Agung Arjuna - Prolog


"Ke mana saja kemarin?" aku bertanya pada angin yang berhembus melewatiku. Derik air bergelombang, menghanyutkan pikiranku entah sampai mana. Kukira aku sendiri. Di sebuah kursi taman tepi jalan. Sepi mendatangkan dirinya sejak tadi. Keramaian sejak lama pergi bersama deru dan ambisi akan industri kota ini yang mati beberapa tahun lalu. Tapi tetap saja aku bertanya pada angin. "Kenapa kau tidak datang?"

"Maafkan aku." sebuah suara membalas. Jawabnnya lemah dan malu-malu. Seolah-olah keberadaanku menakutkan detik dan waktu. Padahal aku hanya bersikap sedih, dan itu normal. Tidak ada lelaki yang tidak sedih harapannya yang tinggi pada seorang wanita pupus begitu saja. "Aku benar-benar lupa pada janjiku."

"Kalau begitu, aku bukan prioritasmu. Bukankah begitu?" aku berdiri bersama kesadaran. Ia bangkit dari tidurnya yang lelap dalam otakku setelah ditusuk kesedihan demi kesedihan. Kupikir akan ada kesadaran lain yang muncul, tapi satu ini saja sudah cukup menyakitkan. Aku tak ingin membangunkan saudara atau teman lainnya. "Kalau begitu kau tidak perlu datang menjelaskan. Aku sudah cukup mengerti."

"Bukan begitu, bukan begitu maksudku." Ia mencoba menahanku. Sepucuk jarinya menyentuh pundakku dengan hangat. Dingin memang mendominasi di tempat ini, dan usahanya menahanku mungkin akan berhasil. Toh, aku tidak benar-benar hendak pergi. Rasa sakit dalam hatiku ikut memudar, rasanya. "Aku hanya..."

"Apa?" aku sedikit berteriak. Tetiba saja hening menjadi lebih dalam. Jam yang menggantung di pusat kota menunjukkan pukul enam. Dedaunan gugur bersama musim yang datang, menggantikan beberapa episode musin lalu yang menurutku tak karuan. Aku kembali menunduk. Tak nyaman rasanya berteriak di awal hari yang sudah buruk. "Kau hanya lupa, bukan? Kalau begitu, lupakan! Melupakanku tak mengurangi nyawamu, atau memajukan jadwal kematianmu. Lupa padaku bukan berarti membunuhmu."

"Aku paham kau marah padaku, tapi bisakah kau dengarkan aku dahulu?" Ia benar-benar mulai mendekat. Hawa keberadaannya terasa lebih besar, menandingi dinginnya pagi, menenangkan ketakutanku. Bebatuan yang kami injak di jalanan ini dibasahi embun. Dan semakin pagi, embun-embun itu mencair sendiri. "Aku datang dengan alasan, dan itu nyata. Bisakah kau pahami dulu, Agung?"

"Jangan panggil aku Agung." aku pergi tanpa menoleh, menyisakan ruang bagi wanita itu untuk menyesalinya. Entah ia menangis atau tidak, itu pilihannya. Meskipun, menurutku ia tak mungkin lagi menangis.

Karena kehadiran lelaki lain lah yang membuatnya melupakanku.

*****

Dosen tengah menjabarkan teori-teori klasik yang membangun dasar-dasar bidang studi, ketika anak itu meminta izin keluar dari kelas.Tetiba saja, kelas menjadi hening. Ada suara-suara kecil yang terdengar dengan jelas: gesekan kursi, berpindahnya tas, detik waktu. AC mendingin. Anak itu menjadi pusat perhatian saat ini. Seluruh mata menatap padanya.

"Oh, iya. Silahkan." Dosen dengan sedikit ragu mempersilhakan ia keluar. Wajahnya tampak keheranan. Sepertinya anak lelaki itu tak ingin kembali ke kelas, dan langsung pulang. Ransel kecil yang ia bawa di pundak, menjadi tanda. "Jangan lupa dipelajari apa saja teori-teori klasik. Nanti akan muncul di UAS."

"Baik." anak itu menjawab sembari menunduk. Ia membuka pintu dan berpamitan. "Assalamualaikum."

Kami yang berada di dalam kelas menjawab salamnya. Dosen yang selama ini berdiri menarik kursi dn duduk, Spidol yang ia gunakan ia taruh kembali di atas meja. Aku memperbaiki posisi dudukku. Wajah-wajah temanku mengunngkapkan ekspresi yang serupa: ada apa dengan anak itu?

Kami tak terlalu mengenalinya. Anak itu salah satu sosok pendiam di kelas, yang jarang sekali berinteraksi dengan teman-teman seangkatan. Beberapa kali kami berbicara dengannya, tapi tak cukup banyak mengetahui kisah hidupnya. Bahkan Kikyo, cewek ramah yang mudah bergaul dengan siapa pun, jarang sekali berbicara dengannya. "Hee..., anak itu ke mana ya?", dia berbicara dengan nada khawatir, seolah-olah ia teman atau sahabat dekat. Teman-teman sekelas yang berada di sekitarnya menepuk pundak Kikyo. "Sudahlah. Mungkin dia ingin istirahat atau ada keperluan lain."

Tak lama, dosen muda kami melanjutkan kuliahnya. Ia mengumpamakan perjalanan bidang studi kami seperti sebuah bangunan, yang kian lama makin megah dan menarik orang untuk berkunjung. Pondasinya dibangun selama bertahun-tahun, dan terus dilakukan perbaikan hingga saat ini. Basilika Sagrada Familia contohnya; keindahan arsitektur dan kemegahan buatan manusia itu masih jauh dari kata sempurna. Tapi orang-orang menyukainya. Dan begitulah seharusnya bidang studi baru yang kami pelajari ini dibangun. Ia akan turut serta dalam mewarnai khazanah keilmuan dunia.

Tetiba saja kami mendengar suara. Sangat keras. Seperti dua benda padat yang saling bertabrakan. Seperti...

"EH, ADA YANG JATUH!!!"

Seseorang berteriak dari luar kelas. Kami yang berada dalam ruangan bergegas keluar. Tanpa memerhatikan sekeliling, beberapa mahasiswa yang langsung berdiri menjatuhkan kursi. Pintu mendadak menjadi sangat sesak. Aku sendiri mencoba mendesak, melewati beberapa teman dengan tubuh lebih kecil. Di luar, orang-orang bergerombol, berkumpul pada sesuatu. Oh, tidak. Itu seseorang. Dan dia teman kami!!!

*****

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir