu pemotoongan hewan qurban. Katanya, tak banyak hewan yang disumbangkan tahun ini, hanya 25 ekor domba. Berkurang sedikit dari tahun lalu yang mencapai angka 30. Tapi bagi saya, itu sudah cukup untuk ukuran pondok Daqu. Belum lagi, daging-daging itu akan dikirim ke berbagai cabang Daqu yang lain. Untuk Rumah Tahfidz Mahasiswa sendiri, kami mendapat dua ekor. Daging sebanyak itu mungkin cukup untuk persediaan beberapa hari.

Pada mulanya, saya membantu menangkapi domba-domba yang berlarian. Tak lama kemudian, saya merasakan hal aneh. Ada rasa gatal di lengan kanan saya. Dan benar saja, bentol-bentol merah bermunculan, di sekitar bagian dalam siku. Saya mengamati dengan jelas sebaran bentol-bentol itu, dan saya yakin itu baru muncul beberapa menit, belum lama. Saya pun segera bergegas menuju kamar mandi, membersihkannya dengan sabun cuci piring. Hingga tulisan ini ditulis, bentol-bentol itu masih ada, begitu pula rasa gatalnya.

*****

Kemarin malam, kami -dengan susah payah- berhasil menghabiskan sebagian daging qurban itu. Kami menjadikannya sate yang terlalu gosong kemudian dibalur saus kacang kasar nan pedas. Kacangnya tidak terlalu halus ketika digerus, dan dicampur dengan beberapa buah cabai. Tak ayal, saus homemode itu terasa enak, dengan pedas yang berlebihan. Toh, rasa gosong itu juga menghilang dengan nasi hangat dan saus pedas itu.

Semoga selanjutnya tidak gosong lagi, dan semoga gatal di lengan kanan ini segera menghilang.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir