Seorang Nabi di Kota Kecil
"Ada apa?" Ia bergerak ke batu lain. Mengendap secara perlahan, mencoba menghilangkan aura keberadaan dan menyatu dengan hutan. Nafasnya tenang, meski berlari melalui jarak yang jauh dari kaki bukit. Aku mengikutinya dengan tergesa. Mencoba menyamakan langkah kaki dengannya yang menurutku terlalu cepat. Eyris ahli dalam berburu. Aku jarang ikut dengannya pergi ke hutan. Hari ini ia berniat memburu banyak -entah dapat rusa atau sekedar burung. Oleh karena itulah ia mengajakku. "Jangan bilang itu semacam kabar buruk untuk kita."
"Bukan, bukan," kataku. Meski berwajah tenang dan tampak pendiam, Eyris sangat terganggu dengan kabar dari kota. Ia pernah berkata padaku kalau keadaan kota sangatlah berantakan: selokan-selokan bau yang ditutupi bebungaan, gedung-gedung tinggi berlumut dan rentan ambruk, dan langit yang menghitam. Orang-orang kota -menurutnya- berperawakan tinggi, kurus, dan terlihat sangat menyedihkan. Hidangan yang mereka sajikan di atas meja makan berukuran sangat kecil dan mahal: Eyris tidak pernah makan ketika berkunjung ke kota atau melewatinya. Oleh karena itu ia lebih sering membawa bekal makanan yang kusiapkan di rumah ketika bepergian. Pekerjaannya mengharuskan ia berkelana dari satu kota ke kota lainnya. "Ini bukan kabar dari ibukota atau kota-kota besar."
"Lalu, dari mana?" Eyris menembak rusa yang telah ia bidik sejak tadi. Teriakan terdengar sebentar, diiringi kepakan sayap burung-burung kecil yang menghambur pergi. Ia mendatangi mayat rusa itu dan duduk di hadapannya: Eyris menutup mata kecil si Rusa, lalu mengangkutnya ke pundak.
"Kabar ini dari Kota Lereng Bukit." Aku mengikutinya yang berjalan menuruni bukit. Kami kembali ke rumah membawa pulang hasil buruan. "Seorang nabi muncul di sana."
Eyris terdiam. Matanya yang tajam menatapku. Seolah-olah tak percaya, ia berbalik padaku dan bertanya. "Benarkah?"
"Aku tak tahu," kataku menjawabnya. Aku kembali mengajaknya berjalan, melangkahkan kaki melalui daun-daun hijau yang lebih dulu gugur di musim ini. "Oleh karena itu aku ingin mengajakmu pergi ke sana."
Eyris terdiam sepanjang perjalanan pulang. Diamnya membuat suasana hutan menjadi lebih hening dari biasanya. Atau mungkin kami berburu terlalu jauh?, pikirku. Tapi sepertinya tidak. Sepertinya perasaanku saja yang membuat kondisi seperti ini. Salahku memberitahunya kabar ini di saat yang kurang tepat.
Ya. Kami adalah pencari kebenaran. Kabar seperti ini sangatlah kami tunggu. Terutama bagi Eyris yang ditinggal mati Ayahnya belum lama ini -kira-kira tiga minggu yang lalu. Dan pesan Ayahnya untuk mencari keberadaan nabi membuatnya berkelana. Hal itu jugalah yang membuat ia menerima pekerjaan di berbagai kota. Ia berharap menemukan kebenaran dalam perjalanannya.
Aku berharap kami segera sampai. Tapi nyatanya hutan ini terasa semakin panjang. Jalan setapak yang alami ini seperti tak berujung.
*****
"Kau bilang dia kakakmu?" Lelaki itu bertanya padaku yang duduk di hadapannya. Eyris sendiri masih berdiri sejak tadi dan memperhatikan interior ruangan tempat lelaki itu menjamu kami. Wajahnya menampakkan rasa penasaran yang cukup tinggi. Dalam beberapa detik saja ia sudah mengelilingi seluruh penjuru ruangan. "Yah, kami memang tidak mirip karena kami tidak sedarah. Dia tinggal di rumahku karena ayahnya baru saja meninggal dunia..."
Lelaki itu menundukkan kepalanya dan bergumam dalam bahasa yang tidak kumengerti.
"...dan dia berperan sebagai seorang kakak di rumahku. Toh, dia memang benar-benar lebih tua dariku."
Eyris menghampiriku dan memukul kepalaku. Ia duduk di sampingku dan menghadap pada lelaki itu. Di kepalanya sudah tersedia beribu pertanyaan yang siap ia ajukan untuk lelaki yang oleh penduduk kota ini disebut nabi. Tapi Eyris terlambat. Lelaki itu sudah beranjak dari kursinya dan pergi ke belakang dengan pesan ia akan menyiapkan minuman.
"Aku meragukan lelaki itu." akhirnya Eyris berbicara. Wajahnya kini tampak bingung. Jari-jemari kakinya tak berhenti bergerak. Tangannya bergetar. Mendengar kata-kata semacam itu juga turut membuat diriku ragu. Lalaki ini tidak meyakinkan. Dia tidak seperti ekspektasi kami terhadap sesosok nabi. Ia terlalu muda, meskipun pembawaannya menampakkan ia sosok yang bijak. Pakaian yang ia kenakan terlalu sederhana: ia tidak seperti penduduk kota ini. Lelaki itu lebih tampak seperti kami, penduduk hutan yang jarang ke kota membeli kain. "Apa kamu yakin dia sang Nabi?"
"Memangnya kau pernah bertemu salah satu dari mereka?" kataku membalas pertanyaannya. Eyris menggeleng. Ia telah berkelana ke berbagai kota di benua ini, tapi tak pernah menemukan satu pun dari mereka. Menurut ayahnya, para nabi muncul satu per satu di zaman ini. Mereka tidak pernah bertemu satu sama lain, kecuali dalam bentuk roh yang tak terlihat. Hanya mereka yang memiliki tanda kenabianlah yang pantas bertemu dengan nabi sebelumnya. "Kita minta lelaki itu menunjukkan tanda kenabiannya saja."
"Ayo kita kembali," Eyris beranjak dari kursi, lalu mendekati pintu. Sepertinya ia benar-benar ragu, atau belum siap bertemu. Tapi, belum saja mencapai daun pintu, lelaki itu kembali sembari membawa dua cangkir dengan kepulan uap. Aku segera menarik tangan Eyris dan memaksanya duduk. Ia menurut saja dan kembali duduk. "Kalau ia tidak bisa menunjukkan tanda kenabiannya, kita cepat kembali."
Lelaki itu mempersilahkan kami berdua untuk mencoba minumannya. Aku mengambil dan mencicipinya sedikit. Rasa nikmat menyambar lidahku dan sontak aku sedikit berteriak.
"Wah, minuman apa ini?" aku mecobanya untuk kedua kali. Air berwarna coklat bening itu membuatku takjub. Aku melirik ke arah Eyris dan meyakinkan dia untuk mencoba minuman itu juga. Kupandangi lelaki itu, dan ia hanya tersenyum. "Dari mana kamu mendapatkan minuman ini?"
"Orang-orang dari Barat menyebutnya 'kamelia'," lelaki itu menjawab. Aku terus mendengar penjelasannya sembari memegang cangkir: minuman ini membuatku segar. Seolah-olah aku tak ingin dipisahkan darinya. Lelaki itu pergi ke belakang untuk kedua kalinya dan kembali dengan teko berisi kamelia. "Pedagang dari Timur yang membawanya. Di sini, daun kamelia sudah menjadi komoditas yang bernilai jual tinggi. Penduduk menyukainya, seperti aku juga."
Eyris juga menikmati kamelia itu. Wajahnya tak berhenti menampakkan ekspresi ketakjuban. Ia tersihir dengan rasanya yang nikmat. Kami terbuai dengan minuman ini sebelum akhirnya lelaki itu meyadarkan kami.
"Jadi," lelaki itu menghadap ke arah kami. Matanya bergantian menatap Eyris dan diriku. "Apa urusan kalian kemari?"
*****
"Dirba'an adalah pendatang. Dia bukan penduduk asli kota ini," begitu kata seorang tetangga lelaki itu. Setelah menyanggupi permintaan Eyris untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan keilahian, Dirba'an meminta seorang tetangganya yang merupakan seorang pengrajin kaca untuk menemani kami berjalan kaki menyusuri kota. Tetangganya itulah yang kini berjalan bersamaku dan menjelaskan riwayat hidup Dirba'an. "Meski begitu, ia adalah nabi di kota ini."
"Mengapa ia disebut nabi?" tanyaku penasaran.
"Ia pandai dalam pengobatan. Penduduk kota ini datang berbondong-bondong datang kepadanya" pengrajin kaca itu menjawab. "Selain itu, ia tak pernah mengakui kehebatan pengobatannya. Ia selalu berdalih kemampuannya berasal dari Tuhan. Begitu pula dengan rasa sakit, kesehatan, dan takdir. Lalu, agar orang-orang mampu mempelajari kemampuannya, ia menulis buku tentang itu."
Aku mencoba mencerna kata-kata si pengrajin kaca. Dari penampilannya, Dirba'an bukan sosok lelaki yang sibuk. Tak kusangka sosoknya lebih hebat.
"Dia datang sekitar empat tahun yang lalu. Pada suatu malam, ia sampai di gerbang utara kota ini, dalam keadaan miskin dan sangat kelaparan. Ia tidak membawa apa pun, selain pakaian yang ia kenakan. Maka dibawalah ia ke rumah Gubernur untuk tinggal."
"Gubernur?" aku bertanya. "Apa itu?"
"Pemimpin," lelaki itu tertawa sebelum menjelaskan. "Kami menyebut pemimpin kota ini dengan sebutan Gubernur."
"Lalu, dari mana Dirba'an berasal?" tanyaku kembali. Dari cerita-cerita Eyris selama ini, aku mendapati orang-orang di luar benua sangat berbeda. Mereka memiliki warna kulit, bentuk telinga, dan tinggi badan yang beragam. Tapi aku tak melihat Dirba'an berbeda. "Apa ia dari benua ini juga?"
"Ya. Dia masih berasal dari benua ini." pengrajin kaca itu menjawab. "Tapi asal kau tahu, di selatan sana ada sebuah kerajaan yang berpuluh kali lipat lebih besar dari kota ini. Dan Dirba'an berasal dari kerajaan itu."
"Apa dia kabur dari kerajaannya?" aku bertanya dengan bisikan. Pengrajin kaca itu paham dengan gelagatku dan memeberitahu bahwa mengetahui masa lalu Dirba'an bukanlah masalah. "Apa yang membuatnya kabur?"
Pengrajin kaca itu tak menjawabnya. Menurutnya, aku harus mengetahui jawaban itu langsung dari sang Nabi. Terkadang, untuk mengetahui hakikat, kita tak boleh dihalangi dosa-dosa kita.
Tanpa terasa, kami berempat telah sampai pada suatu lapangan luas yang hanya diisi pepohonan dan bebatuan. Rumputnya bergoyang seiring lantunan angin, disiram mentari sore yang mengintip dari puncak bukit. Tempat ini tenang dengan segala keheningannya yang penuh. Dirba'an mengajak kami untuk duduk di sebuah petak kosong. Ia membuka kotak kayu yang ia bawa, mengeluarkan teko berisi kamelia yang kami sukai. Ia mempersilahkan Eyris, aku, dan si pengrajin kaca untuk menikmatinya. Ceritanya berhenti di sini. Dalam suatu naskah yang ia simpan sendiri.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?