Gadis Kecil dan Kekhawatiran yang Berlarian di Rumah Sakit


Seorang balita mungil -yang mungkin seumuran dengan Gempi dan kawan-kawan artisnya, memperhatikan saya yang sibuk dengan hape menonton Pingin Siaran Episode 12. Duet penista Coki-Muslim sedang berdebat di telinga ketika saya menyadari anak kecil itu. Pipinya yang menggembul menarik perhatian. Rambutnya dikuncir satu, tetapi sisanya dibiarkan tergerai. Ia mengenakan kaus putih bertuliskan The Wild One. Yah, mungkin pantas. Anak kecil itu memang berlarian sejak tadi. Di lingkungan rumah sakit yang seharusnya tenang...

dan sedikit muram. Hehe.

Yah, hari ini Selasa. Jadwal pertama saya kontrol setelah diperbolehkan pulang dari rawat inap pada malam Minggu lalu. Untuk pembaca yang belum tahu, sebelumnya pada hari Kamis pukul dua siang, alhamdulillah saya berhasil dioperasi. Hal itu perlu dilakukan untuk memperbaiki organ dalam saya yang telah lama sakit, hanya saja saya merahasiakannya dan tetap hidup dengan fake smile. Bahkan kepada keluarga saya sendiri.

Penyakit ini sempat membuat saya linglung selama lebaran. Tak hanya itu. Setelah saya mempost story yang intinya memohon doa -dengan latar ruangan rawat inap- di Instagram dan WA, tiba-tiba banyak teman yang membalas dengan pertanyaan: sakit apa? operasi apa? Tentu saja. Orang-orang selama ini mengenal saya sebagai orang yang baik-baik saja secara fisik -meskipun menjengkelkan secara karakter. Dan saya tak pernah mengeluhkan penyakit ini. Baru, ketika keluarga tahu dan wajib dioperasi, saya menceritakannya kepada beberapa teman. Sedikit saja, tak banyak.

Baca juga: Rim of The World (2019) - Sekumpulan Bocil yang Menyelamatkan Dunia

Sembari menunggu dokter yang tak kunjung datang, saya memainkan playlist kumpulan lagu dari berbagai genre yang saya simpan dalam bentuk mp3. Gadis kecil berkaus putih itu kadang bermain dengan saya, secara rahasia tentunya. Berkali-kali ia dipanggil oleh ibunya -yang tampaknya menikah di usia muda, atau memang wajahnya saja yang awet terjaga. Kalau tidak salah dengar, nama anak itu Adina. Dengan tergopoh-gopoh ibunya memaksanya memakan bekal sarapan, sembari dia berlarian kesana kemari.

Daripada kepada saya, ia lebih tertarik pada bayi-bayi yang usianya lebih muda. Tak jarang ia mendatangi ibu-ibu yang menimang bayi, kemudian dengan rasa penasaran memohon untuk diperbolehkan mencium. Ibu si Empunya Bayi mengizinkan saja, tapi tidak dengan ibunya sendiri. Adina dilarang mencium secara langsung, hanya diperbolehkan memegang tangan atau kaki si bayi yang jelas-jelas diselimuti. Meski ia tampak sedikit kecewa, gadis kecil itu mematuhi ibunya.

Terkadang saya berpindah tempat duduk, dari kursi satu ke kursi lain yang mungkin terasa lebih nyaman. Kemudian datanglah sepasang suami-istri. Dari wajahnya, dapat ditaksir keduanya berusia di atas lima puluh, mengambil kursi kosng tepat di sampingku. Tak lama, sang Istri menampakkan gelagat yang aneh, seolah-olah menahan sesuatu di perutnya. Dan benar, sang Istri muntah. Sedikit isi perutnya mengotori pakaian dan tasnya. Maka sang suami pun bergegas mencari tisu.

Saya yang tepat berada di sebelahnya tak bisa bergerak. Berniat membantu, tetapi saya tak punya sesuatu yang dapat ditawarkan. Kalau pergi, saya takut menyakiti hatinya. Tak bisa berbuat apa-apa, saya hanya diam. Jajaran kursi yang kami tempati mendadak kosong. Sudah saya duga. Bau muntah yang (sedikit) menyengat membuat pengunjung rumah sakit lain berpindah. Akhirnya situasi membaik setelah suaminya datang dengan sekotak tisu. Saya pribadi merasa lega dalam hati

Baca juga: Rumah Sakit dan Wajah-Wajah yang Tampak Serupa

Saya menunggu antrian sejak pukul sembilan, sebagaimana jadwal masuk dokter yang menangani operasi saya. Tapi ia datang terlambat. Ketika jam di hape menunjukkan pukul 10.10, dokter itu baru menampakkan batang hidungnya. Playlist lagu favorit yang saya setel bahkan sudah mencapai belasan. Ketika itulah antrian yang sudah menunggu sejak pagi dimulai. Nama saya di urutan 14. Saya berharap saja semoga semua berjalan lebih cepat.

Ketika nama saya dipanggil, saya segera melepas earphone dan menuju ruangan dokter. Namanya Yan Pribadi. Dokter dengan perawakan yang gemuk dan sedikit berjenggot. Melihat saya memasuki ruangan, ia langsung mengenali dan memerintahkan agar saya segera tidur di kasur. Perban yang membungkus luka jahitan bekas operasi diganti. Jahitan operasi saya yang kering dan tidak bernanah sebagaimana kasus biasanya terjadi, digunting. Selain itu, darah kotor yang menggumpal di -afwan- testis juga disedot dengan suntik. Bagian terakhir sedikit menakutkan, karena memang saya takutan untuk hal seperti itu. Hahaha. 

Setelah semua proses itu selesai, dr. Yan Pribadi menyiapkan resep baru untuk obat dan juga mengingatkan agar datang kembali di hari Jumat. Entah pukul berapa nanti. Setelah itu, saya segera pulang karena -afwan lagi- testis saya ternyata terasa semakin sakit. Saya ingin segera beristirahat. Tentu saja setelah makan siang dan meminum obat.

Nyatanya, sampai di rumah saya lebih tertarik untuk menonton Haikyu!!, anime lama yang baru kali ini saya coba tonton. Dan ternyata bagus. Kekurangannya hanya terlalu drama. Tidak seperti anime sport lain seperti Kuroko no Basuke, anime ini kurang padat. Gaya penceritaannya terlalu berlarut-larut. Oh iya, seperti Tsubasa. Semacam itulah. Bedanya, Haikyu!! bermain di bola voli.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir