Lady Bird (2017) - Pergulatan Hidup Gadis Muda di Kota Kecil
Di detik-detik terakhir film ini, saya hampir menangis.
Lady Bird berkisah tentang kehidupan remaja bernama Christine McPherson (Saoirse Ronan) yang berusaha menjalani kesehariannya di sebuah kota kecil, Sacramento, California. Sejak masuk SMA, ia sudah bercita-cita untuk keluar dari kehidupan dan keluarganya yang membosankan. Sayangnya, ia tak memiliki banyak kekuatan dan uang, hingga akhirnya ia hanya bisa menurut pada kehendak ibunya. Ia pun bersekolah di sekolah khusus Katolik, yang memisahkan antara kelas laki-laki dan perempuan.
Sejak awal, penonton telah diberi premis awal bahwasanya Lady Bird bukanlah remaja putri biasa. Ia nyentrik dan suka mencari perhatian, meskipun ia bukan berasal dari golongan yang berada. Ketertarikannya pada dunia teater membuat ia bergabung dengan kelompok teater sekolah. Di situlah ia bertemu dengan sahabat terbaiknya, Julie dan seorang lelaki yang membuatnya tertarik, Danny. Kisah mereka terus terjalin dalam alur yang sangat baik hingga pada akhirnya Lady Bird mendapati Danny berciuman dengan seorang lelaki. Sejak itu, tidak hanya hubungan romansanya dengan Danny yang hancur, tetapi juga pertemanannya dengan Julie. Lady Bird pun mulai berhubungan dengan anak-anak elit yang berada. Dengan segala kebohongan dan kemunafikan akan hidupnya.
Premis Luar Biasa
Di tengah-tengah kumpulan film yang menyajikan superhero, sci-fi, heist, atau romansa, Lady Bird menghadirkan realita. Tingkah tokoh utamanya yang nakal luar biasanya terkadang membuat penonton bertanya-tanya: apakah anak SMA memang senakal itu? Bagi saya, bocah indo yang sejak kecil di pesantren, kelakuannya di luar batas kewajaran. Tapi, yang perlu diingat, Lady Bird tinggal di Amerika, negara sekuler yang bebas luar biasa. Meskipun ia bersekolah di SMA Katolik yang memiliki peraturan untuk menjaga jarak 15 cm ketika berdansa, mereka tetap bocah-bocah yang dilazimkan kelakuannya jika berhubungan seksual di luar nikah. Karena budaya yang berbeda, maka ukuran kenakalannya pun relatif. Tingkah nakal dan berbagai dinamika kehidupannya itulah yang membuat Lady Bird pantas difilmkan.
Apakah itu terlalu biasa? Tidak. Film seperti inilah yang musti kita nikmati untuk menjaga kewarasan. Film seperti inilah yang mengajarkan kita akan realita. Hal itulah yang juga dikatakan oleh Lady Bird ketika ditanya akan nilai-nilai akdemiknya yang tidak memuaskan.
Bintang Empat
Greta Gerwig, yang melakukan debut sutradaranya melalui film ini, berhasil membawa penonton kepada kisah Lady Bird. Ia tak perlu mengangkat isu yang berat, karena kehidupan remaja SMA labil pun cukup berat untuk diceritakan. Alur ceritanya bagus, tidak terlalu lambat atau terlalu cepat. Dengan drama dan romansa yang pas, Lady Bird benar-benar menggambarkan realita remaja di milenium yang baru. Tokoh-tokoh disorot dan ditampilkan dengan proporsional. Tidak ada satu tokoh -selain tokoh utama tentunya- yang mengambil peran Lady Bird sebagai protagonis. Secara keseluruhan, film ini sederhana tapi memukau.
Dari sekian banyak sisi, kesempurnaan film ini terletak pada moral value yang disampaikan. Ia tak diucapkan oleh tokoh-tokohnya. Ia hanya lewat dalam prilaku sehari-hari, tetapi selalu membuat penonton terpikat hingga membekas. Perjuangan Lady Bird mendapatkan kebebasan dan restu orang tua mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah. Meskipun dengan keadaan dan situasi yang tidak memungkinkan secara sosial. Christine seolah-olah mengatakan dengan sikapnya, bahwasanya...
"Manusia berusaha, Tuhan menentukan."
Lady Bird berkisah tentang kehidupan remaja bernama Christine McPherson (Saoirse Ronan) yang berusaha menjalani kesehariannya di sebuah kota kecil, Sacramento, California. Sejak masuk SMA, ia sudah bercita-cita untuk keluar dari kehidupan dan keluarganya yang membosankan. Sayangnya, ia tak memiliki banyak kekuatan dan uang, hingga akhirnya ia hanya bisa menurut pada kehendak ibunya. Ia pun bersekolah di sekolah khusus Katolik, yang memisahkan antara kelas laki-laki dan perempuan.
Sejak awal, penonton telah diberi premis awal bahwasanya Lady Bird bukanlah remaja putri biasa. Ia nyentrik dan suka mencari perhatian, meskipun ia bukan berasal dari golongan yang berada. Ketertarikannya pada dunia teater membuat ia bergabung dengan kelompok teater sekolah. Di situlah ia bertemu dengan sahabat terbaiknya, Julie dan seorang lelaki yang membuatnya tertarik, Danny. Kisah mereka terus terjalin dalam alur yang sangat baik hingga pada akhirnya Lady Bird mendapati Danny berciuman dengan seorang lelaki. Sejak itu, tidak hanya hubungan romansanya dengan Danny yang hancur, tetapi juga pertemanannya dengan Julie. Lady Bird pun mulai berhubungan dengan anak-anak elit yang berada. Dengan segala kebohongan dan kemunafikan akan hidupnya.
Premis Luar Biasa
Di tengah-tengah kumpulan film yang menyajikan superhero, sci-fi, heist, atau romansa, Lady Bird menghadirkan realita. Tingkah tokoh utamanya yang nakal luar biasanya terkadang membuat penonton bertanya-tanya: apakah anak SMA memang senakal itu? Bagi saya, bocah indo yang sejak kecil di pesantren, kelakuannya di luar batas kewajaran. Tapi, yang perlu diingat, Lady Bird tinggal di Amerika, negara sekuler yang bebas luar biasa. Meskipun ia bersekolah di SMA Katolik yang memiliki peraturan untuk menjaga jarak 15 cm ketika berdansa, mereka tetap bocah-bocah yang dilazimkan kelakuannya jika berhubungan seksual di luar nikah. Karena budaya yang berbeda, maka ukuran kenakalannya pun relatif. Tingkah nakal dan berbagai dinamika kehidupannya itulah yang membuat Lady Bird pantas difilmkan.
Apakah itu terlalu biasa? Tidak. Film seperti inilah yang musti kita nikmati untuk menjaga kewarasan. Film seperti inilah yang mengajarkan kita akan realita. Hal itulah yang juga dikatakan oleh Lady Bird ketika ditanya akan nilai-nilai akdemiknya yang tidak memuaskan.
"Di mana kamu akan mendaftar kuliah?"
"Di Los Angeles, atau universitas seperti Yale, tapi bukan Yale. Karena pasti aku tidak akan diterima." Gurunya tertawa, lalu berkata, "Bukannya merendahkan, tapi sudah tugaskulah menyadarkanmu terhadap realitas."
"Yah, sepertinya itu tugas semua orang."Termasuk film ini. Tentu saja.
Bintang Empat
Greta Gerwig, yang melakukan debut sutradaranya melalui film ini, berhasil membawa penonton kepada kisah Lady Bird. Ia tak perlu mengangkat isu yang berat, karena kehidupan remaja SMA labil pun cukup berat untuk diceritakan. Alur ceritanya bagus, tidak terlalu lambat atau terlalu cepat. Dengan drama dan romansa yang pas, Lady Bird benar-benar menggambarkan realita remaja di milenium yang baru. Tokoh-tokoh disorot dan ditampilkan dengan proporsional. Tidak ada satu tokoh -selain tokoh utama tentunya- yang mengambil peran Lady Bird sebagai protagonis. Secara keseluruhan, film ini sederhana tapi memukau.
Dari sekian banyak sisi, kesempurnaan film ini terletak pada moral value yang disampaikan. Ia tak diucapkan oleh tokoh-tokohnya. Ia hanya lewat dalam prilaku sehari-hari, tetapi selalu membuat penonton terpikat hingga membekas. Perjuangan Lady Bird mendapatkan kebebasan dan restu orang tua mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah. Meskipun dengan keadaan dan situasi yang tidak memungkinkan secara sosial. Christine seolah-olah mengatakan dengan sikapnya, bahwasanya...
"Manusia berusaha, Tuhan menentukan."


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?