Rania: Tokoh Utama dalam Ranting Mawar Patah
Jangan salahkan aku ketika
harus selalu tersenyum sendiri
ini hanya perihal kesenangan
dan aku senang menatapmu
*****
Entah kenapa, saya terpikir untuk menulis tentang Rania. Ia adalah salah satu tokoh yang saya persiapkan dalam alur cerita Visnuyash, entah ia akan muncul di mana. Sejauh ini, dalam kisah-kisah Visnuyash versi Farid Krisna yang saya post di blog ini, ia belum muncul sama sekali. Dulu, ketika masih SMA, masih di pondok, saya udah menruhnya dalam alur Visnuyash 2: Topeng. Tapi cerita pendek itu kemudian menghilang, kemungkinan besar saya lupa menaruh file itu di mana. Dan untuk menuliskannya kembali, butuh waktu yang sangat tepat. Karena kisah Farid Krisna sendiri belum kembali.
Ya, saya masih belum siap melanjutkannya.
Kali ini, saya akan mengulas sosok bernama Rania yang di kemudian hari -doakan saja- akan saya masukkan dalam alur cerita besar Visnuyash.
Secara singkat, Rania adalah teman pondok dari Abdullah, si tokoh utama. Ia -dalam pandangan saya- akan seumuran dengan Abdullah dan karena persamaan umur itulah mereka cocok dalam berteman. Mungkin, apabila dalam perkembangan nanti ia lebih senior atau lebih junior secara struktur sosial, ia akan tetap sepantaran secara umur. Pertemanan mereka terus berlanjut hingga lingkungan luar pondok, meskipun Abdullah tidak menyelesaikan pendidikan pesantrennya.
Di masa-masa perjuangannya, Rania selalu membantu Trio Dewa, baik secara moril maupun materiil. Bantuan terbesarnya adalah bagaimana ia tetap menjaga hubungan baik dengan Abdullah si Buron, meskipun ia harus menerima konsekuensi dari relasi berbahaya tersebut: Rania terkena kecelakaan dan harus duduk di kursi roda untuk selamanya. Keluarga, kerabat, dan teman-temannya berusaha menghentikan Rania untuk berhubungan kembali pasca-kecelakaan itu. Tapi Rania adalah gadis pintar: Ia berpura-pura kolaps dan bersikap seolah tak lagi peduli.
Di sisi lain, Abdullah yang menyesal atas kejadian itu berusaha untuk datang secara gentle dan menyerah kepada polisi. Ia sudah bercerita pada Farid dan Agung, kemudian pamit untuk pergi ke rumah sakit. Sayangnya, di tengah perjalanan menuju rumah sakit, ia malah melihat Rania. Itu bukanlah halusinasi atas penyesalannya: Rania kabur dari rumah sakit hanya untuk bertemu. Pertemuan mereka yang tidak disengaja membuat mereka gugup. Baik Abdullah maupun Rania hanya bisa terdiam di pinggir jalan tempat mereka bertemu. Lima belas detik penuh kekosongan akhirnya dipecahkan: Rania mengajak Abdullah untuk mengobrol di tempat lain.
Rania bekerja sebagai pustakawan. Keterbatasan yang menghimpitnya -selain karena sifat malas bergeraknya juga- membuat ia memilih pendidikan lanjut di bidang itu. Di sela-sela pekerjaannya, ia membantu Trio Dewa untuk memcahkan berbagai teka-teki sulit yang datang dari musuh-musuh mereka. Dalam kisah-kisah superhero, Rania adalah sosok asisten di belakang komputer. Kesetiaannya pada Abdullah, membuat Farid dan Agung turut percaya pada loyalitas Rania.
*****
Yah, begitulah visualisasi singkat tentang Rania. Kalau memang kurang panjang, maka akan saya tuliskan sendiri dalam kisah Ranting Mawar Patah. Sebuah kumpulan kisah dari pasangan-pasangan trio Dewa yang lain seperti Halimah, pasangan dari Agung. Kisah Farid Krisna bagian keenam, sudah mengindikasikan bahwasanya akan ada tokoh perempuan yang muncul, tetapi saya belum memikirkan namanya. Itulah salah satu alasan mengapa kisah Farid Krisna belum bisa dilanjutkan. Selain itu, jika dipaksa untuk menggunakan nama Rania atau Halimah, maka saya sendiri akan pusing ke depannya.
Ya, itulah pekerjaan seorang penulis fiksi. Ia harus mengorganisir tokoh-tokoh cerita dalam kepalanya.
harus selalu tersenyum sendiri
ini hanya perihal kesenangan
dan aku senang menatapmu
*****
Entah kenapa, saya terpikir untuk menulis tentang Rania. Ia adalah salah satu tokoh yang saya persiapkan dalam alur cerita Visnuyash, entah ia akan muncul di mana. Sejauh ini, dalam kisah-kisah Visnuyash versi Farid Krisna yang saya post di blog ini, ia belum muncul sama sekali. Dulu, ketika masih SMA, masih di pondok, saya udah menruhnya dalam alur Visnuyash 2: Topeng. Tapi cerita pendek itu kemudian menghilang, kemungkinan besar saya lupa menaruh file itu di mana. Dan untuk menuliskannya kembali, butuh waktu yang sangat tepat. Karena kisah Farid Krisna sendiri belum kembali.
Ya, saya masih belum siap melanjutkannya.
Kali ini, saya akan mengulas sosok bernama Rania yang di kemudian hari -doakan saja- akan saya masukkan dalam alur cerita besar Visnuyash.
Secara singkat, Rania adalah teman pondok dari Abdullah, si tokoh utama. Ia -dalam pandangan saya- akan seumuran dengan Abdullah dan karena persamaan umur itulah mereka cocok dalam berteman. Mungkin, apabila dalam perkembangan nanti ia lebih senior atau lebih junior secara struktur sosial, ia akan tetap sepantaran secara umur. Pertemanan mereka terus berlanjut hingga lingkungan luar pondok, meskipun Abdullah tidak menyelesaikan pendidikan pesantrennya.
Di masa-masa perjuangannya, Rania selalu membantu Trio Dewa, baik secara moril maupun materiil. Bantuan terbesarnya adalah bagaimana ia tetap menjaga hubungan baik dengan Abdullah si Buron, meskipun ia harus menerima konsekuensi dari relasi berbahaya tersebut: Rania terkena kecelakaan dan harus duduk di kursi roda untuk selamanya. Keluarga, kerabat, dan teman-temannya berusaha menghentikan Rania untuk berhubungan kembali pasca-kecelakaan itu. Tapi Rania adalah gadis pintar: Ia berpura-pura kolaps dan bersikap seolah tak lagi peduli.
Di sisi lain, Abdullah yang menyesal atas kejadian itu berusaha untuk datang secara gentle dan menyerah kepada polisi. Ia sudah bercerita pada Farid dan Agung, kemudian pamit untuk pergi ke rumah sakit. Sayangnya, di tengah perjalanan menuju rumah sakit, ia malah melihat Rania. Itu bukanlah halusinasi atas penyesalannya: Rania kabur dari rumah sakit hanya untuk bertemu. Pertemuan mereka yang tidak disengaja membuat mereka gugup. Baik Abdullah maupun Rania hanya bisa terdiam di pinggir jalan tempat mereka bertemu. Lima belas detik penuh kekosongan akhirnya dipecahkan: Rania mengajak Abdullah untuk mengobrol di tempat lain.
Rania bekerja sebagai pustakawan. Keterbatasan yang menghimpitnya -selain karena sifat malas bergeraknya juga- membuat ia memilih pendidikan lanjut di bidang itu. Di sela-sela pekerjaannya, ia membantu Trio Dewa untuk memcahkan berbagai teka-teki sulit yang datang dari musuh-musuh mereka. Dalam kisah-kisah superhero, Rania adalah sosok asisten di belakang komputer. Kesetiaannya pada Abdullah, membuat Farid dan Agung turut percaya pada loyalitas Rania.
*****
Yah, begitulah visualisasi singkat tentang Rania. Kalau memang kurang panjang, maka akan saya tuliskan sendiri dalam kisah Ranting Mawar Patah. Sebuah kumpulan kisah dari pasangan-pasangan trio Dewa yang lain seperti Halimah, pasangan dari Agung. Kisah Farid Krisna bagian keenam, sudah mengindikasikan bahwasanya akan ada tokoh perempuan yang muncul, tetapi saya belum memikirkan namanya. Itulah salah satu alasan mengapa kisah Farid Krisna belum bisa dilanjutkan. Selain itu, jika dipaksa untuk menggunakan nama Rania atau Halimah, maka saya sendiri akan pusing ke depannya.
Ya, itulah pekerjaan seorang penulis fiksi. Ia harus mengorganisir tokoh-tokoh cerita dalam kepalanya.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?