Dilema Seorang Dewi (Bagian Dua)


Kemarin, secara resmi saya bertemu dengan Dewi, salah satu dari sekian banyak perempuan yang saya ceritakan dalam tulisan-tulisan saya selama ini. Sebelumnya, saya sudah menuliskan kisahnya yang dilema dengan tuntutan yang harus ia emban selama liburan: mempersiapkan lomba ke Aceh. Ternyata, sebagai lelaki, saya kurang peka dalam membaca inti dari permasalahannya, dan saat kami bertemu lagi -kali ini secara langsung- saya mulai mendapat gambaran inti dari permasalahannya.

Oh, ya. Kami bertemu di Ruang UKM. Ia datang dengan seorang adik kelas yang ia bawa dari sekolahnya (MAN) dulu dan secara beruntung mampu lolos ke kampus yang sama melalui jalur SNM. Saya lupa siapa namanya. Hanya saja, yang pasti dia akan menjadi adik tingkat saya di fakultas. Adik kelas Dewi itu mengambil prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Wajah yang Bermasalah

Saya bukan orang yang ahli dalam membaca raut wajah manusia. Hanya saja, pengalaman sosial saya yang tidak terlalu buruk juga mengajarkan saya bagaimana membaca kebohongan, problematika, dan kesedihan dari wajah seseorang. Hal itu jugalah yang saya lihat dari Dewi: bedaknya terlalu tebal. Seolah-olah ia menghabiskan banyak waktu untuk menutupi wajah murungnya. Begitu pula dengan senyum yang ia tampakkan. Terlalu berlebihan. Dewi seperti dalam perjuangan yang sangat keras untuk menutupi kesedihannya.

Setelah waktu berlalu, datanglah kesempatan di mana hanya Dewi dan saya yang tetap tinggal di Ruang UKM. Ia melepas earphone yang terpasang di telinganya. Saya membaca gelagatnya. Dewi hendak megajak saya berbicara.

"Eh, Rid." Ia memulai pembicaraan. "Kamu udah saya ceritain, kan? Soal masalah saya?" Saya menganggukkan kepala. Dia juga masih meyakinkan dirinya sendiri. Wah, saya bertutur dalam hati. Ternyata dia gak cuma cerita ke saya.

"Tahu gak, Rid," katanya melanjutkan. "Kayaknya saya tambah bermasalah deh." Ia pun bercerita panjang lebar bagaimana setelah masalah yang ia paparkan sebelumnya -ketika masih bulan Ramadhan saat itu- menjadi semakin pelik. Bagaimana tidak. Dewi sendiri yang menuturkan bagaimana persoalan pribadinya kini masuk juga ke lingkup formal, ke lingkup yang kolektif. Selain itu, Dewi semakin merasa tidak nyaman akibat progresnya yang selama ini (seperti) tidak dianggap oleh senior dan atasan. Permasalahan yang cukup rumit memang, apalagi ia bercerita kepada saya.

Seorang Farid yang Tidak Solutif.

Hahahaha

Sungguh, selama ia bercerita, saya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala, berkata 'iya' atau 'hmm', lalu memberikan sedikit pertanyaan atau persetujuan. Dan sosok lelaki seperti saya inilah yang biasanya dicari: tipe lelaki pendengar yang mau mendengarkan segala keluh-kesah tanpa harus memberikan nasihat sok-tahu. Saya bukan tipe lelaki yang solutif ketika berhadapan dengan perempuan. Karena apa? Ya karena perempuan itu gak butuh solusi. Mereka sebenarnya udah tahu solusinya apa dan bagaimana. Mereka hanya butuh tempat untuk bercerita. Gitu aja. Dan saya -bagi beberapa teman perempuan yang percaya- adalah sosok lelaki yang tepat untuk dicurhati berbagai permasalahan.

Berakhir dengan Persetujuan

Malamnya, bersama beberapa teman dan kakak tingkat lain yang sama-sama ke UKM hari itu, kami melanjutkan pembicaraan di Seven Chicken. Sebuah restoran ayam yang mahal di daerah Soekarno-Hatta. Ya, sekitar situ. Sembari memesan makan, saya dan Dewi menempati sebuah tempat yang cukup untuk lima orang. Dia sendiri memesan segelas kopi. Saya, mendapati diri saya (tersesat) berada di sebuah restoran mahal, memutuskan untuk tidak mengeluarkan uang. Dompet saya rada alergi dengan suasana (dan menu) tempat-tempat mahal. Begitulah.

Pada mulanya, kami hanya membicarakan masalah-masalah sepele. Tapi, ternyata banyak pembicaraan kami yang merembet pada hal-hal serius: Ke-NU-an, NU Struktural dan Kultural, Khilafah, Pemikiran Liberal, dan lain sebagainya. Untuk selengkapnya, saya akan membahas itu dalam suatu tulisan tersendiri. Doakan saya tidak lupa. Ingatkan saya kalo akhirnya saya memag lupa. Hahaha.

Termasuk juga hal yang turut Dewi utarakan dalam obrolan kami adalah permasalahannya. Dua orang senior kami akhirnya mendengar permasalahan itu. Dalam beberapa titik, dua senior itu tidak mengerti dan saya juga turut membantu Dewi dalam memberikan penjelasan dalam bahasa yang lebih sederhana. Ia sudah terlanjur emosi. Gaya berceritanya tidak beraturan karena itu. Saya dan senior membantunya agar lebih tenang. Dan juga agar ia tidak menangis.

(Ih, saya benci banget kalo ada cewek nangis di depan saya)

Setelah mendengar keluh-kesahnya, kedua senior kami memberikan beberapa pertanyaan. Dewi menjawabnya dengan emosi. Ia sedikit marah dengan perlakuan yang ia dapatkan. Tanpa sengaja, entah siapa yang memulainya, kami juga mengeluarkan cerita-cerita beberapa teman yang tidak cukup beruntung untuk ikut dalam kafilah MTQMN. Beberapa cerita sangat baru, ada juga beberapa cerita lama yang tokoh utamanya sudah menjadi alumni kampus. Ada juga beberapa cerita yang sangat menyentuh hati, karena 'kesialan' tokoh utamanya melampaui kesialan kami sehari-hari. Dalam hati kami mengungkapkan belasungkawa kami, untuk setiap orang yang belum cukup beruntung untuk ikut di kafilah. Dan itu termasuk saya tentunya.

"Nah, itu," kataku menatap Dewi. Dua senior kami juga ikut melihatnya. "Masih ada yang lebih sial dari kamu. Kamu sekarang bersyukur masih bisa ikut kafilah, meskipun kamu ngerasa gak dihargai, atau mereka terlalu ikut campur urusan pribadi kamu. Gimana kata-kata bijak yang biasa diucapin sama anak-anak hijrah?" aku bertanya pada seniorku.

"Jadikan lelahmu lillah," Seniorku menjawab. Aku membalas dengan 'Nah, itu!' dan Dewi hanya mengangguk-angguk. Tampaknya ia sudah dapat berdamai dengan keadaan. Yah, setidakya, ketika ia mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan untuk kedua kali, ia dapat menahan diri. Semoga.

(Kisah ini telah ditulis setelah mendapat persutujuan dari sang tokoh utama, terutama setelah ia membaca kisah yang pertama. Atas kebaikan hatinya, saya haturkan Terima kasih)

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir