Petualangan Hari Ini: Perpustakaan UIN Sunan Ampel
Esoknya, saya utarakan ide itu ke Abi. Tak disangka, Abi memberikan ide yang lebih bagus, "Kenapa gak di perpus UINSA aja?" Saya pun setuju. Sudah sering ke UIN untuk membantu Abi mengurus membersihkan kantin. Atau sekedar melayani pembayaran di kasir. Maka hari Selasa ini pun saya ikut Abi ke UIN, untuk mengunjungi perpus.
Abi sudah lama di UIN. Maka, dia pun memiliki banyak relasi, termasuk di Perpustakaan UINSA. Saya diantar oleh salah satu teman Abi untuk berkeliling. Koleksi bukunya berada di lantai dua, dan saya memilih di ruangan koleksi umum. Sebagai kampus berbasis keislaman, UIN memiliki koleksi buku berbahasa arab yang lengkap. Bukan hanya buku agama, juga buku bertema sains, matematika, sastra, dan ilmu-ilmu sosial.
Saya berkeliling rak, megamati satu per satu buku. Tak dinyana, saya mendapati buku-buku antropologi: Antropologi Struktural yang ditulis Claude Levi-Strauss, Antropologi Biologi (Geoffrey Pope), Physical Anthropology (Annual Editions), Antropologi Metafisik dan satu buku Pithecanthropus yang menuliskan sejarah penemuan Eugene Dubois. Di bagian Epidemiologi, ada juga yang berjudul Epidimiologi dan Antropologi: Suatu Pendekatan Inegratif mengenai Kesehatan (Buchari Lapau dan Achmad Fedyani Saifudin). Dari semua buku itu, saya membaca bab pertamanya saja. Merasa mengantuk saya berkeliling lagi.
Di bagian agak ke belakang, saya menemukan buku-buku sastra. Dan sejujurnya, sastra adalah bagian dari kehidupan saya sejak sekolah. Sastra tempat menusia menemukan jati drinya, atau dirinya yang lain, sehingga menjadi tempat berpaling dari dunia nyata. Saya mendalami sastra jauh sebelum teman-teman saya hanya bisa membuat puisi untuk status WA, atau video pendek (yang tidak naratif sama sekali). Di saat teman-teman saya fokus pada ujian nasional, saya membaca Ranah Tiga Warna (Ahmad Fuadi). Di SMP, saya sibuk mengkhatamkan Inferno (Dan Brown) dan mencari-cari puisi Dante yang melegenda itu. Di UNBK semasa SMA, saya mengaji setelah menjawab semua pertanyaan on-line: Al-Qur'an adalah karya sastra Ilahi, dan saya mengaji bukan karena sastra. Saya mengaji sebagai persiapan syarat lulus pondok.
Saya lebih banyak menghabiskan waktu dalam buku-buku sastra: kumpulan puisi Raudal Tanjung Banua, kumpulan Esai Horison, dan kritik seni seorang katolik. Saya lupa namanya. Yang saya ingat, dia menelaah puisi Rendra di bab awal bukunya. Membaca kembali buku-buku sastra, membuat saya ingin kabur dari permasalahan dunia nyata: jumlah sks semester tiga, tugas kepanitiaan, dan lain sebagainya. Tapi sebaiknya tidak begitu. Dunia nyata memberikan kita makan, dan setidaknya kita membersekannya sendiri.
Menjelang duhur, saya pergi ke Masjid Ulul Albab untuk menunggu waktu masuk sholat. Selepas sholat, saya hendak kembali ke kantin, ketika seseorang memanggil. Dan ternyata dia adalah seorang adik kelas di Muqoddasah dulu. Namanya Arin, asal Trenggalek. Kami mengobrol sebentar tentang tujuannya di Surabaya: mendaftar di kampus Islam kapitalis ini melalui jalur mandiri. Saya kaget. Saya doakan saja agar ia mampu membayarnya. Arin bersama seorang kakak kelas yang ternyata jika ditelusuri merupakan teman seangkatan saya. Febri namanya. Dia kuliah di UIN, mengambil prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Selesai mengobrol, kami berpisah. Saya agak canggung juga bertemu teman-teman dari MQ. Hehe.
Entah ke mana lagi saya bisa bertualang esok hari. Semoga Allah mengizinkan saya menjelajahi ruang-ruang yang menyenangkan.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?