Wanita yang Mencari - Farid Krisna (Bagian Delapan)
Jadi, ke mana saja kau hari ini? Kau tidak menemuiku, dan aku sendiri di sini. Terkadang waktu memang membuat kita lupa. Tapi perjalanan kita masih panjang -sebagaimana kau sebut siang itu. Lama berjalan membuat kita letih. Lama berdiam membuat kita saling rindu.
*****
"Siapa lawanmu saat ini?" kutanya Krisna sembari kami membereskan jejak dan noda darah. Hari sudah pagi dan cahaya mentari melewati jendela, membantu kami melihat kehancuran apartemenku. Krisna mengepel darah-darahnya. Aku mencuci beberapa barang yang terkena noda. Salah seorang teman menghubungiku melalui telegram, menanyakan kabar Krisna. Ketika aku menceritakan kejadian semalam, ia ikut kaget. Wah, temanku merespon, jarang sekali terjadi. Dia biasanya langsung pergi begitu saja. Aku juga terheran-heran. Oleh karena itu kutanya lagi Krisna. "Kau kelihatan sangat kewalahan. Tidak seperti dulu."
"Orang-orang lama." Krisna menjawab. Ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil seember air. Tidak kami sangka, darahnya semalam menyebar terlalu luas. Seharusnya aku tak membiarkan ia ikut membersihkan darahnya sendiri. Luka-lukanya rentan terbuka lagi. Tapi ia memaksa. Krisna tahu aku repot untuk hidup sendiri. "Dan kau seharusnya memanggil Mira ke sini. Biasanya ia tahu siapa saja mush-musuhku."
"Wah, benarkah?" aku kaget dengan informasi itu. Berarti Krisna lebih banyak cerita ke Mira daripada aku?, aku bertanya-tanya dalam hati. Krisna menatapku ketika kembali dari kamar mandi.
"Ya." Ia menjawab, lalu kembali mengepel lantai yang merah. "Mira lebih banyak tahu daripada kamu."
Aku terdiam untuk beberapa saat. Krisna menyelesaikan bagiannya dan duduk di sofa tamu. Di atas meja tergeletak foto itu: kenangan yang menyatukanku dengan Mira. Di situ gadis itu tesenyum, di sampingku yang berwajah cemberut. Aku lupa momen apa itu. Pemandangan pagi yang menjadi latar tempat kami tak cukup menjelaskan. Krisna mengambilnya dan memberikannya pada ku. Aku berdiri menghadap jendela, dengan keramaian jalanan menjadi tontonanku sehari-hari.
*****


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?