Snowpiercer (2013): Captain America dalam Kereta
Rekomendasi untuk menonton film ini datang dari salah satu akun instagram yang memposting posternya. Melihat warna dominan yang ada di posternya saja membuat saya yakin bahwa film ini bernuansa gelap. Saya pun ragu-ragu untuk menontonnya. Dan memang begitu: saya harus mengumpulkan beribu-beribu keberanian untuk menonton film aksi berdarah, atau horor sekalipun. Tetapi ada satu komentar yang di akun instagram tadi yang mengatakan bahwa Chris Evans berperan dengan sangat lucu. Saya pun memberanikan diri untuk menontonnya. Dan ternyata komentar itu bohong. Atau mungkin saya yang salah baca.
Snowpiercer bercerita tentang seorang Curtis Everett (Chris Evans) yang memimpin penumpang gerbong belakang dari kereta Wilford (Ed Harris). Kereta itu sendiri terdiri dari orang-orang terakhir yang selamat dari kiamat es di seluruh dunia. Karena merasa tertindas, Curtis pun berusaha membawa kaumnya untuk menembus gerbong demi gerbong demi merebut (kekuasaan di) kereta dan mengendalikannya menjadi lebih baik. Sayangnya, niat baiknya itu harus dibayar dengan mahal: keselamatan dan nyawa kaumnya dipertaruhkan.
Kereta dan Kekumuhan
Kesan pertama yang saya dapatkan dari film ini, adalah bagaimana ia menggambarkan para penumpang gerbong belakang sebagai kelompok minoritas yang patut ditindas. Hal itu tak lain karena mereka merupakan penumpang gelap yang masuk di detik-detik terakhir kiamat menyapu dunia. Tidak hanya terpisah beberapa pintu dari gerbong depan, melainkan juga kondisi mereka yang memang tak layak: badan kumuh, makanan protein berbentuk jeli batangan berwarna hitam, keluarga yang dipisahkan, penjagaan khusus tentara, dan lain sebagainya. Kehidupan mereka yang terbatas pun sangat mudah tergambar. Di pikiran saya, karena mereka adalah populasi terkahir umat manusia, mungkin saja kehidupan di gerbong lain tidak jauh berbeda. Sayangnya, visualisasi saya tidak seimajinatif Bong Jon-Ho, sutradara film ini.
Struktur dan Kasta Sosial
Melalui mata kuliah Struktur dan Organisasi Sosial yang pernah menugaskan kami, mahasiswa antropologi, untuk menelisik peran perempuan dalam film mother!, saya jadi lebih mudah mengidentifikasi struktur sosial dalam masyarakat. Hal itu jugalah yang saya lakukan ketika menonton film ini. Sayangnya, tak perlu pendalaman untuk mengetahui bahwa populasi manusia terakhir di bumi punya klasifikasinya sendiri. Hal itu dengan lantang telah disuarakan oleh Minister Mason (Tilda Swinton) bahwasanya para penumpang gelap di gerbong belakang adalah 'sepatu' yang pantas dipakai oleh kaki. Tempat mereka yang semestinya adalah di sana, dan tidak boleh menembus gerbong lain karena hal itu melawan hukum alam.
"Gerbong belakang adalah kaki, dan gerbong depan adalah kepala. Oleh karena itulah sepatu sudah seharusnya berada di kaki, bukan di kepala."Tidak hanya itu, sepanjang film, narasi-narasi serupa terus didengungkan oleh berbagai karakter. Seolah-olah pernyataan bahwasanya setiap orang memiliki takdirnya sendiri, adalah hal yang salah, karena diucapkan oleh antagonis. Dalam pembelajaran saya, sebagai antropolog amatir, hal itu tidak salah. Hanya saja, memang setiap orang berhak untuk menentukan takdirnya sendiri. Setiap orang berhak meninggalkan kehidupan bodohnya di gerbong belakang untuk kemudian memperoleh pembelajaran yang lebih baik di gerbong depan. Dan tentu saja perjuangannya itu adalah hak manusia. Ia tidak boleh dibatasi dengan sekat-sekat yang secara alami terbentuk dalam budaya masyarakat. Apalagi dibatasi dengan diskriminasi: film hanya visualisasi masyarakat, dan hal itu benar-benar realita di budaya kita. Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi bagaimana diskriminasi membudaya di Indonesia.
Bermasalah di Ending
Poster Snowpiercer pertama kali saya lihat di situs nonton film online, dan termasuk di salah satu Box Office atau 1001 Film Terbaik. Saya tidak menyangkal hal itu. Post-appocalypse, tema yang sudah umum dalam dunia perfilman Amerika juga dibalut dengan ide yang meskipun tidak baru, cukup menarik untuk difilmkan. Setting yang monoton, kereta dan tumpukan salju, dibuat berbeda: gerbong kereta variatif, tempat-tempat tertentu yang menunjukkan tahun baru (jembatan Yekaterina), dan lain sebagainya. Tokoh dan penokohannya cukup matang. Setiap tokoh, selain Curtis, digambarkan dengan apik. Sayangya, hal itu tidak diimbangi dengan kualitas acting. Hanya Tilda Swinton dan Chris Evans yang sejauh ini terlihat menghayati peran. Dua pemeran Korea, Song Kang-Ho dan Go Ah-Sung, berhasil menutupi kekurangan itu.
Selain acting yang nanggung, film post-appocalyptic seperti Snowpiercer bermasalah dengan ending. Hal itu jugalah yang terjadi dengan trilogi The Hunger Games, empat film Mad Max, Oblivion, trilogi The Maze Runner, dan trilogi Divergent. Saya ragu, ini bukan hanya terkait filmnya, tetapi juga komik yang menjadi sumber film adaptasi ini. Versi visual belum tentu seapik imajinasi tekstual. Ending adalah kunci, yang kemudian menentukan bagaimana kualitas filmnya.
Yah, setidaknya, dari Snowpiercer kita dapat belajar untuk tidak pernah menyerah. Bahkan ketika alasan kita berjuang telah habis. Bahkan ketika ada pilihan yang lebih bagus tetapi amoral, menghampiri kita tanpa kesulitan. Dengarkan kata hati anda. Curtis melakukannya sepanjang gerbong perjuangan yang dilaluinya.




Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?