Sejarah Teori Antropologi 2: Antropologi dan Penelitian Komparatif
Penentang
dan Pendorong Penelitian Komparatif
Ilmu antropologi didasarkan pada
penelitian komparatif terhadap ratusan hingga ribuan kebudayaan di dunia. Walau
demikian, ada pula beberapa peneliti (terutama para-antropolog Inggris) yang
menolak pendekatan ini karena setiap kebudayaan haruslah diteliti secara
holistik dari setiap aspeknya sehingga pendekatan komparatif dapat melepaskan
aspek kebudayaan dari masyarakatnya. Oleh karena itulah kemudian terjadi
perbedaan antara antropolog komparatif dan non komparatif agar kedua kelompo
itu dapat saling menunjang. Ada empat macam penelitian komparatif: a) bertujuan
menyusun sejarah kebudayaan manusia secara inferensial, b) bertujuan
menggambarkan suatu proses perubahan kebudayaan, c) bertujuan untuk taxonomi
kebudayaan, dan d) bertujuan untuk menguji korelasi antar aspek kebudayaan demi
generalisasi tingkah laku manusia secara umum.
Sejarah
Kebudayaan Inferensial
Sudah ada beberapa contoh
sejarah pendekatan komparatif yang dilakukan seperti evolusi kebudayaan dan
difusi. Begitu pula evolusi masyarakat yang mana semuanya dibangun dari
kerangka kebudayaan
Proses-Proses
Perubahan Kebudayaan
Metode komparatif diakronik
digunakan antropolog untuk meneliti aspek kebudayaan dari suatu masyarakat
dengan perbandingan waktu tertentu. Sedangkan metode komparatif sinkronik dilakukan
antropolog untuk meneliti dua kebudayaan dari satu etnik yang sama tanpa ada
interval waktu.
Taxonomi
Kebudayaan
Taxonomi kebudayaan tidak lebih
dari sekedar klasifikasi kebudayaan dari semua masyarakat di dunia, tapi
urgensinya juga cukup diperhitungkan dalam perkembangan ilmu antropologi.
Evolusi secara mendasar pun melakukan klasifikasi perkembangan manusia dari
tahap primitive hingga modern. Salah satu bentuk klasifikasi yang dikecam
adalah tipologi kebudayaan berdasar struktur sosial yang dilakukan
Radcliffe-Brown. Tapi konsepsinya tetap diterima dan dicarikan metodenya yang
paling tepat untuk penelitian lebih mendalam. Metode yang diusulkan F. Eggan
juga menganjurkan analisis kebudayaan dalam daerah dengan ruang lingkup
terbatas yang kemudian disebutnya culture
area.
Salah satu bentuk tipologi
kebudayaan adalah apa yang telah dilakukan G.P. Murdock. Beliau
mengklasifikasikan 250 Kebudayaan dunia dalam enam tipe pola kekerabatan,
yaitu: Hawaii (generation), Eskimo (lineal), Iroquois (bifurcate merging),
Sudan (bifurcate-collateral), Omaha, dan Crow.
Contoh lain bentuk penelitian
komparatif adalah macam-macam klan yang dikemukakan oleh M. Fried yang kemudian
dibaginya menjadi delapan: egalitarian
clan, ranking clan, stratified clan, ranking and stratified clan, egalitarian
lineage, ranking lineage, stratified lineage, dan yang terakhir ranking and stratified lineage. Klasifikasi
itu didasarkan pada dua hal, yaitu: sejauh mana klan mempunyai fungsi sebagai
korporasi yang memanajerisasi harta kekayaan dan sejauh mana antarklan dalam
suatu masyarakat bersifat sama rata, bertingkat, atau berlapis.
Penelitian
Komparatif untuk Menguji Korelasi dan Memantapkan Generalisasi
Penlitian semacam ini telah
dilakukan oleh E.B. Tylor dengan tujuan mendapatkan generalisasi antara
unsur-unsur yang berkaitan. Contoh lain bentuk penelitian komparatif adalah
cross-cultural yang dilakukan Hobhouse, Wheeler, dan Ginsberg. Penelitian
itulah yang kemudian disempurnakan secara lebih lanjut oleh G.P. Murdock.
Sayangnya, tidak semua bentuk penelitian dengan berbagai
metodenya dapat sempurna. Metode penelitian komparatif cross-cultural yang
berkembang pesat dalam masa perang Dunia kedua dan setelahnya, dikritik dari
segi metode pengumpulan datanya, baik sampel maupun statistikanya. Oleh karena
itulah, meski belum sempurna sepenuhnya, metode ini terus dikembangkan dan
terus dipakai hingga saat ini.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?