Hari Kamis dan Tugas Presentasi Dua Minggu Lagi


Saya berharap hari Kamis ini lebih dari biasanya, dan kelas pagi yang mengasikkan membantu saya mencapai ekspektasi itu.

Setelah dengan susah payah menyelesaikan setoran seperempat juz, saya mengajukan pertanyaan kepada Ustadz Najmuddin, mustami' saya di RMTA, "Kapan (saya) bisa setor dua juz, ustadz?" Beliau bersedia menyimak, tapi bukan di waktu-waktu biasa, ba'da subuh atau ba'da isya'. "Nantilah di kantor." beliau menjawab. "Tapi harus belajar baca hadr. Soalnya kalau setoran pelan waktunya bakal panjang." Saya menyanggupi, karena sebenarnya saya bisa membaca secara hadr, hanya saja akan banyak ditemukan bagian yang tidak lancar.

Ketika jam dinding menunjukkan pukul enam, Ustadz mempersilahkan saya untuk bersiap-siap, menghadapi kelas pagi yang dijadwalkan sejam kemudian. Saya pun mandi, dengan menghimpun segenap keberanian, melawan dingin air di kota Malang. Semua berjalan lancar, hingga saya berjalan ke luar asrama dan lupa mengambil sebotol air untuk waktu-waktu haus. Ya udah lah, biarin aja. Toh nanti juga bisa beli di kampus. Tapi memang membawa sebotol air isi ulang mungkin dapat membantu stabilitas dompet saya.

Melewati UIN, saya banyak bertemu dengan mahasiswa kampus Islam negeri ini menyeberang jalan. Tentu saja hal itu dikarenakan salah satu gedung fakultas mereka yang terpisah, dan berada di daerah Sunan Muria. Oh, iya. Mereka kan baru mulai kemarin masuk kuliah. Dan saya gak ketemu mereka sebanyak ini karena kemarin saya gak ada kelas pagi. Saya baru berangkat ke kampus di jam agak siang. Tapi secara umum, keramaian kendaraan tidak membuat macet jalan. Dalam beberapa menit, saya sudah bisa menyeberang dan menembus UIN, menuju Kertoleksono, ke arah Gerbang Fapet.

*****

Kelas pagi ini diisi Pak Hippo, Kepala Jurusan Antropologi dan Seni Rupa Murni. Sebelumnya, mahasiswa tingkat kedua seperti kami hanya bertemu beliau di awal kuliah, di masa-masa ospek. Beliau bertanggungjawab menjelaskan serba-serbi perkuliahan selaku Kepala Jurusan. Baru kali ini kami berkesempatan diajar oleh beliau, dan langsung pada mata kuliah Pengantar Antropologi Terapan. Meski bernama praktikal, kami hanya akan berdiskusi tentang teori, tanpa ada praktikum.

"Untuk mata kuliah ini, saya ingin kita mengulas sebuah buku." beliau memulai perkuliahan tanpa perkenalan, sebagaimana dua dosen baru yang kami temui sebelumnya. "Buku ini berjudul Unexpected Anthropology." Lalu beliau menjelaskan tentang bagaimana manusia, sebagai makhluk yang berbudaya, selalu berdinamika sepanjang zaman. Dan tentu, dinamika yang beragam itu akan melahirkan ruang-ruang baru untuk pembelajaran antropologi.

Beliau memberi dua contoh, yang keduanya diambil dari dua bahasan awal buku itu. "Contohnya adalah Otherwordly Anthropology, yang berbicara tentang kehidupan luar angkasa. Kan seharusnya bidang itu diisi oleh para fisikawan." Beliau membicarakannya dengan nada yang pas dan pantas, seolah-olah memang belum ada antropolog yang menyentuh dunia itu. "Maka bahasan ini akan menjadi menarik, karena sebenarnya mereka, para fisikawan itu akan perlu antropolog untuk pengembangan luar angkasa."

Selain itu, contoh lain yang dihadirkan adalah kehidupan tentara Amerika yang baru pulang dari perang, kemudian trauma atas pengalaman mengerikan yang mereka alami. Untuk itu, sudah ada psikolog yang sebenarnya sudah mencukupi. Tapi ternyata belum. Itu belum cukup. Dan dalam Unexpected Anthropology, tidak hanya psikolog yang memiliki ruang itu, tetapi juga para antropolog. Oleh karena itulah, akan selalu muncul ruang-ruang baru untuk diskusi antropologi, selama manusia terus berdinamika dalam ruang dan waktu budaya.

Selain memberi sedikit pengantar, Pak Hippo memberi kami kesempatan untuk membagi kelompok dan mempelajari materi dari buku yang sudah dibagikan. Di grup LINE angkatan, kami mendapat notifikasi itu. Bentuknya pdf, dan hanya beberapa megabite. Untuk minggu depan, beliau masih akan memberi pengantar, lalu di minggu berikutnyalah kami dipersilahkan untuk presentasi. Saya memutuskan untuk mengambil tema pertama, dengan konsekuensi harus siap presentasi dua minggu lagi. Oleh karena itulah, setelah saya selesai menulis ini, saya akan mulai menyiapkan presentasi.

*****

Setelah dhuhur, saya berkutat dengan penerjemahan Unexpected Anthropology. Dengan adanya file buku itu berbentuk pdf, maka memudahkan saya untuk menerjemahkannya halaman demi halaman melalui Google Translate. Meski merepotkan, saya masih tetap mengerjakannya karena saya tak punya opsi lain untuk dapat memahami substansi buku ini. Lagipula, meski tak terlalu bagus, terjemahan Google Translate bisa diandalkan kok. Setidaknya tidak seperti dahulu lagi.

Menjelang waktu ashar, proses penerjemahan itu rampung. Saya hanya menerjemahkan bagian pembukaan, yang ditulis oleh dua orang editor buku tersebut. Dua minggu lagi, tepatnya hari Kamis tanggal 5 September, tim saya dijadwalkan untuk presentasi. Mungkin setelah ini saya akan membaginya kepada teman setim, lalu memintanya untuk dipelajari. Setelah ini, akan ada tugas lagi. Kalau tidak salah, mata kuliah Kognisi dan Kebudayaan yang diampu oleh alumni Antropologi UB angkatan pertama akan memberi tugas di hari Jumat. Itu berarti besok. Dan siap-siap saja untuk memulai review jurnal: pekerjaan sehari-hari kami.

Setelah ashar, saya berangkat ke kelas. Dari Gedung UKM, saya butuh waktu sekitar tujuh sampai sepuluh menit, dan itu adalah rekor tercepat dengan kedua kaki. Sesampai di kelas, dosen belum datang, dan saya mengganti pakaian: melepas jaket Barca lalu memakai kurta. Dalam beberapa menit dosen yang mengampu mata kuliah Kebudayaan dan Politik datang. Pak Sigit namanya. Sekilas, saya merasa familiar dengan wajahnya. Dan ternyata benar. kami ternyata sudh pernah berjumpa sebelumnya.

Tentu saja beliau tidak mengenal saya. Saya pernah melihat beliau dalam bedah buku yang ia tulis sendiri, Hegemoni Wacana Politik di semester lalu. Dalam acara itu, dosen mewajibkan kami menghadirinya, dengan catatan acara itu merupakan ganti kelas yang kosong sebelumnya. Dalam sambutan awalnya di kelas, Pak Sigit banyak memberi referensi untuk pengayaan materi, sebut saja: Imagined Communities oleh Bendedict Anderson, Du Contract Social, Political Anthropology, Pusat, Simbol dan Hirarki Kekuasaan, dan tentu saja bukunya sendiri: Hegemoni Wacana Politik. 

Sayang sekali, meski merekomendasikan banyak sekali buku, kelas beliau membosankan. Gaya bicaranya datar, tanpa intonasi dan ekspresi. Meski banyak yang dibicarakan, sedikit yang masuk di kepala, karena memang tidak menarik. Atau jangan-jangan ini salah saya: masuk kelas dengan menahan rasa lapar. Tidak tahan melawan kebosanan, saya mengambil rubik yang saya simpan di tas, lalu memainkannya di bawah meja.

Tak lama, kelas Pak Sigit selesai. Beliau menyelesaikan kelas lebih awal, lalu pergi. Saya yang sudah merasa lapar lalu turun, kemudian berjalan pulang. Hari ini cukup menyenangkan, sebenarnya. Yah, setidaknya tidak se-membosankan hari kemarin. Saya punya ide untuk menulis, meskipun belum bisa menyelesaikan kisah baru tentang Rama. Selain itu, sudah lama pula saya tidak menulis puisi. Mungkin nanti, ketika saya bertemu dengan wanita baru. Tentu saja yang mampu menginspirasi saya menulis puisi.

Komentar

Posting Komentar

Apa pendapatmu?

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir