Friend Zone (2019): Melewati Batas Pertemanan itu Bahaya!


Merasa bosan dengan game on-line yang selalu membuat kalah, saya mengalihkan perhatian ke film. Di smartphone, saya memiliki aplikasi nonton film gratis asal Malaysia, tapi koleksi filmnya lawas-lawas. Rata-rata sudah pernah ditonton. Maka, saya pun mengklik tautan streaming film bajakan, dengan tujuan mencari tontonan baru di malam Sabtu.

Di sana, hadir Friend Zone (2019), film romansa asal Thailand yang dengan jelas mengusung kisah klasik dunia percintaan: orang tercinta yang hanya boleh menganggap atau dianggap sebagai teman. Film ini dengan nyata mengisahkan sakralitas hubungan pertemanan, yang kemudian tidak boleh dicampuradukkan dengan perasaan cinta. Teman di satu sisi, dan pacar di sisi lain. Begitu sederhananya.

Cerita

Kisah diawali dari seorang Palm (Naphat Siangsomboon), seorang lelaki bodoh yang berteman dengan Gink (Pimchanok Luevisadpaibul), wanita catik yang satu sekolah dengannya. Kenapa lelaki tampan ini bodoh? Ya karena sejak awal dia telah menganggap Gink sebagai temannya saja. Bahkan, kata-kata yang disampaikannya ketika mereka berada di pesawat -setelah memergoki perselingkuhan ayah Gink di kota lain- itulah yang membuat cerita ini ada: "Aku mencintaimu, Gink. hanya kamu satu-satunya teman yang bisa mengobrol denganku."

Halah, raimu!

Seperti itulah potret Palm, lelaki kesepian yang selama hidupnya tak punya banyak teman kecuali Gink seorang. Lalu ketika Gink mendapat pacar, ia merasa cemburu. Rasa sakit itu bukannya tak tertahankan. Ada kalanya ketika Palm merasa menyerah dan harus memberitahu perasaan cinta yang sesungguhnya. Tapi, sebagaimana karakter lelaki kesepian yang tak punya banyak teman, ia pengecut. Ia terlalu takut hubungan pertemanannya hancur, lalu lebih memilih rasa sakit hati sendiri selama 10 tahun.

G0bl0k!

Bintang Empat

IMDB memberi nilai 7,5/10 untuk film ini. Sebagai pengamat film gadungan, saya menyetujuinya. Dari lima poin, Friend Zone berada di kisaran 3,9 hingga 4,3. Nilai yang cukup banyak untuk sebuah film romance asal Asia. Secara umum, penonton sudah tahu bagaimana premis utama film ini, karena bukan sesuatu yang jarang terjadi. Lagipula, selain kisah asmara, penonton juga akan mendapat hikmah lain: bagaimana cara memahami pasangan, baik pria atau wanita.

Sejak dulu kala, permasalahan orang-orang yang sedang menjalin suatu hubungan asmara adalah bagaimana menerjemahkan perilaku pasangan sehingga dapat memahaminya secara mendalam tanpa menimbulkan kesalahpahaman. Ya. Sederhananya: cowok itu gak ngerti kode-kodean cewek. Tapi, di film ini, Palm adalah sosok lelaki sempurna. Ia tampan, sopan, dan memahami perasaan Gink yang naik-turun, labil. Ia rela melakukan segala hal demi menemani teman satu-satunya itu. Temasuk karirnya sebagai pramugara.

Kisah yang menarik, humor yang tak biasa, dan penokohan karakter yang kaya menjadi senjata utama film ini. Mungkin sebagian orang berpikir kisah ini berlatar sekolah, dengan tokoh anak-anak SMA atau kuliah sedang cinta monyet di dalamnya. Tapi bukan. Film ini sepenuhnya bercita tentang orang-orang yang beranjak dewasa, tapi tetap saja tidak memiliki keberanian untuk mengambil resiko, demi kehidupan yang lebih baik. Begitu intinya.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir