Seseorang Memaksaku Bercerita Tentangmu - Farid Krisna (Bagian Tujuh)

Sebuah panggilan masuk ke ponselku. Ringtone-nya sangat nyaring memenuhi ruangan. Aku melangkah dari jendela dan mengambilnya dari atas meja. Nomor tak dikenal. Dengan susunan angka yang cukup bagus.

"Halo." Aku memulai sapa. Ruangan yang semakin dingin. Makanan yang baru tersaji di meja kerja. Aku mencoba menikmati momen-momen ini. Barangkali membantuku berpikir jernih. "Dengan Farid di sini."

"Woy." Seseorang bersuara dengan bentakan. "Jangan sok resmi, Kris. Biasanya juga gak kayak gitu."

"Ya afwan, keh." Kataku membalas. Aku mengenali suara ini.. Nadanya tipe-tipe orang Jawa bagian utara. "Hape baru nih.. Saya pake nokia lama."

"OH.....GITU YAH..." Suara lawan bicaraku semakin keras. Aku dengan sedikit senyum mengambil tempat yang sedikit nyaman di dekat jendela. Cahaya perkotaan terlihat di mataku. Meski begitu, pandanganku tertutup. Ingatanku kembali ke masa lalu, di mana suara-suara yang kukenal kembali terdengar. "Sombong sekarang kamu Krisna."

"Entar dulu." Aku mencoba menebak suara siapa ini. Wajah-wajah berkelabatan dalam ingatanku. Enam, eh bukan, tujuh tahun masa studiku di pondok membuatku sulit mengingat semuanya. Terlalu banyak teman yang sudah lama tak kuhubungi. "Ini siapa ya?"

Lawan bicaraku terdiam di ujung telepon. Nafasnya terdengar jelas.

*****

Malam itu, ia datang dengan darah yang mengalir di sekujur tubuh. Pintu apartemen ku bergetar sangat keras, seolah-olah seseorang menjatuhkan batu dan hampir saja membuat pintunya berlubang. Aku segera berlari ke depan, penasaran dan khawatir, terhadap apa yang terjadi. Segera kubuka kuncinya dan kutemukan sesosok tubuh berbaring di lorong. Kubalik tubuhnya yang -ah, penuh darah!- dan kudapati wajah sahabatku di sana.

"Krisna!" Tanpa sadar aku berteriak. Suaraku menggema dalam beberapa detik. Kuharap tetangga-tetanggaku tidak terbangun. Ini sungguh larut malam dan mendekati dini hari.

"Jangan berteriak," dia mencoba berbicara. "Aku susah payah ke tempatmu untuk bersembunyi. Kamu malah teriak."

"Oke oke," aku bingung, tak tahu harus melakukan apa. "Ayo masuk dulu."

Akhirnya kutarik -tidak, kugeret- tubuhnya melintasi lantai ruangan. Warna merah darah menodai lantai kamarku. Di saat seperti ini aku tak peduli lagi pada ubin-ubin mahal yang kupasang. Aku mencapai kasur dan mengangkat tubuh Krisna ke atasnya.

Krisna berteriak. Luka-lukanya terbuka tanpa sengaja. Kulepas pakaian hitam yang melekat pada tubuhnya. Hei, pakaian itu benar-benar melekat. Bau amis darah menguar. Dari telapak tangan hingga siku, hanya ada warna merah. Kututup hidung dan mataku. Aku mencoba berkonsentrasi. Krisna telanjang bulat di atas kasur, memperlihatkan luka-lukanya di sekujur tubuh. Hei, luka apa itu?

"Nanti kuceritakan," Krisna berbicara lirih. Simpati muncul dalam hatiku. Kubayangka ia berjuang sendirian setelah tragedi hilangnya Abdu. "Tolong bersihkan luka-lukaku."

Aku berlari ke dapur. Kubuka kotak P3K dan kuambil beberapa kasa, cairan antiseptik, dan alkohol. Tak lupa kuambil beberapa botol air minum. Krisna terlihat sangat parah. Aku kembali ke kasurku di tengah-tengah apartemen. Wajah Krisna menghadap langit-langit, dengan segala kepasrahan yang tampak.

"Kau tak apa?" Krisna memulai percakapan. Aku diam sembari menyiapkan perlengkapan. Kubilas luka-lukanya hingga ia berteriak. Suaranya memenuhi ruangan bersama amis darah. Aku tak mampu lagi menggambarkan bagaimana hancurnya suasana ini: bebungaan yang kuletakkan di beberapa sudut tak lagi memperindah. Kini hanya ada aku dan Krisna. Dan ia masih mencoba berbicara. "Maafkan aku datang di kondisi yang seperti ini."

"Tak apa," jawabku singkat. Aku sudah lama mendengar ambisinya, sejak dari pondok, kurasa. Dan Krisna adalah lelaki yang keras kepala. Keteguhan hatinya adalah nama lain. Sebagai teman, kami hanya bisa menasihatinya. Toh, Krisna terbuka kepada teman-temannya. "Sekarang, jangan bicara dulu. Nafasmu membuat sulit."

Ia terdiam. Kuambil bantal -ah, kenapa yang putih?- lalu kuangkat sedikit kepalanya agar bisa bersandar hingga Krisna dapat menghadap jendela. Kuatur kembali peralatanku. Setelah kubersihkan luka-lukanya, aku siap menjahit. Yah, ini bukan keahlian semua orang. Dan keputusan yang sangat tepat bagi Krisna mendatangiku. Ia tahu semua potensi teman-temannya, termasuk diriku.

"Hei," Krisna memanggilku. Aku mengambil kursi dan mendatanginya. Kuletakkan semua peralatan bedahku di samping wajahnya. Tidak banyak tempat yang tersedia dan keadaan Krisna mendekati gawat. "Di mana Mira?"

Aku terdiam. Waduh, kataku dalam hati. Kenapa anak ini bisa ingat Mira?

"Itu di jendela," Krisna menunjuk sebuah bingkai di atas meja. Aku mengambil sebuah botol plastik berisi -apa ini ya? aspirin kayaknya- dan melemparnya ke arah bingkai foto itu. Suara kaca memecah keheningan. Krisna kaget dengan sikapku. Kulanjutkan pengobatan yang kulakukan: menjahit luka-luka Krisna diiringi teriakannya. "Sejak kapan?"

"Apanya?" kutanya balik. Ia mengerang seiring dengan tusukan demi tusukan. Ini baru satu luka gores: ia datang dengan puluhan luka gores lainnya, belum lagi lubang-lubang yang sepertinya berisi peluru. "Maksud kamu si Mira?"

"Iya," jawabnya dengan sedikit mengerang. "Sejak kapan kalian pisah?"

Wah, anak ini pasti ikut campur, batinku. Setidaknya aku diam saja hingga semua ini selesai. Krisna memandang wajahku dan terdiam. Aku menghembuskan napas sekali dan kembali melanjutkan penjahitan. Krisna seperti baru saja kabur dari suatu ritual terlarang, dan ia hampir dikorbankan untuk mencegah bencana datang kepada suatu kaum. Hal itulah yang kusimpulkan dari betapa parah keadannya.

"Kalau kau tak mau cerita, gak papa," Krisna membalas suara hatiku. Ia tahu aku mengalami hal pahit yang tak ingin kuingat kembali. Dan begitulah Krisna selalu menjadi teman kami: meskipun tampak cuek dan tak peduli, kenyataannya berbanding tebalik. Dengan kemaampuannya membaca ekspresi wajah, ia selalu membantu kami -teman-temannya, dengan sepenuh hati. Meskipun kadang terasa menjengkelkan. "Setidaknya nanti saya masih bisa ketemu Mira."

Aku tersenyum. Kuselesaikan jahitan demi jahitan, luka demi luka. Krisna masih terbaring di atas kasur. Kuperintahkan agar ia untuk tetap beristirahat. Dari cerita teman-temanku yang pernah menolongnya juga dalam keadaan seperti ini, Krisna seringkali kabur dan meninggalkan tempat dalam keadaan yang belum benar-benar pulih. Sepertinya hal itu juga akan terjadi padaku. Toh, kehidupanku juga tak akan berubah banyak meskipun ia pergi lebih cepat ataupun tetap tinggal di sini. Aku kembali ke dapur, mencuci tanganku dan meletakkan kembali peralatan ke kotak P3K.

Yang tak kusangka, Krisna masih tetap terdiam di kasur. Ia sadar dalam keadaan duduk. Di tangannya selembar kertas -eh, bukan. Ia berbalik menyadari keberadaanku dan mengangkat kaki kanannya ke kasur. Di tangannya itulah fotoku bersama Mira. Yang tadi telah kujatuhkan dengan melempar botol aspirin. Wajahnya bertanya-tanya: ada masalah apa kalian berdua

Aku ikut duduk di atas kasur. Kutawarkan ia secangkir kopi yang baru saja kubuat. Ia mengambilnya dan menyeruput sedikit, lalu meletakkannya di atas meja kecil. Malam ini, Krisna pasti akan memaksaku agar terus terjaga hingga pagi. Sembari bercerita, ke mana perginya Mira dan kenapa kami berpisah.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir