Berkenalan dengan Antropologi Kognitif: Lebih Banyak Berpikir!
Apa itu Antropologi Kognitif?
D'Andrade menjelaskan bahwa studi ini mempelajari tentang relasi antara masyarakat dengan pemikiran manusia. Antropolog kognitif memahami bagaimana manusia dapat menggunakan pengetahuan dalam keseharian, manajemen, kontiunitas, dan inovasi terhadap pengetahuan tersebut. Tujuan dari antropologi kognitif adalah menjelaskan tanda-tanda, struktur, dan sifat pengetahuan yang diperoleh secara sosial, serta penafsiran budaya tertentu. Meskipun aspeknya sangat luas, antropologi kognitif berusaha mempersempit kajiannya berfokus pada bentuk dan sifat yang muncul dalam masyarakat, serta bagaimana kemunculannya sehingga dapat mempengaruhi individu dalam masyarakat tersebut.
Apa artinya menjadi 'Manusia'?
Antropologi secara sederhana berarti studi tentang manusia. Ia menelisik segala hal tentang manusia dan segala yang melingkupinya. Untuk mencapai pemahaman yang mendalam tentang hakikat manusia dan segala kompleksitas yang mengelilinginya, dalam antropologi, tersebutlah berbagai macam disiplin ilmu yang berdiri sendiri tapi tetap berkaitan satu sama lain. Dalam kurikulum pendidikan Amerika, antropologi diklasifikasikan dalam empat macam: arkeologi, linguistik, antropologi ragawi, dan etnologi. Di Eropa, antropologi dipelajari sebagai satu kesatuan ilmu pengetahuan yang independen. Meski begitu, hal itu tidak menyurutkan semangat penjelajahan: kajian antropologi terus meluas sepanjang manusia berdinamika dalam ruang waktu.
Antropologi dan Ilmu Kognitif
Antropologi kognitif berusaha menghadirkan realitas luar yang berbeda dengan pemikiran manusia. Ia mencerna apa yang terlihar secara visual menjadi penuh makna, kemudian menghadirkan pemahaman yang menyeluruh terhadap realitas sosial. Oleh karena itu, ilmu kognitif membutuhkan disiplin ilmu lain: ilmu komputer, filsafat, psikologi, linguistik, ilmu saraf dan antropologi.
Model utama yang menjadi contoh dari penerapan ilmu kognitif adalah sistem komputer: ia menginput berbagai macam data dan mengubahnya menjadi output yang berguna. Dalam hal ini, setidaknya ada dua sistem model, yaitu model prosedural (simbolik) dan model koneksionis (subsimbolik). Selain dua model itu, ada juga yang menggabungkan keduanya yang kemudian dinamakan model hybrid (simbolis-koneksionis).
Kontribusi signifikan antropologi kognitif adalah reformasi metodologi dan reaksi terhadap keraguan akan legitimasi penelitian saintifik antropologi itu sendiri. Sehingga, antropologi kognitif menjadi dasar pemikiran dari penelitian antropologi sekaligus mematahkan pandangan pesimistis terhadap validasinya. Untuk itu, antropolog atau etnograf musti menggunakan sudut pandang emik dalam mencatat data etnografi. Ia harus melebur dalam masyarakat, agar tidak terjadi bias budaya dalam penelitiannya.
Pertanyaan
- Apa yang sebenarnya menjadi fokus antropologi kognitif?
- Seperti apa contoh penelitian antropologi kognitif?


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?