Menelisik Godzilla: King of The Monsters (2019) yang Penuh Ketegangan
Ketika Godzilla: King of The Monsters (2019) mulai tayang di bioskop, Tirto.id menulis review yang kritik utamanya berkisar pada penulisan naskah film yang agak berantakan. Terutama, bagaimana sebuah film dengan yang mengisahkan karakter legendaris ini malah diceritakan dari sudut pandang sebuah keluarga. Ini film keluarga atau monster?
Bagi saya, ini film tentang keduanya.
Cerita
Sembari menunggu film kedua ini muncul dengan kualitas terbaik di situs bajakan, saya menonton dahulu kisah pertamanya yang rilis pada 2014. Saat itu, kisah dinarasikan dari sudut pandang Ford Brody (Aaron Taylor-Jhonson) yang kehilangan ibunya karena insiden meledaknya PLTN. Ayahnya yang penasaran pun berkali-kali ditangkap karena memasuki kawasan ilegal. Dengan bantuan ayahnya, ia pun ikut menyelidiki apa yang sebenarnya menjadi penyebab ledakan PLTN Jepang itu.
Dari situlah cerita tentang Monarch dan Godzilla bermula.
Kali ini, seorang ilmuwan yang kehilangan anak lelakinya akibat insiden Godzilla di film pertama, berusaha membangkitkan semua monster Monarch. Ia bergabung dengan seorang eco-terorist (?) yang berambisi mengembalikan tatanan alam. Dengan alat bio-akustiknya yang dinamakan Orca, ia membangkitkan 17 monster di seluruh dunia.
Tak disangka, salah satu monster, yaitu naga berkepala tiga yang dalam sejarah manusia disebut sebagai Ghidorah, mengambil alih kekuasaan dan membuat semua monster yang bangkit bertingkah destruktif. Rencana Dr. Emma (Vera Farmiga) untuk mengembalikan tatanan alam secara bertahap pun gagal dan malah membuat peradaban manusia berada di ujung tanduk kepunahan.
Alur
Karakter Godzilla dengan segala kekayaan ceritanya membuat film ini terasa cepat -terlalu cepat hingga penonton tidak tahu harus fokus ke mana. Banyak tokoh yang ditampilkan dari ilmuwan Monarch, militer, atau pun pemerintahan, tapi tak satupun yang mendalam. Kecuali, tentunya, keluarga Mark Russell (Kyle Chandler) yang berkonflik di tengah-tengah kericuhan ini.
Meski terkesan cepat, alur itulah yang membuat film ini terasa menegangkan, dari awal hingga akhir. Tidak ada satu scene pun yang sia-sia, karena cerita dalam film ini pun cukup padat. Perpindahan scene terasa mulus dan tidak memaksa. Kisahnya yang berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya tidak membuat film ini memaksakan alur yang ketat.
Bintang Tiga
Meski cukup bagus, saya hanya mampu memberi tiga dari lima bintang untuk film ini. Alasannya cukup sederhana: karena saya tidak terlalu terbawa suasana. Kurang baper. Lagipula, tidak banyak twist yang dihadirkan. Sejak trailernya rilis, kita sudah banyak tahu monster apa saja yang bakal muncul dan bagaimana ukuran mereka yang super-besar menakjubkan penonton.
Saya sendiri terkagum-kagum dengan karakter Rodan, yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Iblis Api. Ia lahir dari sebuah gunung api -sebagaimana robot Ranger Merah- dan lava yang menempel di bagian sayapnya. Mungkin beberapa penonton kagum dengan kemampuan Ghodirah yang mampu beregenerasi dengan cepat. Tapi saya tidak. Kemampuan terbang Rodan lebih mengagumkan.
Selanjutnya, penonton tinggal menunggu saja bagaimana Godzilla -yang diakhir film berevolusi dengan pesat- menyambut pesaing terkuatnya: King Kong dari film Kong: Skull Island.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?