Rumah Sakit dan Wajah-Wajah yang Tampak Serupa

gambar saya ambil dari gugel, bukan foto sendiri. Terus itu kursi tunggu juga udah ganti jadi lebih empuk

Setelah terombang-ambing akibat ketidakjelasan dari pihak BPJS, akhirnya pagi hari ini saya pun berangkat ke Klinik Eksekutif RSUD Sidoarjo. Dengan ditemani umi, saya pun memeriksakan keluhan saya ke dr. Harnowo di Poli Bedah Umum. Keluhan yang saya utarakan sama. Penyakit yang telah membuat saya lebih memilih berbaring daripada keliling rumah saudara ketika hari raya.

Saembari menunggu panggilan, saya mencoba menyibukkan diri dengan scroll instagram. Tidak ada yang baru. Hanya beberapa hasil pertandingan kualifikasi Euro tadi malam. Tim jagoan saya, Jerman, berhasil menang 8-0 atas Estonia. Itu sudah wajar. Selain tim lawan yang lemah, skuat Jerman saat ini mulai fokus pada regenerasi akibat kekalahan mereka di Rusia kemarin. Tapi ternyata baterai hape saya mulai melemah. Tinggal 20% dan sudah memerah. Saya pun menitipkannya di loker tempat pengisian charger.

Tanpa hape di tangan, membuat saya lebih memperhatikan sekitar. Ya, kayak gini lebih bagus, saya membatin. Tadi itu masih cukup pagi. Sekitar setengah delapan. Bahkan dokter yang saya tunggu belum masuk pada jadwalnya.

Terakhir kali saya ke Klinik Eksekutif adalah ketika masa-masa nihaie atau kelas enam. Ketika itu, akibat olahraga yang berlebihan, saya terserang bronkitis. Ternyata, pentakit itu telah ada sejak saya kecil, dan baru kambuh di usia 18 tahun. Dua tahun yang lalu. Saya sebagai santri nihaie, yang awalnya harus menjaga pondok dan menjalani kegiatan kenihaiean, akhirnya memberanikan diri untuk izin pulang. Sakit saya tidak bisa disembuhkan dengan surat jalan saja. Saya memang harus dirawat secara intensif untuk meredakan penyakit itu, meskipun tanpa opname.

Kini, di tengah-tengah rasa sakit yang saya derita, saya mencoba memperhatikan sekitar. Dan apa yang saya pahami dari penglihatan saya, adalah wajah-wajah yang serupa.

Ya. Pengunjung rumah sakit, baik itu pasien atau pengantar, seolah-olah pernah saya temui. Mereka adalah warga kota, yang serupa dengan saya: mendiami rumah-rumah sederhana dengan cicilan setiap bulannya, mengendarai kendaraan bermotor yang semakin hari memenuhi kota, dan mungkin saja membawa tas yang sama-sama dibeli di Tanggulangin dengan harga murah. Saya semakin sadar bahwa saya lahir di sini, meski berkembang di berbagai kota lain. Wajah masyarakat yang saya temui di rumah sakit, adalah bagian kecil dari wajah kota saya, kota satelit yang menjadi tumpuan Surabaya. Wajah-wajah ini, adalah potret urbanisasi yang semakin menggila di setiap harinya.

Seorang bapak paruh baya datang bersama istri dan seorang putrinya. Decit kursi rodanya memenuhi lorong rumah sakit. Beberapa orang memandangnya, mencoba menyembunyikan wajah 'merasa terganggu'. Begitu pula saya. Gadis muda yang mendorong kursi rodanya menggunakan setelan berwarna krem, dengan kacamata dan wajah malu-malu. Mereka bertiga menemukan kursi tunggu yang kosong dan duduk di sana, agak jauh dari tempat saya.

Dari pintu ruangan dokter, nama saya dipanggil. Bergegaslah saya untuk masuk dan berkonsultasi. Hasilnya, saya musti operasi. Tidak ada jangka waktu tertentu kapan saya musti melakukannya. Setidaknya, ketika level penyakit saya mencapai titik akut, maka tindakan operasi harus diambil.

Saya, lagi-lagi, menulis ini dengan menahan rasa sakit. 

Komentar

  1. Semoga Allah cepat mengangkat penyakit adik Ator dan semoga adik Ator cepat sembuh tanpa operasi, aamiin.

    BalasHapus

Posting Komentar

Apa pendapatmu?

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir