Spider-Man: Far From Home (2019) - Proyek Mendewasakan Bocah
Marvel Studios berinvestasi besar dalam pembuatan Avengers: Endgame (2019). Oleh karena itulah, untuk menyempurnakan perang Badar melawan kaum kafir pimpinan Thanos, Marvel menghadirkan wanita muda terlalu kuat bernama Carol Danvers, yang kemudian dijuluki Captain Marvel dan berada di urutan pertama presensi Avenger. Banyak yang menyayangkan kehadirannya di MCU, dengan alasan Marvel tak punya jurus rahasia selain time travel. Atau tokoh ini terlalu kuat, entah dalam segi penokohan atau penceritaan. Meski begitu, Endgame cukup sukses. Durasi film yang terlalu panjang tidak menyurutkan animo penggemar setianya untuk beri'tikaf di studio bioskop.
Salah satu investasi Marvel untuk Endgame adalah Spiderman. Ya, tokoh yang di-reboot lagi untuk versi keduanya ini muncul sejak Captain America: Civil War. Kehadirannya cukup menyejukkan suasana: bocah SMA pintar yang referensi filmnya cukup banyak. Setelah itu, ia dihadirkan kembali dengan solo movie Spiderman: Homecoming. Tagline 'Homecoming' adalah salah satu cara Marvel berselebrasi setelah berhasil mengembalikan tokoh fenomenal ini ke MCU. Sebagaimana kita ketahui bersama, Sony masih punya hak atas Spiderman hingga Far For Home. Bahkan mungkin untuk selanjutnya.
Toh, di pihak lain Sony juga punya proyek mengumpulkan villain Spiderman, dimulai dari Venom (2018) dan dilanjutkan Spiderman: Into The Spider-Verse (2018). Saya melihat pertaarungan dua studio ini sangat keras. Wajar. Spider-Man adalah tokoh komik yang sangat melegenda. Anda boleh saja tidak tidak tahu-menahu tentang Avenger beserta kru lengkapnya. Tapi anda harus tahu Spider-Man. Kalau tidak, anda benar-benar manusia gua. Yang baru muncul di abad ke-21 setelah mendengar teriakan histeris orang-orang yang menangisi kematian Iron Man.
Baca Juga: Bagaimana Keberanian dan Kesatriaan Bumblebee Diuji di Filmnya Sendiri
Cerita
Kisah bermula dari sebuah desa di Meksiko yang hancur lebur rata dengan tanah akibat serangan topan berwajah. Nick Fury (Samuel L. Jackson) dan Maria Hill (Cobie Smulders) mencoba menyelediki penyebab kehancuran itu ketika seorang yang misterius datang. Di sisi lain, kelompok ilmiah SMA tempat Peter Parker (Tom Holland) bersekolah mengadakan trip ke Eropa. Peter Parker berencana menembak MJ (Zendaya) di Paris bersama rencana-rencana romantis lainnya. Sayangnya, Nick Fury berusaha mengontaknya dengan nomor tak dikenal. Berusaha fokus pada liburan, Peter Parker tidak membawa satupun kostum Spideynya dalam koper.
Hari pertama Peter menginjakkan kaki di Eropa, ia sudah dikejutkan dengan kemunculan monster air. Di situlah ia berkenalan dengan Quentin Beck (Jake Gyllenhall), tokoh misterius yang dijuluki Mysterio oleh penduduk setempat dan berhasil mengehentikan monster elemental. Tak dinyana, Spider-Man diajak untuk ikut serta memberantas Elemental. Nick Fury tak punya pilihan lain karena semua pahlawan yang turut serta dalam Endgam tak bisa dihubungi atau sibuk. Tak mau liburannya diganggu, Peter menolak. Ia lebih memilih liburan dengan seabrek rencananya menembak MJ. Sebagai sosok yang keras kepala, Nick Fury melakukan tindakan yang sangat nekat.
Ia membajak liburan Peter Parker dan teman-temannya.
Dalam film inilah Peter Parker sebagai The Friendly Neighborhood Spider-Man diuji. Pantaskah ia menggantikan Iron Man dan memimpin Avenger generasi selanjutnya.
Tokoh
Marvel tidak banyak memberikan ruang untuk tokoh baru. Sejauh ini, yang dilakukan Marvel hanyalah mengembangkan tokoh-tokoh yang sudah ada sebelumnya: Maria Hill yang dipanggil "Mom" oleh Peter lebih banyak berinteraksi dalam film, hubungan asmara antara Aunt May (Marisa Tomei) dan Happy Hogan (Jon Favreau) semakin erat, dan juga cinlok antara Ned (Jacob Batalon) dengan Betty (Angourie Rice) yang kocak. Dengan rating SU (Semua Umur), Jon Watts menghadirkan kisah Spider-Man yang menyenangkan, dengan tokoh-tokoh muda sesuai dengan latar Peter Parker: SMA. Wajah-wajah baru dunia Marvel yang dihadirkan tidak membosankan sama sekali.
Di adegan terakhir, setelah dua sesi kredit, wajah lama muncul. Dia adalah reporter J. Jonah Jameson yang memimpin surat kabar The Daily Buggle, perusahaan tempat Spider-Man versi Tobey Maguire bekerja. Dulu, dia adalah salah satu sosok non-villain yang dibenci fans. Dan kini ia kembali dengan cara yang menyebalkan: memberitakan bahwasanya sosok dibalik topeng spandex Spider-Man adalah Peter Parker.
Baca Juga: Batman: Assault on Arkham (2014) - The Better Suicide Squad
Bintang Empat
Secara umum, film ini bertujuan untuk mengembangkan sosok Spider-Man. Tidak hanya bocah enam belas tahun yang mendaku diri sebagai the friendly neighborhood spidey, tetapi juga menjadikannya lebih memaksimalkan potensi. Meski tak dijadikan prajurit sebagaimana bocah-bocah Xavier di serial X-Men, Peter di sini mendapat Nick Fury yang akan menjadi mentornya. Dalam adaptasi komik seperti animasi, Peter Parker dipasangkan dengan Nova, White Tiger dan berbagai hero muda lain untuk menjadi Next Avenger. Nick Fury sebagai direktur SHIELD lah yang bertanggung jawab atas pelatihan mereka.
Mysterio sebagai tokoh antagonis sudah diprediksi sejak lama, meskipun ia tampak membantu Spider-Man di trailer. Toh, akhirnya terbukti bahwasanya ia adalah mantan karyawan Tony Stark yang membenci bosnya dan maniak ilusi. Spider-Man berhadapan dengan lawan yang sepantaran: sesama ahli teknologi. Dan sebagai superhero yang bermodalkan jaring dan sticky, Spider-Man pantas mendapatkan lawan seperti itu.
Secara keseluruhan, saya memberi bintang empat untuk film ini. Dua sampai tiga menit awal dari film ini terlalu acak dan cepat, seolah-olah terburu tenggat waktu. Selebihnya, film ini bagus. Memukau. Khas anak muda. Tapi tak cukup jika diberi rating SU. Adegan ciumannya lolos di hadapan LSF, padahal dua kali. Wuhaha...



Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?