Paradigma, Epistemologi, dan Etnografi dalam Antropologi by Heddy Shri Ahimsa-Putra: Review
Pendahuluan
Antropologi, sebagai sebuah
disiplin ilmu yang cukup baru, telah berkembang sedemikian rupa hingga memiliki
peran penting dalam internalisasi bidang itu sendiri maupun terhadap
bidang-bidang lain yang dipengaruhi. Tujuan ditulisnya makalah ini adalah untuk
menjelaskan dan menjabarkan definisi dari setiap istilah dengan
sedetail-detailnya menggunakan berbagai perspektif seperti unsur-unsur yang
mendukung dan sejarah pembentukannya. Berbicara tentang paradigma, tidak bisa
lepas dari nama Thomas Kuhn yang telah melahirkan kalimat itu tanpa memberi
penjelasan atau definisi yang pasti apa itu paradigma.
Sebagai ilmu pengetahuan yang
logis dan rasional, maka mau tak mau antropologi musti memiliki metode yang
mumpuni meskipun berbeda dengan metode penelitian ilmu sosial lainnya. Dan
dalam membangun metode itu, maka diperlukan adanya paradigma dalam antropologi
yang kemudian akan memunculkan epistemologinya. Dari berbagai penelitian yang
dilakukan, maka muncullah hasil penelitian berupa etnografi. Makalah ini
berusaha menjelaskan setiap aspek dari paradigma, epistemologi, dan etnografi
dalam antropologi itu menggunakan penjelasan yang runut dan tertib sehingga
dapat ditelaah secara mudah.
Paradigma
Hal yang pertama dibahas adalah
paradigma dan definisinya. Sebagaimana diketahui, Thomas Kuhn, dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution,
menjelaskan tentang kebenaran sains yang terus berubah atau terus bergeser
meskipun fakta yang ada tetaplah sama. Hal ini yang kemudian ia sebut sebagai
paradigma. (Nurkhalis, 2012) Meskipun pada tampak
luarnya, beberapa pandangan terhadap sains itu selalu dianggap sebagai suatu
perbaikan atau improvisasi.
Secara sederhana, paradigma juga
disebut sebagai sudut pandang. Ide inilah yang juga diambil oleh pemakalah
untuk menjelaskan apa arti paradigma dari sekian banyak istilah yang digunakan.
Hanya saja, paradigma tidak berhenti sebagai sudut pandang ilmuwan untuk
meneliti ataupun memulai penelitian. Paradigma itu juga diikuti oleh serangkaian
cara berpikir ilmiah dan terstruktur sehingga dapat melakukan penelitian dengan
konsep yang sama. (Dr. Agus Salim, 2006)
Sehingga, dalam merumuskan
definisi paradigma, pemakalah menulisnya dengan: “Seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis
membentuk sebuah kerangka pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan
dan menjelaskan kenyataan dan/atau masalah yang dihadapi.” Seperangkat
konsep itu, kemudian dijabarkan dengan memasukkan unsur-unsur yang berkaitan,
yaitu: asumsi/anggapan dasar, etos/nilai, model, objek penelitian, konsep
pokok, metode penelitian, metode analisis, hasil analisis/teori dan terakhir
etnografi sebagai hasil final paradigma itu.
Secara tidak langsung, paradigma
adalah penelitian itu sendiri: sejak peneliti merasa penasaran dan menginginkan
pengetahuan terkait sesuatu yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Sehingga
menghasilkan kebenaran dan fakta sains yang kemudian dicoba oleh peneliti lain
menggunakan metode yang sama maupun berbeda. Perbedaan pandangan itu, mungkin
tampak melengkapi, tapi sebenarnya merupakan pergeseran pandangan. Perbedaan
pandangan menghasilkan perbedaan paradigma, sehingga hasilnya juga berbeda.
Oleh karena itulah, paradigma dapat disebut juga penelitian itu sendiri.
Perkembangan-perkembangan
setiap paradigma itulah yang disebut revolusi: perubahan-perubahan yang terjadi
terus menerus. Peran paradigma dalam perkembangan ilmu pengetahuan itu adalah
agar ilmu pengetahuan (sains) tidak kehilangan arahnya dan tetap berada pada
jalur yang terus menerus berkembang. Dan antropologi, yang merupakan ilmu pengetahuan
(sains) baru di dua abad terakhir, berusaha mengembangkan paradigma-paradigma
yang sifatnya melengkapi, menambahi, maupun menolak paradigma lainnya.
Di antara
paradigma-paradigma itu, antara lain: Evolusi, Difusi, Partikular Historis,
Funsional, Analisis Variabel, Croos-culture,
Kepribadian dan Kebudayaan, Struktural, Tafsir Kebudayaan, Material Budaya,
Material Historis, Etnosains, Konstruksi, Actor-oriented,
dan Post-modern. Dalam pembelajaran atropologi, paradigma itu juga dapat
disebut sebagai teori ‘pernyataan tentang sesuatu yang telah terbukti
kebenarannya melalui penelitian ilmiah’. Dan setiap paradigma atau teori itu,
saling berhubungan satu sama lain sesuai dengan sejarahnya.
Secara
cukup lengkap, pemakalah menjabarkan sejarah munculnya paradigma demi paradigma
secara runut dan detail yang disebutnya melalui paparan historis. Dari
munculnya evolusi kebudayaan oleh E.B. Taylor yang kemudian dikembangkan L.H
Morgan setiap babaknya hingga paradigma antropologi-interpretif yang
terinspirasi dari kajian sastra. Di antara jalan panjang pergumulan paradigma
itu, revolusi ilmu pengetahuan (sains) antropologi terus berjalan sehingga
muncul pula paradigma-paradigma baru yang tidak bisa menafikan paradigma lama. Oleh
karena itulah, ada baiknya bagi kita untuk memahami paradigma-paradigma
antropologi demi perkembangan ilmu itu sendiri.
Epistemologi
Epistemologi secara sederhana
berarti teori tentang pengetahuan yang bersifat filosofis dan metodologis. Dalam
berbagai ilmu pengetahuan, epistemologi mempertanyakan hakikat ilmu pengetahuan
itu sendiri, selain juga dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. (Prof. Dr.
Apollo Daito, 2011) Kaitannya dengan paradigma adalah,
bagaimana hakikat hubungan antara pencari ilmu dan objek yang ditemukan (Dr. Agus
Salim, 2006)
sehingga dapat ditemukan paradigma yang tepat bagi keduanya.
Karena bersifat filosofis, maka epistemologi
menyangkut pada hal-hal yang bersifat implisit dari paradigma: asumsi dasar,
etos/nilai, dan model. Untuk memetakan paradigma, maka diperlukan pemetaan
asumsi dasar dari setiap paradigma dengan menggunakan landasan-landasan
filosofisnya: basis pengetahuan, manusia, objek material, ilmu pengetahuan,
ilmu sosial/budaya, dan disiplin ilmu.
Dari sekian asumsi yang ada,
maka dapat diambil tujuh epistemologi yang kemudian bercabang membentuk
paradigma: Positivisme, Historisisme, Fenomenologi, Hermeneutik, Strukturalisme
(Semiotika), Materialisme Historis dan Post-Modernisme. Dari epistemologi
berikut, maka terbentuklah paradigma-paradigma sebagaimana yang telah disebut
sebelumnya.
Sebagai sebuah bentuk
pengambilan kesimpulan yang sederhana, apa yang pemakalah simpulkan dari
uraiannya tentang epistemologi dan
kaitannya dengan paradigma masih dapat diperdebatkan. Tapi hal ini wajar
dan lazim, sebagaimana perkembangan ilmu pengetahuan lain yang tidak dapat
dipisahkan dari perdebatan dan perselisihan pendapat antar-ilmuwannya. Oleh
karena itulah, ilmu pengetahuan dapat berkembang secara terus-menerus.
Etnografi
Secara
sederhana dapat dikatakan bahwa etnografi adalah tulisan, deskripsi atau penggambaran
mengenai suatu sukubangsa tertentu. Deskripsi itu pun dimulai dengan
menggambarkan ciri-ciri fisik sebagai dasar penulisan karena sifatnya yang
tampak. Selanjutnya, etnografi diperluas bidangnya dengan menulis pula
aspek-aspek budaya berupa produk budaya, adat-istiadat, dan ide budaya.
Langkah dasar dalam penulisan etnografi adalah
pengenalan bahasa. Etnografer sebagai penulis haruslah memahami setiap aspek
dari kebudayaan suatu suku bangsa dan hal itu dimulai dengan bahasa sebagai
syarat utama komunikasi. Tanpa bahasa, penulisan etnografi tidak akan dapat
dimulai atau jika dimulai akan mengalami bias budaya yang hanya menghasilkan
subjektivitas etik. Alhasil, etnografi itu tidak sempurna dan tidak dapat
menjadi referensi budaya.
Karena berbentuk tulisan, maka
mau tak mau etnografer mustilah berbaur dan berinteraksi dengan suku bangsa
yang diteliti. Penggunaan budaya tulis untuk menggambarkan kebudayaan sangatlah
penting mengingat perkembangan teknologi fotografi tetap tidak bisa
menggambarkan keseluruhan kebudayaan secara utuh. Karena dalam setiap kebudayaan
tidak hanya ada budaya tampak berupa material maupun adat-istiadat, tetapi juga
ada budaya abstrak berupa ide, gagasan, dan kepercayaan tertentu yang hanya
dapat disampaikan secara utuh melalui tulisan.
Bentuk etnografi itu pun dapat terbagi menjadi
tiga macam bentuk: artikel sederhana, jurnal ilmiah, atau monograf, yang mana
ketiganya tetaplah berupa etnografi dengan karakteristik masing-masing. Artikel
sederhana hanya dapat menjelaskan unsur-unsur atau aspek-aspek tertentu saja
secara mendalam dan biasanya merupakan hasil dari penelitian yang singkat.
Sedangkan jurnal ilmiah menjelaskan aspek-aspek budaya suatu suku bangsa secara
mendalam dan merupakan hasil dari penelitian yang cukup panjang. Dan yang
terakhir, etnografi berupa buku atau monograf adalah sumber utama dalam
antropologi dan merupakan hasil penelitian yang panjang nan holistik karena
tidak hanya membicarakan satu atau dua aspek, kebudayaan melainkan juga
hubungan antar aspek yang membentuk identitas dan kebudayaan suatu suku bangsa.
Etnografi sangatlah penting
karena merupakan bukti eksistensi dari paradigma karena etnografi adalah bagian
darinya. Dan suatu paradigma dapat dibuktikan dengan etnografi. Sayangnya,
tidak banyak etnografi yang tersedia di Indonesia ataupun yang tersedia dalam
bahasa Indonesia meskipun jenjang pendidikan pascasarjana telah tersedia dan
‘menguat’. Hal ini merupakan suatu kekurangan tersendiri yang harus diperbaiki
dalam perkembangan ilmu antropologi ke depannya sehingga antropolog tidak
kekurangan referensi.
Penutup
Makalah ini
sebagaimana telah disebutkan dalam Pendahuluan, berusaha menjelaskan bagaimana
paradigma terbentuk dan penting adanya demi perkembangan ilmu pengetahuan.
Paradigma mengandung unsur-unsur dasar yang menjadi landasan filosofisnya yang kemudian
disebut sebagai epistemologi. Kedua hal itu sangat berkaitan karena epistemologi
adalah dasar filosofis paradigma. Dan hasil dari paradigma itu disebut dengan
etnografi, yaitu tulisan yang menggambarkan atau mendefinisikan suatu aspek
atau keseluruhan aspek dari kebudayaan suatu suku bangsa.
Poin lebih
dari makalah ini adalah penjelasannya yang runut dan mendetail, sehingga dapat
memberikan gambaran jelas apa yang hendak disampaikan dari suatu hal yang
abstrak. Sayangnya, ditulisnya makalah ini sebagai bahan ceramah membuatnya
terasa lebih verbal daripada tekstual dengan adanya pengulangan istilah yang
sama. Secara keseluruhan, makalah ini tetap dapat dijadikan referensi dengan
dukungan beberapa referensi utama dengan tema yang sama.
Bibliography
Dr. Agus Salim, M. (2006). Teori dan Paradigma
Penelitian Sosial. Yogyakarta: Penerbitan Tiara Wacana.
Nurkhalis. (2012). Konstruksi Teori Paradigma
Thomas S. Kuhn. Islam Futura, 79-99.
Prof. Dr. Apollo Daito, S. M. (2011). Pencarian
Ilmu Melalui Pendekatan Ontologi, Epistimologi, Aksiologi. Jakarta:
Penerbit Mitra wacana Media.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?