Belum Selesai Menjadi Lelaki - Agung Arjuna (Bagian Satu)

"Udah ketemu sama anak-anak?"

Suara itu samar-samar terdengar, membuat perhatianku terpecah. Langit dini hari yang tidak menggambarkan apa pun menjadi tumpuan mataku: kekosongan lebih melegakan, daripada harus melihat kerlap-kerlip bebintang di kejauhan. Lalu aku tersadar, pemandangan kota yang gemerlap ini kulihat dari rumah sakit. Dan seseorang yang kutunggu untuk bangun.

"Agung!" kataku terkaget. Aku membalikkan kursi untuk segera ke hadapannya. Berharap dapat memluknya untuk sesaat saja. "Udah berapa lama kamu bangun?"

"Gak lama kok. Baru aja." Ia menyambutku, yang dengan kesedihan memeluknya. Ia memohon agar ranjangnya dinaikkan. Aku membantunya untuk duduk dengan tegap. Meskipun masih terasa sakit, ia memaksakan diri. Begitu pula aku yang dengan sigap memberinya segelas air minum. "Tapi jangan panggil suster ya, plis."

"Iya. Tau." Aku membalasnya dengan senyum. Meskipun bukan dalam kondisi terbaiknya, melihat Agung saja sudah membuat aku bahagia. "Tapi jangan pergi kemana-mana dulu."

Agung mengangguk. Ia hanya ingin duduk setelah sepanjang hari hanya tiduran di ranjang rumah sakit. Aku bertanya tentang bagaimana ia bisa terjatuh di lorong kelas -kabar yang kudengar dari teman-teman kampusnya. Tapi ia malah tertawa, lalu bercerita tentang rasa tidak nyamannya sejak malam sebelumnya.

"Aku kumpul sama temen-temen."Ia mulai jujur. Tangannya masih memegang gelas yang kuberikan padanya. Matanya tertuju pada lukisan-lukisan astrak yang terpajang di dinding. Wajahnya mengernyit, seolah-olah berkata: Jangan bilang ini VIP. Aku mengiyakan pikirannya. Toh, memang ini bangsal VIP.

"Maksud kamu geng?" Aku merapikan meja pasien, yang dengan seadanya berisikan beberapa buku dari tas yang dibawa Agung. Ia pingsan di kampus, ditolong oleh teman-teman sekelasnya yang tidak terlalu akrab dengannya. "Pasti kamu tawuran lagi."

"Eh, enak aja. Kita gak tawuran tau." Ia tak mampu bergerak atau membantuku merapikan barang-barangnya. Matanya mengikutiku, seolah-olah hanya wajahku yang mau dilihatnya. Aku tahu anak ini menyukaiku, tapi tingkahnya sedikit merepotkan. "Kita cuma misahin geng lain yang berantem."

"Mananya gak tawuran? Ha? Mananya yang misahin?" Kini aku menatap wajahnya, dan ia menunduk malu-malu. Entah kenapa, Agung musti seperti itu di hadapan wanita. Begitu pula di depan ibunya. "Jadi kamu nge-drop karena itu?"

Agung menaruh kembali gelas yang sedari tadi ia pegang. Aku kembali duduk di kursi, kali ini menggenggam tangan kirinya yang penuh dengan bekas luka. Setelah menarik napas panjang, aku memberanikan diri berbicara serius padanya.

"Jadi," aku melihat kedua bola matanya dengan lebih jelas. "Kapan kamu mau ke rumah?"

Di situ Agung terdiam. Dan akan selalu terdiam ketika mendengar pertanyaan itu.

*****

Agung adalah teman masa kecilku. Kami bertetangga, meskipun rumah kami terpisah beberapa langkah saja. Masa kecil kami yang bahagia, membuat kenangan-kenangan yang tak terlupakan. Yah, terkadang anak itu memang bertingkah menyebalkan, dan membuat keonaran di lingkungan desa kami. Ia bersama tiga teman kami yang lain bertengkar dengan alasan yang tidak jelas. Tapi, bagaimanapun juga, ia temanku.

Oh, tidak. Ia sahabatku.

Di antara teman-teman yang lain, hanya aku dan Agung yang pergi ke kota. Ia melanjutkan kuliahnya sekaligus mencari pekerjaan paruh waktu. Di sela-sela waktu bekerjanya, aku selalu mampir untuk memberinya semangat, dan membawa makan malam tentunya. Meskipun berkecukupan, Agung masih ingin mencari pendapatan sendiri, untuk membiayai belanja bukunya yang gila-gilaan. Ia belanja buku di setiap awal bulan, dan selalu mengajakku bersamanya.Yah, meskipun aku bodoh dan tidak terlalu suka membaca.

Tapi bukan hanya itu kehidupan Agung.

*****

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir