Datanglah Ia dari Natasha

Dulu sekali, saya pernah menulis puisi, tentang seorang yang mati dalam perjalanan terakhirnya, setelah ia tau ia tidak akan selamat menghadapi hari-hari esoknya. Puisi itu berjudul Datanglah Ia dari Parahita.

*****

Berbicara tentang perjalanan, saya sangat terinspirasi dengan kisah O Diario de Um Mago yang ketika saya baca versi Indonesia-nya berjudul The Pilgrimage. Buku karya Paulo Coelho itu berkisah tentang perjalanan Haji versi kristiani. Petualangan berjalan kaki melintasi batas negara dan ambisi itu dikisahkan dengan penuh khidmat nan sakral. Saya tidak terlalu mengingat detailnya, karena saya membacanya ketika masih duduk di kelas dua SMP. Seorang kakak kelas baik hati meminjamkannya kepada saya yang kemudian menginspirasi saya untuk membaca kisah-kisah Paulo lainnya.

Termasuk yang paling fenomenal, O Alquimista.

*****

Dalam keadaan tersesat dan tidak tau arah jalan pulang, terpikirkan dalam pikiran saya untuk berjalan kaki menikmati suasana kota. Sidoarjo bukan kota yang bagus dan menarik. Ia tak memiliki keindahan atau bakat tertentu dalam menjaring urbanisasi. Bebungaan kuning yang muncul di Jl. Gajah Mada, malah membuat jalanan menjadi kotor, tak menarik.

Sidoarjo, dalam pandangan saya, adalah sebuah desa besar, dengan orang-orang perkotaan yang mendiaminya. Sidoarjo hanyalah ranjang tidur, tempat berbaring di waktu malam datang yang kemudian akan ditinggalkan esok harinya. Tapi tidak semuanya begitu. Masih ada orang-orang asli yang menghidupkan kota ini dengan senyum-senyum kecil.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir