Ayana

"Tidak ada salahnya menjadi buruk," kataku. Ia hanya mengangguk, tanda setuju meskipun ragu. Aku kembali memeluk pundaknya, berharap ia akan segera tenang. Tak lama kemudian, ia mengambil sesuatu dari tas hitamnya. "Apa itu?," aku bertanya.

"Fotoku dengannya," jawab wanita itu dengan lirih. Setetes air mata mengaliri pipinya. Aku kembali memeluknya lebih erat, sembari berbisik.

"Tak apa, cukup kau simpan saja."

"Aku takut melupakannya."

"Kenapa takut?"

"Sebab terkadang aku rindu."

Ini adalah sebuah kisah, tentang hilangnya awan-awan putih bergariskan sinar matahari.

*****

Pertama kali aku bertemu dengannya, adalah suatu ketidaksengajaan. Ketika itu, aku menjatuhkan banyak sekali komik di sebuah toko buku. Tentu saja aku sangat malu saat itu. Dengan ekspresi yang tak menentu, aku mengembalikan tumpukan komik itu satu per satu ke raknya. Sebuah bayangan mendekat. Ya, bayagan itu adalah perempuan itu. Ia membantuku menyusun kembali komik-komik yang aku jatuhkan. Dan dengan sedikit senyum, ia bertanya:

"Udah semua nih?"

"Ya, sudah semua," jawabku malu-malu. "Makasih ya mbak."

"Ya, sama-sama," dia merapikan baju panjangnya yang sepertinya tidak kotor. "Oh, iya. Kenalin."

Lah, dia malah ngajak kenalan, kataku dalam hati. Ia menyebut nama-indah-nya sembari menjulurkan tangan. Aku pun menyebut namaku. Selanjutnya ia banyak bertanya, dan aku bersikap sebagaimana mustinya: malu-malu, dengan lebih banyak melihat lantai dan tumpukan buku. Dari sekian banyak pertanyaannya itu, aku dapat menyimpulkan sendiri kalau dia fanatik buku yang lebih parah. Setidakya jika dibandingkan dengan diriku. Ia sudah membaca semua buku Haruki, bahkan beberapa judulnya yang sudah membuatku bosan. List bacaannya bertumpuk. Dan di hari itu ia sedang mencari buku lain.

"Apa adegan paling bagus di Kafka?" Ia mulai bertanya ketika kami memutuskan untuk memesan kopi di sebuah kafe. Sebagai orang yang tidak terlalu doyan kopi, aku hanya memesan teh. Dia tertawa, dan sebisa mungkin menyembunyikan tawanya agar tidak dikira mengejek. Tapi aku sudah biasa. Ini bukan hal yang jarang terjadi.

"Kafka on the Shore?" kataku menyebut salah satu buku Haruki. Ia mengangguk. Tatapan matanya semakin berbinar, seolah-olah ia benar-benar penasaran. Aku berpikir sebentar sebelum menjawab: "Gak ada."

"Hah?" dia jelas terkejut. "Kamu sudah baca semua kan?"

"Ya", jawabku. "Aku bahkan membacanya dua kali untuk memahami realitas Haruki."

"Tapi kenapa tidak ada yang favorit?"

"Ya, karena buku itu bagus," balasku. "dan sepertinya semua kejadian memang sama: Haruki tidak menyajikan sesuatu yang muluk di Kafka. Ia hanya bercerita sebagaimana mustinya. Seperti seorang yang berwajah tanpa rasa dosa."

"Pasti itu pandangan umum, ya kan?" Wajah gadis itu seperti tak terima. "Pasti itu pandangan general untuk semua buku Haruki, kan?"

"Hmm, iya sih," jawabku sederhana. Kedatangan pramusaji dengan pesanan kami menahan percakapan kami. Setelah mengucapkan terima kasih kepada pramusaji, dia kembali mempertanyakan pendapatku. Dan aku hanya mengangkat pundakku. Hanya itu pendapatku. "Memang momen apa yang paing menarik di Kafka?"

Ia hanya terdiam. Lalu menyeruput kopinya sedikit.

*****

Sorenya, aku terngiang-ngiang perkataan gadis itu selama perjalanan pulang. Kami berpisah setelah kedua minuman kami sama-sama habis. Sebenarnya ia sedikit tergesa-gesa. Hal itu terlihat dari raut wajahnya setelah melihat arloji di tangan kirinya. Setelah itu ia pergi. Aku pun beranjak dari kafe itu dan memandangi matahari sore.

Benarkah itu?

Aku mencoba mengalihkan pikiranku agar tidak lagi memikirkan kata-katanya. Kupasang earphone dan mendengarkan beberapa daftar musik favoritku. Sembari berjalan menyusuri trotoar jalanan kota, aku mencoba melihat langit oren.

Hei, benarkah itu?

Aku pun menyerah. Kudatangi sebuah kursi dan duduk, kembali memikirkan kata-kata gadis itu: "Kafka menyembunyikan naskahnya."

Hei, yang benar saja! Aku memang kehilangan suatu garis lurus yang menyambungkan dua -atau lebih- cerita dalam Kafka, tapi kenapa Kafka yang menyembunyikan naskahnya? Kenapa bukan Haruki?

"Hei, Haruki sudah menjelaskannya. Dia selalu meyempurnakan cerita." Cara gadis itu menjelaskan membuatku ternganga. Aku masih ingat bagaimana ekspresi wajahnya menjabarkan konspirasi itu. "Tapi kau tahu sendiri kan, kalau Kafka tidak sempurna?"

"Untuk apa?" sanggahku. "Untuk apa Kafka menyembunyikan naskah kisahnya sendiri?"

"Kuhubungi kau nanti malam," jawabnya dengan singkat. "Pastikan dirimu sadar ketika aku memulai."

Hanya itu yang kuingat, dan aku bangkit, kembali berjalan melihat sungai, pohon bambu, dan beberapa tanaman palawija. Aliran sungai dengan keras menyadarkanku. Aku harus segera pulang. Ada beberapa pekerjaan yang musti diselesaikan.

*****

Malamnya, kami berbicara.

"Kau lihat langit sekarang?" gadis itu bertanya, setelah melalui basa-basi di awal percakapan kami.

"Tidak," jawabku. "Aku sedang berbaring di atas kasur. Kau memintaku untuk melihat langit?"

"Ya," setelah itu aku berjalan keluar. Di tengah-tengah rumput aku melihat langit. "Ada apa?"

"Sekarang purnama," ia berkata lirih, seolah berbisik. "Apa yang menurutmu harus dilakukan?"

"Apa yang harus dilakukan?" tanyaku memastikan. Ia mengiyakan pertanyaan itu. "Ketika purnama, itu berarti kita musti puasa sunnah esoknya. Ini sudah masuk tengah bulan."

Ia tertawa. Mungkin tak menyangka dengan jawabanku. Aku kembali melihat purnama, yang sama dengan yang dilihatnya.

"Menurutmu, kita musti berpuasa sunnah ketika melihat purnama, bukan?" aku mengiyakan. "Begitu pula yang dirasakan Kafka ketika Haruki menyelesaikan kisahnya."

Apa hubungannya?

"Kafka tidak mengiginkan kesempurnaan. Ia adalah gagak kecil bernyali besar. Ia yakin kesempurnaan pada kisahnya hanya akan membuat pembaca tidak memahami esensi dari kisah itu. Maka ia pun berontak dari perannya, ia kabur dari rumah ayahnya yang semena-mena. Asal kau tahu saja, ayahnya itu adalah Haruki sendiri. Oleh karena itulah ia Maha Kuasa dalam kisah itu."

Aku mencoba mencerna kata-katanya.

"Setelah kabur dari ayahnya, ia menjalani hidupnya dengan sedikit berantakan. Setelah kembali dari hutan -di mana orang-orang lain tidak bisa kembali termasuk dua tentara perang dunia, ia sadar akan eksistensi kisahnya. Ketika Haruki terlelap, ia mengambil draf kisah itu, lalu memilih mana yang harus ia bawa sendiri."

Ke mana ia membawa kisahnya itu?

"Hei, kau tidak memperhatikan dengan seksama, ya? Kisahnya itulah yang kemudian terpasang dalam kisahku. Aku menangisinya saat ini."

Dan aku baru saja sadar. Ia bercerita sembari terisak-isak.

Sidoarjo-Malang
16-17 Juni 2019 

Komentar

Posting Komentar

Apa pendapatmu?

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir