Review Batak Ethnic Associations in Three Indonesian Cities
Judul
|
Batak Ethnic Associations in Three
Indonesian Cities
|
Penerbit
|
SOUTHWESTERN
JOURNAL OF ANTHROPOLOGY
|
Tahun
|
1972
|
Penulis
|
EDWARD M. BRUNER
|
Reviewer
|
Fariduddin Aththar (185110800111020)
|
Tanggal Review
|
26 Maret 2019
|
Backgrounds
Sebagai
pendahuluan, dijelaskan bahwa Batak Toba adalah penduduk perbukitan Sumatra
Utara, dengan sistem kekerabatan patrilineal dan patrilokal, serta
bermatapencaharian sebagai petani padi basah. Jumlah populasinya lebih dari
satu juta, yang membuat mereka menjadi suatu suku besar di antara suku Batak
lainnya. Kontak dengan kolonial dari Barat telah membuka akses pendidikan
sehingga membuat arus urbanisasi Batak Toba meningkat pesat. Dalam hal ini,
Batak toba merantau ke kota-kota besar yang terus-menerus berkembang dan hanya
tiga kota besar yang dijelaskan dalam penelitian komparatif ini: Medan,
Bandung, dan Jakarta. Dominasi Batak Toba di tiga kota besar tersebut sangat
luas dan melingkupi semua struktur masyarakat: dari jabatan tinggi di kementrian,
hingga pekerjaan kotor seperti pencuri. Orang Batak memegang teguh identitasnya
sehingga tetap terikat dengan adat dan tradisi Batak asli. Hal itulah yang
membuat komunitas Batak tetap terikat dengan kuat, sebagaimana komunitas
imigran lain seperti Arab, Cina, dan lainnya.
Medan
Di
Medan, Sumatra Utara, orang-orang Batak masih memiliki ikatan yang kuat karena
perbedaan jarak dengan tempat asal tidak terlalu jauh. Tetapi kondisi seperti
itu juga tidak membuat orang Batak Toba sama. Orang Batak Toba musti tergabung
dalam kelompok-kelompok sukarela seperti partai politik atau Jemaah gereja.
Tetapi kelompok yang paling berpengaruh tentu saja adalah asosiasi klan yang
terdiri dari beberapa keluarga Batak Toba. Struktur sosial di dalamnya
didasarkan pada garis keturunan, tempat tinggal, dan kepentingan bersama. Untuk
bergabung dengan asosiasi klan, orang Batak mesti menetap di Kota Medan dan
melamar anggota lain. Karena itulah, aosiasi klan adalah bentuk lain dari
sistem kekerabatan Batak Toba di Kota Medan. Selain itu, anggota asosiasi juga
wajb membayar iurang bulanan dan bentuk sumbangan lain demi perkembangan dan
kesinambungan asosiasi.
Bandung
Di
Bandung, penelitian difokuskan pada komunitas Pardomuan, sebuah asosiasi yang
beranggotakan semua klan Batak dari setiap etnisnya, tidak hanya Batak Toba.
Asosiasi ini melingkupi semua orang Batak tanpa melihat ernis maupun agamanya.
Didirikan dengan dua tujuan utama, yaitu tujuan adaptasi agar imigran baru yang
datang dari tanah Batak Sumatra dapat berbaur dengan masyarakat Batak di tanah
Sunda dan memperoleh pekerjaan, tempat tinggal, serta lingkungan yang layak.
Tujuan lain dari asosiasi ini adalah untuk memperkuat ikatan kekerabatan
antar-orang Batak serta memperkenalkan eksistensi Batak ke sekitarnya. Perlu
diketahui bersama bahwa persepsi penduduk Jawa, baik dari Sunda maupun Jawa,
terhadap orang Batak sangat beragam. Hal itu dikarenakan arakteristik mereka
yang terkesan kasar dan keras, serta memakan babi yang bagi mayoritas penduduk
Jawa Muslim tidak boleh dimakan. Oleh karena itulah, perlu dibedakan antara
Batak Muslim dengan Kristen maupun Katolik. Meski begitu, persatuan dan visi
kesatuan di lingkup Batak tetap terjaga sehingga muncullah asosiasi Pardomuan
ini. Sayangnya, seiring perkembangan zaman dan meningkatnya populasi Batak
secara kuantitatif, asosiasi ini tidak lagi aktif dan suku Batak di Bandung
terdiferensiasi dalam klan-klan yang terpisah.
Jakarta
Jika
di Bandung fokus penelitian dilakukan pada Pardomuan yang merupakan asosiasi
dari keseluruhan klan Batak, maka di Jakarta difokuskan pada klan Siahaan. Hal
ini dilakukan melihat populasi klan Siahaan yang kurang lebih setengah dari
keseluruhan etnis Batak di Jakarta. Selain itu, klan Siahaan adalah klan yang
terorganisir; struktur dan sistem kekerabatan mereka yang teratur dari tingkat
yang tertinggi hingga terendah serta administrasi penduduk yang rapi. Hal ini
dilakukan melihat kompleksitas kota Jakarta yang terdiri dari berbagai suku
bangsa, bahasa, dan budaya sehingga untuk menyatukan kekerabatan, dibutuhkan
upaya yang keras agar tidak ada orang Batak Toba, terutama klan Siahaan, yang
tersisihkan.
Batak Ideas
Meskipun
terdiferensiasi antara satu kota dengan kota lain, masyarakat Batak, di manapun
ia berada memiliki beberapa kesamaan dasar. Hal ini dilakukan untuk memperkuat
serta mempertahankan identitas yang tersemat. Dalam hal ini,
“orang Batak adalah orang Batak, dan meskipun ia mungkin pindah dari desa ke kota, ia tidak mengubah diri dasarnya atau ideologinya dalam perjalanan.”Sistem kesatuan asosiasi Batak Toba setidaknya dicirikan dengan dua hal, yaitu kesinambungan darah secara genealogi dalam arti satu keturunan dan kesamaan wilayah dan teritori. Oleh karena itulah, di luar kedua ciri tersebut, tidak sembarang orang Batak dapat bergabung dengan asosiasi yang ada, terutama di Medan. Pilihan yang berbeda dapat ditemukan dalam asosiasi dengan anggota perantauan seperti di Bandung dan Jakarta-tetntu dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku.
Discussion
Jika
dilakukan perbandingan antara asosiasi Batak dengan asosiasi suku lain dengan
jumlah imigran besar seperti Tionghoa. Dalam asosiasi Tionghoa, yang tersebar
ke seluruh penjuru dunia dan menempati pinggiran-pinggiran kota besar, sistem
keanggotaan tidak bersifat kerabat, sehingga asosiasi itu menjadi substitute
kultur asli. Dalam perumusan tujuan-tujuannya, semua bentuk asosiasi selalu
memiliki kesamaan, yaitu untuk saling membantu, tempat beradaptasi, dan
pengukuhan identitas. Tidak terkeceuali dalam asosiasi suku Batak Toba. Hanya
saja, asosiasi itu juga bersifat kekerabatan, dalam arti anggota asosiasi
adalah anggota keluarga, atau setidaknya berkerabat. Oleh karena itulah, dalam
penelurusan selanjutnya, ditemukan setidaknya ada empat tujuan dibentuknya
asosiasi itu, antara lain: untu saling membantu, untuk mempertahankan dan
melestarikan adat untuk meningkatkan standar hidup para anggota, dan
mengadaptasi budaya Batak sehingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
budaya nasional Indonesia.
Conlussion
Kesimpulan
yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa masyarakat Batak Toba,
dalam bermigrasi lalu menetap di kota-kota besar itu, yaitu Bandung, Medan, dan
Jakarta telah mengembangkan suatu sistem tersendiri yang polanya sama dengan
asosiasi suku bangsa lain, tetapi dengan kekerabatan yang erat dan identitas
kultural yang kuat. Oleh karena itulah, dalam perkembangannya, bentuk asosiasi
ini bisa saja tetap hidup maupun dibubarkan oleh situasi dan kondisi.
Diperlukan penelitian lanjutan untuk memperkaya dan memperbaharui data penelitian
yang ada. Selain itu, perkembangan zaman yang semakin maju memunculkan
kota-kota besar baru: Surabaya, Semarang, Malang, dan Yogyakarta. Kemunculan
kota-kota besar setelah milenial baru memungkinkan penelitian asosiasi Batak
Toba atau suku lain di kota-kota tersebut.
Bibliography
Burner, E. M.
(1972). Batak Ethnics Association in Three Indonesian Cities. Southwestern
Journal of Anthropology, 207-229.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?