Yahudi Tidak Membunuh, Tuhan yang Melakukannya
Oleh:
Mohammad Fuyudun Ni’am Imam.
“Aku bukanlah pembunuh, apapun yang membunuh kedua orang tuaku, itu
tidak ada hubungannya dengan Yahudi, itu hanyalah bukti kasih sayang Tuhan
padaku. Jika kau tidak mempercayainya, tunggulah, aku akan menyampaikan kasih
sayang-Nya padamu.”
Begitu banyak
kasih sayang Tuhan yang aku rasakan dalam hidup, termasuk dalam nama. Setiap
kali aku menyebutkan nama pertamaku, aku sudah terbiasa mendengar cekikikan
para wanita, dan aku juga tidak akan terkejut ketika kau memaksaku untuk
menyebutkan nama belakangku, kau akan mengernyitkan dahi menunjukkan rasa
heran, kemudian melanjutkannya dengan beberapa pertanyaan tidak perlu, seperti;
siapa gerangan yang tega menamaimu seperti itu? Atau, apakah ayahmu penganut
sekte segitiga? Aku juga tak akan terkejut kalau kemudian kau menjauhiku karena
sentimen tak berdasar yang, sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya denganku.
Ya, semua itu karena kasih sayang Tuhan yang menghendakiku menyandang nama ini;
Yakult Yahud.
Begitu
banyak kasih sayang Tuhan yang aku rasakan dalam hidup, termasuk dalam doa.
Saat aku masih kecil–tepatnya ketika berumur tiga belas tahun—aku
membuktikannya setelah dicaci maki oleh ayahku karena tak pulang selama dua
hari.
“Akhirnya pulang juga kau, anak anjing!” Ucap ayahku yang kemudian mengambil ikat
pinggang dan mendaratkannya padaku.
Ayahku
marah besar, dan ibuku mungkin sedang pergi ke masjid untuk menunaikan solat
Subuh –Barang tentu aku akan khawatir apabila yang mengatakan hal itu adalah
ibuku, karena jelas tak lucu kalau nama kebanggaanku akan diiringi dengan kisah
anak durhaka yang dikutuk jadi anak anjing. Aku ketakutan sekaligus tak henti
menyerukan sumpah serapah saat ayah memukuliku. Ia baru berhenti setelah Lelah
atau mungkin muak, kemudian menyuruhku pergi dari hadapannya. Aku masuk ke
dalam kamar dengan kesakitan sekaligus amarah. Setelah kejadian itu, aku pun berdoa
pada Tuhan agar dapat terbebas dari kekangan orang tua dan, betapa penyayangnya
Tuhan padaku, malam itu juga rumahku terbakar–mungkin lebih tepat disebut gubuk.
Aku, sebagai hamba yang disayangi Tuhan, adalah satu-satunya orang yang berhasil
selamat dari kebakaran itu. Aku menangis sejadi-jadinya, karena betapapun aku
mengharapkan sebuah kebebasan, aku tak pernah menginginkan orang tuaku mati. Dan
bila setelah mendengar cerita ini kau merasa iba, percayalah, sehebat apa pun
kau menertawakan namaku, aku tak akan pernah terhibur.
Sejak
kejadian itu, tetangga dan orang-orang selalu mengasihaniku, sampai pada suatu
saat, kerabat jauh tetanggaku memutuskan untuk merawatku. Ayahku–ayah baruku
tepatnya—tidak begitu banyak berbicara padaku, dan istrinya yang kini menjadi
ibuku memanggilku Musa setelah ia tahu nama belakangku. Ibu orang yang baik dan
perhatian, juga tak jarang ia memanjakanku, dan yang lebih penting, ia mengajarkanku
banyak hal. Ibu pernah mengatakan, “Kau bukan orang Yahudi, Nak. Yahudi adalah
kumpulan orang biadab yang membunuh utusan Tuhan.” Aku tidak mendebat perihal
ibuku yang, setelah mengetahui nama belakangku, kemudian ia seenaknya memanggilku
Musa. Atau tentang ia yang mengatakan bahwa aku bukanlah orang biadab yang
pantas menyandang nama Yahud. Namun, aku menolak saat ibu hendak mengganti
namaku dengan nama yang kelewat islami; Ahmad Hamid Hammad Muhammad Mahmud
Hammada. Kau tak perlu penjelasan mengapa aku menolak nama itu bukan?
Orang tua
baruku tidak menuntutku agar aku mau mengganti nama. Namun, hal itu tidak
berlangsung lama sampai pada suatu ketika, ibu menyarankanku untuk sekolah.
Seandainya ada sebuah sekolah yang dengan tangan terbuka menerimaku sebagai
murid, tentu perseteruan ini tidak akan terjadi.
“Dia harus mengganti namanya untuk bisa sekolah, Yah!”
“Tidak bisa begitu, bagaimanapun, nama itu adalah satu-satunya yang
tersisa dari orang tua kandungnya, Ma.”
Perdebatan
antara ayah dan ibuku yang tiada usai itu pun akhirnya menyerahkan segala
keputusan akhir padaku. Keeseokannya, setelah ayah pergi bekerja, ibu
menghampiriku di dalam kamar kemudian menanyakannya padaku.
“Kau ingin bersekolah, Nak?”
“Ya…”
“Bagus, itu artinya kau ingin mengganti nama.” Ucap ibu sambil
tersenyum puas.
Anjing. Ibu
pandai berkata-kata rupanya, dan aku kalah telak. Aku tidak suka dengan caranya
yang memutuskan secara sepihak bahwa aku ingin mengganti nama. Aku juga tak
akan menggantinya seandainya ibu tak memintaku untuk sekolah dan aku mengatakan
bahwa aku tidak menginginkannya. Bagaimanapun, bagiku, nama adalah satu-satunya
yang mengingatkanku pada kejadian malam itu. Dan yang lebih penting, nama ini
adalah bukti kasih sayang Tuhan padaku.
Ayah dengan
pasrah mengurus semua identitas baruku, ayah tahu bahwa aku tak benar-benar
ingin mengganti nama. Dan sejak saat itulah aku dipanggil Ahmad–nama yang
sangat islami. Aku tak akan menyebutkan nama lengkapku–selain untuk
mengucapkannya butuh banyak tenaga—kau hanya akan menertawainya. Sialnya, aku
disekolahkan di sekolah yang sama islamnya dengan namaku; SMP Muhammadiyah. Tentu
setelah ibu menguruskan ijazah SD–lebih tepatnya membeli ijazah untukku. Ibu
selalu menuntutku agar belajar setiap malam guna mengejar ketertinggalan, dan
ibu sendiri yang mengajariku. Kau harus tahu, walaupun aku tidak pernah sekolah
sebelumnya, aku bukanlah orang bodoh. Kasih sayang Tuhan selalu menyertaiku,
karenanya aku pintar dan dapat mengejar ketertinggalan. Bahkan, aku dapat
menyelesaikan Pendidikan SMP dalam waktu satu tahun.
Begitu
banyak kasih sayang Tuhan yang aku rasakan dalam hidup namun, tidak ketika aku
berganti nama. Kehidupanku bersama orang tua baruku baik-baik saja, tidak
sampai suatu ketika aku mengantar ibu berbelanja di Swalayan, dan seandainya aku
tak mengganti nama dan bersekolah, aku tak akan pernah membaca tulisan pada
botoh kecil berisi cairan berwarna putih kekuningan itu yang, anjing! ia
bernama Yakult. Semenjak aku mengganti nama, Tuhan menyiksaku dengan membuatku
berpikir begitu banyak hal tidak penting, kau hanya perlu tahu tentang kasih
sayang Tuhan padamu, tidak lebih. Namun, ketika kau memutuskan untuk belajar,
kau akan berani memikirkan kuasa, kesombongan, bahkan murka-Nya. Tentu saja, hal
ini tidak akan terjadi kalau seandainya aku tidak mengganti nama kemudian
belajar membaca Alquran yang salah satu ayatnya menjelaskan azab Tuhan yang
pedih.
Aku semakin
muak kala mengingat kembali orang-orang dan tetangga yang mengasihaniku saat
kebakaran gubuk terjadi. Tatapan iba, dan kata-kata hiburan agar bertabah terasa
menjijikkan saat melintas dalam bayanganku. Kasih sayang bukanlah hak manusia,
sama sekali bukan, kasih sayang hanyalah diperuntukkan pada hamba dari Tuhannya
dan, yang berhak mengasihiku hanyalah Tuhan, bukan manusia. Ibu menegurku saat
melihatku melamun di depan kulkas Swalayan.
“Kalau kau menginginkannya, ingat, itu produk Yahudi, buatan manusia
biadab!”
Astaga, demi
Tuhan yang menciptakan usus besar. Bagaimana bisa manusia ini, ibuku tepatnya, masih
sempat memikirkan itu dalam hal sepele seperti minuman!? Aku semakin membenci
ibuku, bukan hanya karena nama yang ia berikan membuatku kehilangan kasih
sayang Tuhan, tapi juga karena sikapnya yang selalu melibatkan Yahudi dalam
banyak hal.
Setiba di
rumah, ibu lantas pergi ke dapur untuk memasak bahan-bahan yang telah dibeli
untuk makan malam. Ayah berada di ruang keluarga, menonton televisi–barang kali
juga mencari isu-isu PKI. Aku menghampirinya, sejenak ikut menonton bersamanya.
Menonton berita memang selalu membosankan bagi anak kecil berumur empat belas
tahun, tak sampai lima menit aku pun pergi ke kamar. Karena tak tahu harus
melakukan apa, aku mondar-mandir mengitari seluruh rumah dan akhirnya kembali
lagi ke ruang keluarga.
“Yah, boleh minta uang?”
“Jangan lewatkan makan malam di rumah.” Ucap ayah sembari menyerahkan uang
Rp.50.000.
Aku
menyusuri jalan perumahan itu, dan entah hendak kugunakan untuk apa uang yang
diberikan ayah. Aku pun berjalan menuju Swalayan yang baru saja kudatangi
bersama ibu. Aku menyusurinya dan berhenti cukup lama di depan kulkas, lagi;
memandangi nama minuman berbotol kecil. Aku mengingat jelas larangan ibuku agar
tidak membeli, apalagi mengkonsumsi produk yahudi.
Mengingat kejadian itu, aku
ingin menguji kembali kasih sayang Tuhan, kemudian memohon agar Ia mengembalikan
namaku.
Makanan
sudah siap, ayah dan ibuku sudah menunggu di meja makan. Aku membawa susu
cokelat yang kubeli dari Swalayan, ibu menuangkannya dalam tiga gelas. Aku
mengambil posisi duduk kemudian meminum air putih terlebih dahulu, sebelum
akhirnya memakan lahap hidangan ibu. Selesai makan, aku pergi ke kamarku untuk tidur.
Ayahku pergi ke kamar terlebih dahulu setelah menghabiskan segelas susu
cokelat, sementara ibu lanjut mencuci piring sisa makan malam. Suara piring
beradu sudah tak terdengar dari dapur, mungkin ibu sudah menyusul ayah,
kemudian tertidur di dalam dapur.
WARKOP Mbah
Tjokro tampak ramai seperti biasa. Semua orang bersenang-senang dengan
perbincangannya masing-masing, sementara dua orang yang duduk di pojok ruangan warung
kopi terlihat serius. Mejanya sesak dengan dua bungkus rokok, minuman berbotol
kecil, satu laptop dan dua gelas kopi.
“Gila kau! Bocah biadab!” Ucapnya setelah beberapa lama melihat laptop.
“Ada yang salah?”
“Apa maksudmu dengan ada yang salah?”
“Kau tampak tak suka.”
Keduanya
saling diam, sementara tamu-tamu yang lain menimpali kediaman tersebut, suasana
tetaplah ramai. Seseorang yang terlihat kurang senang itu meletakkan laptop di
atas meja, kemudian mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
“Bukan begitu, apa maksudmu dengan Yakult Yahud?”
“Kau tak tahu kalau Yakult memang yahud?” Timpalnya seraya menunjuk botol kecil di
atas meja.
“Kau tidak sedang menghinaku bukan?” Tanyanya
bersungguh-sungguh. Sementara orang yang satu lagi tampak puas kemudian tertawa
lepas.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?