Kota Malang dan Sikapmu yang Dingin
Pada suatu malam di hari-hari lebaran, abi saya bertanya, kapan saya berencana untuk pindah ke pondok. Tenggat waktu untuk meninggalkan Rusunawa UB masih agak lama, 25 Juli. Maka saya katakan kalau saya berencana pindah bulan depan. Ke salah satu rumah tahfidz yang dekat dengan kampus. Sayangnya, abi takut saya terlambat -bulan depan adalah masa-masa mahasiswa baru mencari tempat tinggal. Maka saya putuskan untuk pergi secepatnya. Esoknya, pada tanggal 17 Juni saya naik bis bersama Umi ke Malang.
Hari itu juga bertepatan dengan hari pertama umi masuk ke kantor baru setelah dipindahkan dari Pengadilan Agama (PA) Lamongan ke PA Malang. Setelah turun di PA, saya dan umi berpisah. Saya naik angkot ke arah kampus.
Turun di depan SMKN 2, saya menyeberangi jalan Veteran, berjalan kaki memasuki kampus. Hawa dingin serta-merta menyerang. Perjalanan ke Malang kali ini lebih cepat setelah ada Tol (yang dibangun) Jokowi. Dan saya sampai di kampus dalam suasana masih pagi -antara jam 8 atau jam 9. Saya segera ke rusun untuk mengecek kamar. Dalam hati, saya berdoa agar tidak dikunci. Toh, kalau saja dikunci, saya bisa minta kuncinya ke penjaga.
Dan yang tidak saya sangka, kamar saya benar-benar tidak dikunci. Sepertinya teman sekamar saya tahu kalau saya tidak mungkin membawa kunci, karena sudah lama hilang sejak diduplikasi. Dan satu hal lagi yang tidak saya sangka...
Teman sekamar saya sudah pindah. Barang-barangnya sudah tidak ada di atas kasur, meja, maupun lemari. Kubuka semua laci, dan yang tertinggal hanyalah sampah. Kuputuskan untuk beristirahat sebentar, lalu pergi mandi. Setelah mandi, saya bersiap-siap lagi untuk pergi. Menuju salah satu tempat favorit saya di kampus. Kos kedua setelah rusun.
Dinamika UKM
Hari pertama saya kembali ke UKM, saya sudah banyak bertemu teman dan kating. Oh iya, ketika itu, para kafilah MTQMN direncanakan untuk karantina. Maka mau tak mau saya mendapat informasi tentang pelaksanaan karantina itu.
"APA? DI HOTEL?" saya kaget ketika tahu bahwa karantina itu akan dilaksanakan di salah satu hotel di Batu, selama dua hari. Dalam hati, saya merutuk panitia yang
Apa namanya kalau bukan menggerogoti anggaran?
Dan udahlah. Toh saya juga tidak ikut berangkat ke Aceh. Biarlah urusan ini menjadi hisab mereka.
Di UKM, saya bertemu dengan teman-teman yang kembali lebih dulu demi MTQMN, atau ospek kampus. Ada dua kating yang sempro. Ada pula yang mengambil semester pendek (SP) demi memperbaiki nilai semester lalu yang mungkin kelewat buruk. Saya, melihat teman-teman yang SP bisa mengambil matkul di semester kedepannya, berencana untuk SP juga di liburan ke depan. Yah, agar tidak terlalu gabut di rumah. Ada pula teman-teman yang asli Malang mampir ke UKM. Sepertinya hanya saya yang ke Malang dengan alasan
Menginap di Tempat Lain
Merasa bosan tidur di rusun, saya pun menelpon Shofa, salah satu teman seangkatan saya di antropologi. Dia bekerja pada sebuah kios kopi di Dinoyo. Saya pun mendatanginya. Bertemu di Dinoyo, kami duduk dulu untuk memesan makan. Ia hanya memesan segelas minuman. Itu pun dari kiosnya sendiri.
Perbincangan kami seputar IPK, dan bagaimana dinamika semester dua kami mempengaruhi hal itu. Tanpa bermaksud sombong, saya menunjukkan screenshot IPK saya. Dia pun bercerita kalau IPK-nya turun akibat tidak bisa ikut ujian. Ah, saya ingat. Matkul Orsos. Dia sudah masuk dan mengerjakan sebagian pertanyaan. Tapi pengawas ruang ujian mendatanginya sembari memperlihatkan presensi kuliahnya yang tidak memenuhi syarat ikut ujian. Ia pun keluar dan berusaha menemui dosen. Tapi tetap saja. Ia tetap tidak bisa ikut ujian dan akhirnya IPK-nya terjun bebas.
Darinya, saya mendapat info kalau ada beberapa teman yang IPK-nya A. Dengan nilai B+ hanya satu. Saya juga tahu hal itu. Salah satu teman perempuan saya dengan sombongnya pernah mengirimkan screenshot KHS. Dan nilainya lebih bagus. Yah, sebenarnya saya tidak ingin mengajak Shofa berbicara tentang nilai, IPK, dan segala tetek-bengek perkuliahan lainnya. Tapi saya benar-benar tidak punya topik yang menarik. Perbincangan tentang perempuan sudah tidak menarik bagi saya: ia sudah punya pacar sedangkan saya tidak berpikir sama sekali.
Selesai makan, kami pun berangkat ke rumahnya. Semalam saya menginap, saya mulai merasakan perbedaan. Kini, saya lebih merasa kedinginan daripada biasanya. Meski rumahnya berada di Batu, daerahnya gak terlalu dingin. Rumah Shofa berada di belakang Sengkaling. Tapi tetap saja, saya merasa kedinginan. Esoknya, dengan membawa jaket Barca milik Shofa, saya pergi lagi ke kampus.
Tidak hanya di Rumah Shofa, saya juga pernah menginap di rumah Ilham, salah satu teman pondok yang memang asli orang Malang. Rumahnya berada di Joyosuko, belakang UIN. Saya menginap di rumahnya setelah mendaftar tes di Rumah Tahfidz. Sebenarnya, menginap di rumah Ilham enak-enak saja. Hanya, kami tidak punya topik obrolan. Sedangkan, pembicaraan Ilham itu selalu tentang perempuan yang akhirnya dia sombong dan norak. Sebagai tamu, saya menghormati pembicaraannya. Semalam menginap, esoknya saya langsung pergi ke Rumah Tahfidz untuk tes. Alhamdulillah diterima.
Nah, di hari Kamisnya, saya menginap di kontrakan alumni Madrasatul Qur'an (MQ) Jombang, setelah sebelumnya nongkrong di Seven Chicken dengan Dewi dan beberapa teman/kating: ada Dori -putri Kyai yang pinter ilmu agamanya tapi agak blo'on, Mas Iqbal -alumni MQ yang bejat, dan Mas Robbani -salah satu menteri EM. Setelah puas nongkrog dan diskusi berbagai macam -yang hasilnya ingin saya tuliskan dalam suatu artikel tersendiri tapi tidak jadi, saya ikut Mas Iqbal untuk nginap di kontrakannya. Berada di Gasek, kami berdua naik motor melewati tempat yang sangat jauh dan belum pernah saya kunjungi.
Di sana, saya benar-benar kedinginan. Apalagi kami berdua sama-sama belum sholat isya: entah bagaimana rasanya kedinginan selepas wudhu'. Mas Iqbal masih asyik menelpon salah satu kating yang hendak menjadi sponsorship event. Setelah sholat Isya', kami tertidur di pukul dua dini hari. Saya sendiri bangun di pukul delapan atau sembilan. Setelah itu, kami berangkat ke kampus. Mas Iqbal atau pun saya punya sama-sama punya urusan yang musti diselesaikan.
Pesanan Tulisan
Entah bagaimana ceritanya, selama di Malang, saya mendapat dua pesanan tulisan. Yang pertama datang dari adik kelas di pondok. Dia mengenalkan diri sebagai Arif, tetapi saya tidak mengingatnya. Saya diminta mengisi rubrik opini untuk majalah ma'had "El-I'jaz" yang dulu juga pernah saya pimpin selama setahun. Dengan tema perkembangan teknologi, saya menulis opini dari sudut pandang santri. Tulisan itu selesai dalam dua hari. Tapi saya baru mengirimkannya di hari ketiga. Terkadang, saya ragu terhadap kualitas tulisan saya sendiri.
Yang kedua datang dari seorang senior. Kating yang saya temui di UKM, tetapi ternyata satu fakultas dengan saya. Namanya Mbak Laila. Kini dia magang di Bagian Humas Rektorat UB. Saya pun menulis cerpen "Seorang Nabi di Kota Kecil" untuk diikutkan seleksi. Dalam dua hari, cerpen itu saya selesaikan, meskipun pada akhirnya tidak memiliki ending yang memuaskan. Bagi saya, pujian "Ternyata kamu pinter nulis ya, Rid." dari Mbak Laila sudah cukup bagi saya. Dan lagi, cerpen itu sangat laku dibaca, nomor dua setelah 'Dilema Seorang Dewi (Bagian Satu)'. Dalam hati, saya sangat senang. Jika tidak dimuat, cukuplah orang-orang menemukan kisah itu di sini, di blog saya.


Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?