Beberapa Waktu Mati
Oleh: Jefni Rawandi
Aku sudah mengaduh, susah melumpuh. Di kamarmu, saat semua puisi-puisimu terlelap di pintu ke sepuluh. Meniti jalan bergerigi dan tangga-tangga kayu mencari puncak di mana terakhir kali mendengar waktu berteriak. Aku bersumpah tak terbasuh, inilah uraian wasiat berbentuk bisik, membusuk di lemari sisikmu. Ah, aku tak meninggalkan pertikaian, sebab kutahu, tanpa kau tunggu pun aku bisa menyelinap lewat do'a-do'a dan renung siapa saja. Mendengar kesunyian terdalam hatimu dengan izin-izin yang selalu terbuka. Kudesaukan gairah akhir upayaku, bukankah begini maksudmu menelanku dari bingkai yang jauh jaraknya mengambil rata seluruh hunjaman perih pada belas kasih sang nafsu. Aku terperdaya di lapisan-lapisan gelembung kutukan irama. Sejengkal suaramu mendekat, berbisik, seperti tak berhalang kesukaran dan kesibukan. Aku lega dan tenang mendengar rindu samar-samar yang kau tebar lebar.
Beberapa waktu mati, ucapku. Kau menunduk seolah tau tentang pengalaman menuju tirai kematian. Tanpa senyum kau ucapkan bahwa suatu saat akan ada waktu yang hidup di sisiku, sebelum akhirnya aku mengunyah resiko-resiko, bebal, atau memaksakan diri tanpa mengerti situasi dan kondisi. Menghentakkan sepasang kaki mencairkan anarki. Aku suka begini, kau suka mencampurkan apapun yang tak mudah kulepaskan, kukerjakan, kuhentikan. Benar. Beberapa waktu mati, Deula. Temaram semangatku dikoyak api suratan kutukanmu. Hingga kuingat aku belum bisa mundur untuk kembali menyajikan luka impian zaman-zaman penuh ketegasan. Aku belum siap dicabut oleh nafas-nafasku sendiri, egois di atas keteguhan batin, tersiksa zuhud uraian lilin-lilin.
Prenduan, 13.08.2019 23.37
Aku sudah mengaduh, susah melumpuh. Di kamarmu, saat semua puisi-puisimu terlelap di pintu ke sepuluh. Meniti jalan bergerigi dan tangga-tangga kayu mencari puncak di mana terakhir kali mendengar waktu berteriak. Aku bersumpah tak terbasuh, inilah uraian wasiat berbentuk bisik, membusuk di lemari sisikmu. Ah, aku tak meninggalkan pertikaian, sebab kutahu, tanpa kau tunggu pun aku bisa menyelinap lewat do'a-do'a dan renung siapa saja. Mendengar kesunyian terdalam hatimu dengan izin-izin yang selalu terbuka. Kudesaukan gairah akhir upayaku, bukankah begini maksudmu menelanku dari bingkai yang jauh jaraknya mengambil rata seluruh hunjaman perih pada belas kasih sang nafsu. Aku terperdaya di lapisan-lapisan gelembung kutukan irama. Sejengkal suaramu mendekat, berbisik, seperti tak berhalang kesukaran dan kesibukan. Aku lega dan tenang mendengar rindu samar-samar yang kau tebar lebar.
Beberapa waktu mati, ucapku. Kau menunduk seolah tau tentang pengalaman menuju tirai kematian. Tanpa senyum kau ucapkan bahwa suatu saat akan ada waktu yang hidup di sisiku, sebelum akhirnya aku mengunyah resiko-resiko, bebal, atau memaksakan diri tanpa mengerti situasi dan kondisi. Menghentakkan sepasang kaki mencairkan anarki. Aku suka begini, kau suka mencampurkan apapun yang tak mudah kulepaskan, kukerjakan, kuhentikan. Benar. Beberapa waktu mati, Deula. Temaram semangatku dikoyak api suratan kutukanmu. Hingga kuingat aku belum bisa mundur untuk kembali menyajikan luka impian zaman-zaman penuh ketegasan. Aku belum siap dicabut oleh nafas-nafasku sendiri, egois di atas keteguhan batin, tersiksa zuhud uraian lilin-lilin.
Prenduan, 13.08.2019 23.37


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?