Dilema Seorang Dewi dan Bagaimana Kampus Kita Bekerja


Liburan akhir semester kali ini, yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, saya mendapat teman chat baru. Namanya Dewi. Seorang gadis yang cukup cantik dan menarik, meskipun saya tidak memiliki ketertarikan yang khusus dengannya. Kami dipertemukan di UKM, yang mana dia bergabung untuk mengasah bakat syarhil Qur'an-nya dan ia terlihat sangat berbakat. Bagaimana tidak. Ia mewakili fakultas dalam lomba tingkat universitas dan mendapat juara satu. Ke depannya, ia akan mewakili kampus untuk berlaga di Aceh. Yah, tentu saja saya akan mendoakan yang terbaik untuknya.

Awal mula chat kami ketika ia meminta tolong dicarikan kos baru karena ia bosan di kos lama. Tidak hanya bosan, ia juga merasa tidak nyaman berada di lingkungan mahasiswa salafi. "Banyak anak KAMMI-nya," begitu katanya. Tentu saja saya dan salah satu kating kami di UKM tertawa. Alasan yang cukup lucu sebenarnya, mengingat dunia perpolitikan tingkat mahasiswa di kampus kami memang dikuasai oleh bendera KAMMI. Kemudian, saya pun memperkenalkan Dewi dengan salah satu teman saya di prodi yang menurut kabar masih ada kamar kosong di kosannya. Sayangnya, Dewi terlambat booking karena dia didahului orang lain yang siap membayar lebih dulu. Dia pun mencari kosan lain dan mendapatkannya dengan harga murah tanpa melalui perantara saya.

Entah bermula dari mana, saya beberapa kali chat WA dengan Dewi. Tunggu, mungkin saya bisa lihat hape dulu.

Oh iya. Ketika sudah sampai di rumah, setelah perjalanan yang singkat dari Malang-Sidoarjo karena ada Tol Jokowi, saya masih belum bisa tidur dan akhirnya menulis status di story WA. "Jam segini enaknya debat sama pendukung Jokowi," begitu bunyinya. Dewi pun membalas story saya dengan ajakan singkat, 'yuk'. Tapi yang terjadi sebaliknya. Kami berdua malah saling bercerita. Dan setelah beberapa lama, ia juga bercerita tentang kesibukan kampus yang masih menderanya bahkan ketika ia telah sampai di rumah. Dan itulah yang hendak saya ceritakan di sini: bagaimana anak-anak kecil seperti kita -yang umur kuliahnya masih semester dua- lebih memilih untuk berkutat dengan kesibukan kampus meskipun sudah berada di rumah berkumpul bersama keluarga.

Dewi dan Realitas Mahasiswa

Sosok Dewi kurang lebih menggambarkan bagaimana seorang pemudi yang ambisius di kampus yang bergengsi. Ia masuk dalam prodi yang bergengsi dan fakultasnya pun terbilang cukup tua (baca: profesional). Kepribadiannya yang aktif membuat ia tertarik untuk bergabung dengan Badan Eksekutif Mahsiswa (BEM) di fakultasnya. Selain itu, dengan bakat dan potensinya yang telah saya jelaskan di awal, ia kini tergabung dalam kafilah kampus yang dipersiapkan untuk berangkat ke Aceh akhir Juli nanti. Jangan tanya seberapa dekat saya dengannya, karena hubungan kami yang tidak terlalu dekat meskipun cukup akrab. Dalam beberapa kesempatan kami pernah makan bersama dengan teman-teman di UKM. Intensitas pertemuan kami juga cukup sering, meskipun tidak setiap hari.

Sayangnya, kehidupan kampus yang ia jalani menurut saya tidak sehat. Seabrek tanggung jawab ia emban, yang tidak cukup diselesaikan di kampus, tetapi juga mesti ia bawa ke rumah. Meskipun sudah tidak ada tugas dari perkuliahan -karena kampus kami sudah UAS sebelum lebaran, ia masih terbebani dengan tuntunan kemenangan dan proker BEM.

Awalnya, saya berencana untuk menjabarkan bagaimana semua beban itu emban dengan apa adanya. Tapi, setelah berpikir lagi, sepertinya itu tak perlu. Saya takut ia semakin terbebani, entah apa hubungannya.

Di awal mula masuk ke dunia kampus, mahasiswa pada umumnya dikenalkan pada berbagai jenis mahasiswa. Dewi, dengan segala kesibukannya, bisa jadi tergolong dalam kelompok 'kura-kura': kuliah-rapat, kuliah-rapat. Pada mulanya saya menolak kategorisasi seperti itu, dengan alasan terlalu kekanak-kanakan. Tapi, melihat berdasarkan keseharian saya, teman-teman tetap memasukkan saya dalam kategori 'kupu-kupu': kuliah-pulang, kuliah-pulang. Ya, saya terima saja.Memang terlihat cupu sekali. Toh, saya tidak perlu menceritakan keseharian saya yang lain: berusaha menjaga hafalan Qur'an, mengerjakan langsung tugas kuliah yang diberikan pada hari itu, dan tidak peduli dengan perang antara Cebong vs Kampret.

(alhamdulillah, akhirnya selesai juga beres-beres rumah. Ya, meskipun sekarang hari Senin, tetapi karena sudah masuk libur cuti bersama, keluarga saya mengagendakan beres-beres rumah, dari atas sampe bawah. Dan saya menyicil tulisan ini selama jeda istirahat dan sholat.)

Tidak hanya dua tipe itu, tetapi ada juga yang lain seperti kuda-kuda, kunang-kunang, kelelawar, dan lain sebagainya. Dan setiap hewan menggambarkan secara sederhana bagaimana mahasiswa bertahan hidup di medan perang intelektual seperti kampus. Bagi sebagian orang, sosok Dewi dengan kesibukan rapatnya, adalah tipe dengan strata paling tinggi. Ia tidak hanya berkutat dengan perkuliahan, tetapi juga rela melayani sesama mahasiswa melalui lembaga-lembaga dan organisasi resmi. Puncaknya, mereka akan bertarung dengan sesama 'elit' lain untuk memperebutkan suara 'rakyat' dengan slogan yang senada: "Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!"

Walaupun terdengar julid, itu kenyataan yang saya pahami.

Kampus yang Tidak Cukup Luas

Universitas yang kini menjadi tempat saya mengaji, adalah kampus yang cukup terkenal. Akreditasinya mencapai huruf tertinggi, dengan biaya yang cukup terjangkau. Hal itulah yang kemudian membuat banyak sekali lulusan SMA mendaftarkan diri di kampus saya. Terutama melalui jalur SNM dan SBM. Kalau berani tes mandiri, pastikan saja antum orang kaya yang tidak ragu membayar hingga puluhan juta per semester. Bahkan untuk prodi baru sekelas Antropologi sekalipun.

Dinamika perkuliahan di kampus bergengsi berbeda dengan kampus biasa. Setidaknya itulah yang saya rasakan setelah pindah dari kampus berbasis pesantren ke kampus yang lebih sekuler. Beberapa hal yang menjadi faktor, adalah tingkatan intelektual, kegiatan mahasiswa berbasis minat dan bakat, tekanan politis, gaya hidup konsumtif, dan -tentu saja- prestise. Semua itu membuat kuliah lebih berat, tidak hanya secara intelektual melainkan juga finansial. Hidup antum akan cukup aman jika mengikuti standar saya: tidak membuang uang untuk orang lain, dan selektif dalam membeli makanan.

Meskipun terdiri dari belasan fakultas, kampus yang terdiri dari tiga lokasi berbeda ini tidak cukup juga untuk memenuhi kebutuhan pergerakan mahasiswa-mahasiswanya. Tak ayal, para mahasiswa pun tidak hanya beraktivitas, bersosialisasi, dan berkumpul di dalam kampus, tetapi juga di luar kampus. Cafe, warung, dan berbagai tempat ngopi lain menjadi pilihan alternatif tempat.  Tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara abstraktif.

Hal yang saya maksud adalah, kampus tidak cukup menjadi tempat kita beraktivitas, karena aktivitas kampus ternyata perlu kita bawa juga ke ranah luar kampus: kehidupan sosial, agama, bahkan -seperti kasus Dewi- harus dibawa ke rumah untuk di selesaikan di tengah-tengah keluarga. Profesionalitas harus dibayar dengan cara yang tidak profesional. Grup sosial media yang ketika masa liburan ini cukup menjadi tempat bersilaturrahmi, ternyata juga menjadi ruang rapat virtual: mahasiswa mempersiapkan proker di semester selanjutnya, dosen mengabarkan bahwa ada tugas yang harus dikirim ulang melalui e-mail, dan lain sebagainya. Saya juga termasuk dalam ruang itu, karena ada lomba yang harus saya ikuti di semester tiga dan itu adalah tuntutan UKM. Kepada Dewi, saya katakan bahwa saya menikmatinya, dan itu realitas. Saya tidak mungkin mengerjakan hal yang tidak saya sukai. Setidaknya saya akan menolak.

Tetapi Dewi memilih hal lain. Ketika saya berpesan agar ia mundur saja jika merasa tidak kuat, ia tetap berpegang teguh bahwa dia akan menjalani semuanya, bahkan jika ia harus mengorbankan masa liburannya. Padahal ia -berdasar apa yang ia ceritakan- merasa berat dengan segala tuntutan itu. Satu demi satu program kerja harus ia jalani setelah rela kembali ke kampus lebih dulu dari rerata mahasiswa. Pada akhirnya, saya hanya bisa menyemangatinya.

Siapa yang Salah?

Saya tidak menyalahkan Dewi, karena pilihannya memilih Jokowi. Bahkan, menurut saya, setiap tanggung jawab yang ia emban itu menunjukkan bahwa ia berpotensi menjadi orang besar, orang sukses. Dalam kesempatan ini saya hanya menyalahkan pilihannya -atau orang lain yang berpikir dan bertindak sama, kemudian abai dengan keluarga. Hal itu bukan tidak mungkin terjadi. Kita telah mencapai zaman di mana karir dan pendidikan dinomorsatukan setelah agama dan keluarga. Oleh karena itulah, kepada semua orang 'kura-kura', yang kemudian masih disibukkan dengan kegiatan kampus meskipun sudah berada di rumah, saya hanya bisa berpesan untuk tidak melupakan keluarga. Atau teman di sekitar rumah yan telah menemani sejak kecil. Mereka berharga. Dan jangan sampai melupakan berharganya mereka karena tugas kampus.

Apalagi melupakan keluarga karena berbeda pilihan presiden. Wah, kalau itu jelas bodoh sekali. Hahaha

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir