Bedah Blumbang dan Tradisi yang Kehilangan Fungsinya
Sebagai mahasiswa antropologi yang baru saja menyelesaikan semester keduanya dengan nilai yang biasa saja, saya tidak terlalu banyak paham dengan poin-poin teori. Selain evolusi -biologis maupun kultural, teori antropologi lain yang saya pahami adalah fungsionalisme a la Malinowski. Antek Rusia satu ini lah yang digadang-gadang sebagai pelopor metode observasi langsung di masanya. Setelah sebelumnya para antropolog hanya belajar dari catatan-catatan perjalanan dan manuskrip kolonial.
Teori Fungsionalisme Malinowski sangat mudah dipahami. Intinya, setiap aspek budaya memiliki fungsinya masing-masing, bahkan unsur terkecil yang membangunnya sekalipun. Eksistensi kebudayaan berasal dari kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Maka, ketika budaya itu tak lagi memiliki fungsi, substansi budaya itu akan menghilang, memudar. Teori ini sedikit ditentang oleh antropolog lain di masanya, yaitu Radcliffe-Brown, yang mengusung strukturalisme-fungsional dan menyatakan bahwa kebudayaan berguna untuk mempersatukan masyarakat.
Berdasarkan pandangan itu, maka saya pun menggunakan perspektif fungsionalisme sederhana sembari membaca makalah jurnal yang ditulis oleh Reny Wiyatasari dan Af'idatul Lathifah, dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dengan judul Fungsi Tradisi Bedah Blumbang dalam Pelestarian Area Konservasi Air di Kaki Gunung Ungaran Kabupaten Semarang. Makalah ini dimuat dalam jurnal Studi Budaya Nusantara Vol 3 No. 1 (2019).
Bukan karena tuntutan tugas kuliah. Saya tertarik saja untuk melakukan kembali aktivitas perkuliahan yang isinya hanya review, review, dan review. Lagipula, saya sedang tidak tertarik untuk menulis review film, atau melanjutkan kisah Visnuyash. Yah, meskipun saya sudah ada beberapa bayangan untuk menulis beberapa cerpen.
Baca Juga: Javanese Trah
Isi Jurnal dan Bedah Blumbang
Makalah ini secara ringkas menjelaskan tentang budaya merti dusun (bersih desa) yang berkembang dalam masyarakat pedesaan non-urban. Hal itu kemudian dikaitkan dengan ekologi kultural -bagaimana masyarakat melestarikan lingkungan alamnya sesuai karakteristik budaya masing-masing. Di berbagai negara, hal ini sudah banyak diupayakan. Termasuk, proses bagaimana pemerintah sebagai wakil negara berkolaborasi dengan masyarakat lokal untuk melakukannya.
Nah, di dusun Gintungan, merti dusun ini memiliki satu ciri khas, yaitu tradisi bedah blumbang. Tradisi ini dikaitkan dengan mitos tentang leluhur dusun yang -secara singkat- ingin menyelamatkan desa dan mitos bahwa Gunung Ungaran adalah gundukan tanah penuh air. Karena keberlimpahannya, penggunaan air di dusun ini pun tidak pernah bermasalah. Maka dari itu, lestarilah tradisi ini.
Baca Juga: Batak Ethnic Association in Three Indonesian Cities
Penilaian Sederhana
Salah satu poin yang saya garis bawahi dalam makalah adalah bahwa masyarakat pun mengakui bahwa keberlangsungan tradisi bedah blumbang itu sendiri demi 'melestarikan budaya'. Di zaman ini, ungkapan seperti itu sudah masuk di tahap klise: awalnya tampak mulia, tapi ketika sering digunakan, terkesan menyebalkan. Apakah memang tak ada tradisi yang penuh makna sehingga dilaksanakan hanya demi 'pelestarian budaya'? Apakah memang sudah putus aliran makna yang dahulu sempat menjiwai setiap pelaksanaan tradisi? Ada apa ini? Apa hanya karena faktor pariwisata, yang kemudian menghasilkan pundi-pundi uang semua itu dilakukan?
Ya. Nyatanya antropolog harus menggali mitos-mitos yang terkubur terlalu dalam demi menemukan makna budaya. Menghadapi gelombang masyarakat logis-realistis yang terputus dengan leluhur-leluhurnya. Tapi itu bukan keluhan. Karena memang itulah tugas antropolog. Ia menjadi orang luar yang awalnya buta, kemudian dengan perantara metode observasi lapang dan pencatatan etnografis, mendapati cahaya-cahaya lama. Terjaga dalam sebuah bohlam, berkobar dalam semangat minor. Dan ketika api sumber cahaya itu benar-benar padam, udara (baca: masyarakat) di sekitarnya hanya berpaling tanpa penyesalan. Toh ada kemapanan sosial di depan mata. Toh ada jaminan surga nun jauh di sana.
Meski tidak menggambarkan secara lebih luas bagaimana tradisi ini berdampak pada masyarakat sekitar dusun, makalah ini sudah cukup jelas dalam menarasikan bedah blumbang. Adanya kompleksitas, seperti perubahan, campur-tangan pejabat normatif, dan hilangnya substansi tradisi ini digambarkan secara tepat dan tidak berlebihan.
Dan sepertinya memang begitulah sifat budaya. Artinya, munculnya kompleksitas apa pun, baik positif atau negatif secara kultural, semua itu masih dalam jangkauan tangan manusia. Tak ada pihak yang patut dibangga-banggakan secara berlebihan, atau dikambinghitamkan secara komunal. Cukup masyarakat lokal saja yang melakukannya. Tradisi itu adalah identitas mereka. Mereka berhak atas identitas mereka masing-masing.
Isi Jurnal dan Bedah Blumbang
Makalah ini secara ringkas menjelaskan tentang budaya merti dusun (bersih desa) yang berkembang dalam masyarakat pedesaan non-urban. Hal itu kemudian dikaitkan dengan ekologi kultural -bagaimana masyarakat melestarikan lingkungan alamnya sesuai karakteristik budaya masing-masing. Di berbagai negara, hal ini sudah banyak diupayakan. Termasuk, proses bagaimana pemerintah sebagai wakil negara berkolaborasi dengan masyarakat lokal untuk melakukannya.
Nah, di dusun Gintungan, merti dusun ini memiliki satu ciri khas, yaitu tradisi bedah blumbang. Tradisi ini dikaitkan dengan mitos tentang leluhur dusun yang -secara singkat- ingin menyelamatkan desa dan mitos bahwa Gunung Ungaran adalah gundukan tanah penuh air. Karena keberlimpahannya, penggunaan air di dusun ini pun tidak pernah bermasalah. Maka dari itu, lestarilah tradisi ini.
Baca Juga: Batak Ethnic Association in Three Indonesian Cities
Penilaian Sederhana
Salah satu poin yang saya garis bawahi dalam makalah adalah bahwa masyarakat pun mengakui bahwa keberlangsungan tradisi bedah blumbang itu sendiri demi 'melestarikan budaya'. Di zaman ini, ungkapan seperti itu sudah masuk di tahap klise: awalnya tampak mulia, tapi ketika sering digunakan, terkesan menyebalkan. Apakah memang tak ada tradisi yang penuh makna sehingga dilaksanakan hanya demi 'pelestarian budaya'? Apakah memang sudah putus aliran makna yang dahulu sempat menjiwai setiap pelaksanaan tradisi? Ada apa ini? Apa hanya karena faktor pariwisata, yang kemudian menghasilkan pundi-pundi uang semua itu dilakukan?
Ya. Nyatanya antropolog harus menggali mitos-mitos yang terkubur terlalu dalam demi menemukan makna budaya. Menghadapi gelombang masyarakat logis-realistis yang terputus dengan leluhur-leluhurnya. Tapi itu bukan keluhan. Karena memang itulah tugas antropolog. Ia menjadi orang luar yang awalnya buta, kemudian dengan perantara metode observasi lapang dan pencatatan etnografis, mendapati cahaya-cahaya lama. Terjaga dalam sebuah bohlam, berkobar dalam semangat minor. Dan ketika api sumber cahaya itu benar-benar padam, udara (baca: masyarakat) di sekitarnya hanya berpaling tanpa penyesalan. Toh ada kemapanan sosial di depan mata. Toh ada jaminan surga nun jauh di sana.
Meski tidak menggambarkan secara lebih luas bagaimana tradisi ini berdampak pada masyarakat sekitar dusun, makalah ini sudah cukup jelas dalam menarasikan bedah blumbang. Adanya kompleksitas, seperti perubahan, campur-tangan pejabat normatif, dan hilangnya substansi tradisi ini digambarkan secara tepat dan tidak berlebihan.
Dan sepertinya memang begitulah sifat budaya. Artinya, munculnya kompleksitas apa pun, baik positif atau negatif secara kultural, semua itu masih dalam jangkauan tangan manusia. Tak ada pihak yang patut dibangga-banggakan secara berlebihan, atau dikambinghitamkan secara komunal. Cukup masyarakat lokal saja yang melakukannya. Tradisi itu adalah identitas mereka. Mereka berhak atas identitas mereka masing-masing.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?