Liverpool dan Kemenangan yang Ganjil: Sebuah Ulasan
Dan meski baru mengikuti jalannya pertandingan dari menit 60-an, saya sudah bisa memprediksi bahwa pertandingan ini berjalan snagat sengit. Pertandingan yang cukup layak untuk ukuran final kompetisi tertinggi di Eropa. Tekanan juara yang dirasakan setiap pemain sangat besar, bahkan untuk tim yang sebenarnya nothing to lose seperti Tottenham Hotspur.
Yah, sebagaimana kita ketahui bersama, mencapai final Liga Champions ini bagi mereka adalah capaian tertinggi selama sejarah berdirinya klub. Belum lagi fakta bahwa mereka tidak membeli satu pemain pun di dua burs transfer -alokasi dana itu ditujukan pembangunan stadion baru- membuat fans mereka tawakkal. Tak perlu gelar juara, capaian musim ini sudah membuktikan bahwa mereka telah mencapai performa terbaik.
Hal yang perlu diingat dari Final malam tadi, adalah fakta bahwa kita tidak menyajikan pertandingan kelas atas. Ya. Final Madrid ini tak berisi pemain-pemain bintang. Kita tidak melihat kambing-alien bernama Leo, ataupun Robot-Tua-yang-tendangan-bebasnya-selalu-gol. Final kali ini mempertemukan dua tim yang baru bangkit, dengan pemain-pemain yang tidak masuk daftar legenda.
Mengulas Komposisi
Para pemain Liverpool, tanpa gelar ini, tidak akan dikenang. Firmino adalah striker pendukung, Mane dan Salah tampil labil sepanjang musim. Satu-satunya sosok yang tampil bagus sepanjang musim adalah Alisson Becker, ia tak hanya mengambil tempat Loris Karius yang beberapa kali melakukan blunder di final musim lalu tetapi juga mengambil tempat Simon Mignolet sebagai kiper utama.
Tetapi, Liverpool meski tidak berisi pemain bintang, ia bukan tim yang tidak punya mental juara. Jurgen Klopp sudah mewanti-wanti sejak kedatangannya ke Anfield untuk pertama kali, bahwasanya mereka tidak akan menggantungkan sumber lumbung gol kepada Egyptian King, Mo Salah atau kepada trio Firmansah. Oleh karena itulah, tanpa mereka sekalipun, pemain lain mencetak satu dua gol dan menjadi pemain kunci di setiap pertandingan secara bergiliran.
Kita bisa melihat Divock Origi. Ia menjadi kunci comebacknya Liverpool atas Barcelona setelah di leg pertama digunduli 3-0. Tak cukup di situ. Setelah didapuk menggantikan Firmino, tadi malam, ia masih sempat mencetak gol tiga menit sebelum bubar. Origi adalah tipe pemain yang penuh kepastian. Ia tidak mau nge-shoot jika tidak melihat adanya kesempatan. Oleh karena itulah, ia selalu diingat atas capaiannya di ajang Eropa ini dengan tiga shoot on-goal, yang semuanya menjadi gol.
Di tengah, kita melihat pemain-pemain yang tidak terlalu hebat tetapi bertangggung jawab. Captain Henderson, James Milner, Gini Wijnaldum, dan Sherdan Xhaqiri. Lancarnya aliran bola menuju depan adalah kontribusi besar mereka. Meski tidak sebagus Coutinho dalam umpan, Henderson dan Milner sangat berjaya dalam umpan silang bola mati. Oleh karena itulah, tak jarang gol Liverpool tercipta dari sepak pojok atau tendangan bebas. Dua hal yang tidak dieksplor Klopp di musim lalu.
Agak ke belakang sedikit, kita tidak bisa melupakan Fabinho. Pemain Brazil yang didatangkan bersamaan dengan Alisson ini tidak dapat dianggap remeh. Keberadaannya memperteguh pertahanan Liverpool setelah Alisson dan van Dijk. Tekelnya selalu berhasil, dengan presentase nomor dua setelah van Dijk. Oleh karena itu, tidak ada lawan yang berani menerobos melalui celah di tengah dan lebih banyak berusaha menggunakan umpan silang dari sebelah kanan. Hal semacam itulah yang dilakukan Harry Kane dan Son Heung-Min semalam.
Terakhir, garis belakang yang fleksibel. Di sana kita melihat van Dijk, Joel Matip, Joe Gomez bertahan di garis yang sama. Mode pertahanan Liverpool akan memasang mereka secara bersamaan dengan van Dijk sebagai kunci: terkadang juga memasang Lovren kalau terpaksa. Di sisi kanan dan kiri, Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson secara bersamaan membantu serangan: mereka berdua memiliki garis tersendiri sepanjang pinggir lapangan tempat mereka berlari kencang. Kontribusi keduanya membuat mereka menorehkan prestasi sebagai duo fullback dengan assist terbanyak di Premier League.
Di depan gawang, jangan pernah meragukan seorang Alisson. Setelah Karius terdepak, ia dan Mignolet bergantian menjaga jantung pertahanan Liverpool -ya meskipun Alisson lebih dominan. Tapi bukan berarti Mignolet tidak berguna. Ia dan Kallahar -kiper ketiga- menjadi rekan latihan yang sangat tepat. Bakat Alisson tidak perlu dipertanyakan. Tetapi kedua rekannya lah yang membantu ia beradaptasi dengan sepakbola Inggris yang sangat kompetitif dan membantu ia menutup kekurangannya, tendangan jarak dekat. Alisson sendiri mengkonfirmasi hal itu.
Permainan Pragmatis
Jose Mourinho, pelatih bergelar Menteri Pertahanan membenarkan taktik Liverpool yang cenderung pragmatis seperti Manchester City. Setelah unggul cepat di menit kedua melalui penalti Mo Salah, Liverpool cenderung bertahan. Untuk pertandingan selevel Final Liga Champions, hal ini memang tidak menarik untuk disajikan. Tetapi orang tidak lagi peduli dengan permainan, ia menjadi prioritas kedua setelah raihan gelar.
Kalau saja orang-orang mengharapkan permainan yang ciamik, tentu saja saya akan ikut mendukung Son Heung-Min. Permainannya berhasil membuat pertahanan Liverpool gemetaran dan kaget. Tetapi sentuhan akhirnya yang terburu-buru membuat ia tak sempurna. Jangan dibandingkan dengan Kane atau Moura. Son adalah tipikal pemain yang berbeda. Ia berani dan tidak mudah ragu.
Waktunya Mendulang Trofi
Terlepas dari taktik yang digunakan Klopp malam tadi, Liverpool memang pantas juara. Lawan yang memepermalukan mereka di Final musim lalu, Real Madrid sedang beradaptasi setelah ditinggal pergi Ronaldo. Ronaldo sendiri masih belum menemukan permainan yang pas setelah bermain di Juventus. Barcelona tidak berkutik di kandang lawan. Jawara Jerman, Bayern Munchen belum berhasil menghentikan Liverpool. Kebangkitan Ajax Amsterdam dengan pemain-pemain muda turut membantu Liga Champions agar tidak selalu diisi klub-klub besar legendaris. Dan Liverpool memang berada di puncak permainan. Mereka berhasil menjaga konsistensi permainan meski kalah dengan agregat yang besar. Itulah yang membuat mental juara tumbuh kembali di Anfield.
Saat ini, ada dua hal yang patut ditunggu dari kemenangan Liverpool, karena gelar ini bukanlah sebuah akhir. melainkan sebuah awal menuju zaman emas yang baru. Dua hal itu adalah konsistensi dan regenerasi. Konsistensi Liverpool diuji melalui Piala Eropa yang mempertemukan mereka dengan Chelsea, sebagai pemenang ajang Europa League. Kemenangan musti didapatkan, tapi bukan hal itu yang menjadi fokus utama: gaya permainan, taktik, kesadaran agar tidak terlena. Selain itu, tour yang dilakukan selama break musim ini akan menjadi ajang Liverpool mengeksplorasi pemain-pemain muda mereka, baik dari Melwood ataupun yang sudah masuk tim utama seperti Rhian Brewster, Rafael Camacho, Curtis Junior, dan Ki-Jana Hoever.
Melihat kemenangan Liverpool membuat saya teringat dengan perkataan Steven Gerrard menanggapi Jerman yang keluar sebagai Juara di Piala Dunia 2014, kira-kira begini redaksinya: "Argentina punya Messi, Portugal punya Ronaldo, dan Inggris punya Rooney, tapi Jerman memiliki sebuah tim." Hal itu mengindikasikan meratanya skill pemain Jerman di 2014, dari kiper hingga ujung tombak serangnya. Sayangnya, Jerman tidak mampu meregenerasi pemainnya hingga keteteran diempat tahun berikutnya: mereka tersingkir di babak penyisihan grup dan kalah dari Korsel. oleh karena itu, dua langkah berikutnya yang perlu Liverpool lakukan telah saya ungkap: regenerasi dan konsistensi.
Tetap Semangat Liverpool. Ini adalah awal mula. You'll Never Walk Alone!


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?