Sejarah Teori Antropologi I: Bab I - Sebuah Pendahuluan


Etnografi dan Masalah Aneka Warna Manusia

Pada mulanya, kemunculan ilmu antropologi sangat bernafas eropa-sentris, yang mana selalu menganggap bahwa Eropa adalah pusat peradaban dumia. Hal itu didukung dengan adanya dua paham, yaitu polygenesis: pandangan bahwa ras kaukasoid dengan kebudayaannya lebih tinggi dan mulia daripada ras manusia lain monogenesis: pandangan bahwa manusia selain eropa itu terbelakang dan kebudayaan eropa lebih tinggi.

Bagaimana mereka mendapat kesimpulan seperti itu? Tentu saja melihat bentuk dan cara kehidupan mereka yang tidak lagi menggunakan cara-cara lama dalam mendapatkan makanan. Selain itu, bangsa Eropa juga tidak luput dalam melihat ciri-ciri fisik manusia di luar ras Kaukasoid. Oleh karena itulah, muncul ilmu antropologi fisik sebagai hasil dari komparasi ciri-ciri fisik manusia.

Meski begitu, sebagai praktisi dalam filsafat sosial, maka para ilmuwan sosial menggunakan metode-metode eksak untuk mendapatkan kesimpulan general terhadap fenomena sosial yang terjadi. Hal itulah yang kemudian memunculkan berbagai kesimpulan tentang keanekaragaman warna kulit seperti: dipengaruhi oleh sejarah, lingkungan alam, dan struktur intern. Ada pula yang berpendapat bahwa warna kulit terlepas dari variabel budaya.

Penggunaan metode eksak yang umumnya digunakan untuk sains itu, kemudian disebut sebagai filsafat positivisme. Pertama kali digunakan oleh Auguste Comte dalam melihat perubahan sosial dalam masyarakat yang disebutnya sosiologi dinamika. Ia kemudian menyimpulkan bahwa ada tiga tahap hubungan manusia terhadap gajala alam maupun sosialnya. Tahap pertama adalah tahap teologis yang mana manusia selalu menyandarkan segala hal pada eksistensi Tuhan. Tahap kedua adalah metafisis yang mana manusia mendifinisikan suatu kejadian bersumber dari kekuatan gaib yang abstrak. Dan yang terakhir adalah tahap sains yang mana manusia mencoba untuk menerangkan gejala alam dan sosial dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Demikianlah contoh bagaimana filsafat postivisme berperan dalam perkembangan awal ilmu sosial.

Dalam keanakeragaman bahasa, para ilmuwan sosial seperti sosiolog dan antropolog menelusuri catatan-catatan etnografis para penjelajah. Kemudian muncullah perbandingan-perbandingan bahasa yang bertujuan untuk mengungkap sejarah dan asal-usulnya. Produk yang dihasilkan dari ilmu linguistic itu adalah kamus-kamus yang secara dasar mencatat bahasa penutur untuk mengungkap kekayaan kosakata maupun kamus bahasa lain yang dipadankan dengan bahasa Inggris.

Selain budaya, antropologi juga perlu mengulas sisi lain dari manusia, yaitu sisi biologisnya. Oleh karena itulah, kemunculan grand theory Evolusi yang dicetuskan oleh Charles Darwin (juga Wallace) menjadi sangat berpengaruh pada antropologi karena –setidaknya- berhasil mengungkap asal-usul manusia. Meskipun pada perkembangannya banyak mengasilkan miskonsepsi sehingga masih banyak orang yang tidak percaya, tapi di kalangan ilmuwan, ini adalah kemajuan besar. Kemunculan teori evolusi menjadi titik tolak perkembangan biologi dan antropologi secara pesat.

Mengapa teori Evolusi sangat berarti dalam perkembangan ilmu pengetahuan? Karena hingga saat ini, para ilmuwan belum dapat memastikan asal-usul manusia berasal dari Nabi Adam sebagaimana disebutkan dalam kitab suci agama-agama samawi. Oleh karena itulah, penelitian terhadap fosil-fosil manusia dalam ilmu paleoantropologi sangat berpengaruh terhadap menjawab asal-usul manusia. Belum lagi, teori evolusi juga menjadi pijakan utama dalam perkembangan itu.

Dalam mengembangkan ilmu antropologi, maka dibutuhkanlah pusat-pusat pembelajaran berbentuk lembaga penelitian yang mana bertugas mengumpulkan catatan-catatan etnografi dari setiap bangsa di dunia. Dari sinilah kemudian muncul istilah etnologi, yang mana berarti ilmu tentang pencatatan suku bangsa. Meski begitu, eksistensi istilah etnlogi kemudian tergantikan oleh sosiologi, yang mempelajari manusia dari aspek interaksi sosial, dan antropologi yang mempelajari manusia secara holistik. 


Teori-Teori Evolusi Kebudayaan

Evolusi, yang memengaruhi banyak ilmuwan besar pada abad ke-19, merupakan konsepsi tentang bagaimana masyarakat secara umum, berkembang dari kebudayaan sederhana menuju ke arah yang lebih kompleks dalam kurun waktu yang lama. Berdasarkan konsepsi tersebut, maka banyak antropolog awal mula menganggap kebudayaan di luar Eropa adalah bentuk kebudayaan primitive karena lebih sederhana. Meskipun sudut pandangnya yang subjektif, tetapi dari situlah kemudian ilmu antropologi muncul sebagai sains yang mempelajari manusia secara holistic.

Salah satu ilmuwan sosial itu adalah Herbert Spencer (1820-1903) yang menyebut bidangnya sendiri sebagai sosiologi – meskipun pada akhirnya banyak ilmuwan sosial lain yang menganggapnya lebih ke arah antropologis. Konsepsi evolusinya adalah evolusi universal yang mana setiap benda di dunia ini, organis maupun non-organis berevolusi karena didorong oleh kekuatan mutlak alam semesta. Termasuk setiap manusia dan kebudayaannya berevolusi melalui tahap-tahap yang dalam kurun waktu yang berbeda-beda. Teori evolusi universal itu kemudian dia terapkan dalam pemahaman religi layaknya E.B. Taylor dan juga evolusi hukum. Menurutnya, hukum dalam kehidupan manusia telah berevolusi sedemikian rupa dari hukum yang keramat, kemudian hukum berdasar agama, dan hukum perwakilan masyarakat. Untuk itu, teori evolusi memegang satu prinsip utama, yaitu yang kuat adalah yang mampu bertahan.

Ilmuwan sosial lain adalah JJ. Bachofen, seorang ahli hukum asal Jerman yang mempelajari lebih dalam evolusi hukum Herbert Spencer. Ia juga turut mengemukakan teorinya tentang evolusi keluarga berdasar penelitiannya terhadap etnografi dari Asia, Afrika, dan Indian Amerika. Ia mengemukakan dengan detail bagaimana keluarga dalam masyarakat lama terbentuk  hingga benrtuk keluarga modern.

Di Indonesia, teori evolusi mendapat tempatnya dalam pandang kebudayaan yang dicatat oleh G.A. Wilken (1847-1891) sebagai pamong praja pemerintah kolonial Belanda. Karangannya itu antara lain terkait dengan budaya masyarakat Indonesia yang kemudian dikomparasikan dengan berbagai literatur etnografi dari berbagai daerah lain. Tak luput pula ia mengambil teori-teori yang telah berkembang sebelumnya untuk menjadi landasannya dalam menulis etnografi Indonesia.

Di Amerika, muncul Lewis H. Morgan (1818-1881), seorang ahli hukum yang menjadi pengacara dalam kasus sengketa tanah warga Indian Amerika. Karena keterlibatannya dalam kehidupan Indian yang cukup tinggi, maka ia pun menulis budaya mereka dalam sistem kekerabatan. Hal ini cukup membantunya dalam memahami kebudayaan Indian dan juga memperkaya referensi tentang masyarakat Indian yang waktu itu dikenal barbar.

Ia juga termasuk tokoh yang memercayai evolusi kebudayaan dan mengurutkan teori evolusi kebudayaan versinya sendiri. Dalam hal ini, ia mendapatkan delapan tahap yang mana merupakan hasil dari pengembangan tiga tahap Savagery, Barbarism, dan Civilization. Di negaranya, ia tidak cukup popular meskipun meskipun memiliki banyak pengetahuan tentan Indian Amerika. Penghormatan kepadanya didapatkan di Uni Soviet yang kini menjadi Rusia.

Teori Evolusi lain dikemukakan oleh E.B. Taylor yang menjabarkan evolusi kepercayaan atau religi. Menurutnya, ada dua sumber utama manusia dalam mendapatkan kepercayaan, yaitu melalui spirit atau roh dan juga mimpi. Dari dua hal tersebut, manusia kemudian melalui jalan evolusi religinya dengan personifikasi benda-benda yang terlihat hingga akhirnya pada sosok dengan kekuatan terbesar, yaitu alam semesta.


Teori yang sama dikemukakan oleh J.G. Frazer (1854-1941) yang meneliti evolusi pemikiran hal gaib dan religi. Menurutnya, akal manusia yang terbatas untuk memahami gejala alam membuat manusia menyandarkan pemahamannya kepada hal gaib yang mistik. Di tahap selanjutnya, manusia mulai menyerahkan pemahamannya terhadap keberadaan sosok yang berkuasa yang kemudian disebut Tuhan.

Sayangnya, teori evolusi perlahan mulai menghilang dan tergantikan dengan adanya teori-teori lain yang dianggap lebih sesuai dengan pemikiran zaman. Hal ini dikarenakan asal-usul teori Evolusi mayoritas berasal dari konstruksi pemikiran berdasar catatan etnografi saja, tidak melihat fakta lapangan. Sedangkan, di sisi lain, teknik dan metode penelitian yang semakin berkembang juga turut memengaruhi berkurangnya pemikiran evolusi meskipun tetap dipakai oleh beberapa pihak.

Teori-Teori Difusi Kebudayaan

Adanya fenomena kesamaan budaya antara dua tempat atau lebih dengan jarak yang jauh antara satu sama lain membuat para peneliti secara khusu tertarik dengan hal itu. Teori evolusi digunakan untuk menjelaskan permasalahan itu dengan alasan setiap kebudayaan melewati tahap-tahap yang sama dalam evolusi kebudayaan. Karena tidak terlalu kuat, maka muncullah teori difusi yang menyatakan bahwa kebudayaan itu menyebar sesuai dengan jarak radiusnya.

Hal yang diamati adalah bentuk-bentuk kebudayaan seperti produk budaya materiil. Muncul kemudian teori bahwa manusia berasal dari satu tempat yang sama dan menyebar ke seluruh penjuru. Tugas peneliti selanjutnya adalah untuk memetakan perpindahan dan persebaran kebudayaan tersebut untuk mendapatkan informasi lengkapnya.

Untuk mendapatkan informasi lengkapnya, maka peneliti membutuhkan metode khusus untuk mengklasifikasi unsur-unsur kebudayaan yang mengalami difusi. Metode itu disebut Kulturkreis. Metode ini pun tidak lepas dari cacat sehingga masih banyak peneliti lain yang tidak setuju.

Di sisi lain, Teori Difusi digunakan Schimdt untuk mempelajari konsep religi secara lebih mendalam. Ia lah yang kemudian menolak adanya anggapan bahwa konsep monoteisme adalah bentuk kebudayaan yang baru. Ia malah menganggap bahwa monoteisme adalah awal mula sejarah konsep religi umat manusia yang kemudian menghilang digantikan politeisme dan ateisme.

Ada pula W.H.R Rivers (1864-1922) yang memunculkan metode baru dalam penelitian Antropologi, yaitu genealogical method. Melalui metode ini, peneliti dapat mengetahui daftar asal-usul individu maupun masyarakat. Cara utamanya adalah wawancara sebagai dasar, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan suku bangsa maupun keluarga.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir