Bolehkah Aku Bercerita tentang Rama?

Adalah kawanku, yang tampan dan dielu-elukan oleh banyak teman wanita di sekitarku. Ia berasal dari Surabaya, dan kami dipertemukan di kampus. Aku tak ingin menjelaskan bagaimana rupa fisiknya, karena kau akan mengekui dirinya memang tampan. Apalagi menjelek-jelekkan sifatnya, sebagaimana yang dilakukan sebagian kawan kami yang lain, yang mungkin iri terhadap takdir baiknya.

Tapi ia sendiri tidak bersyukur atas karunia itu. Ia tidak tahan dengan orang-orang yang secara sederhana mengganggu hidupnya atas ketampanan wajahnya.

"Aku sudah dua hari ini tidak mandi," dia mengakui itu dengan wajah yang memelas. "Sebelum ke kampus, aku hanya menggosok gigi dan mencuci muka. Selain itu, tak ada."

"Tapi kau tetap tampan," aku membalasnya sembari menikmati es krim di tanganku. Siang ini begitu terik meskipun sedikit berawan. "Apa salahnya kalo anak-anak cewek itu berteriak ketika bertemu denganmu."

"Ya risih, dong." dia membalas. Tak lama kemudian, es krim vanillaku berpindah tangan. Dia tak tahan panas juga. "Andai kau tahu rasanya."

Aku menoleh padanya. Hei, perkataan macam apa itu? Dia menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Aku mengambil kembali es krimku.

"Iya, aku tau aku tak sehebat dirimu." Kulanjutkan kata-kataku dengan mulut penuh es krim, "Sudah pintar, mudah bergaul, berprestasi."

"Hei, bukan itu maksudku." Kali ini ia benar-benar menampilkan wajah penyesalan, "Aku minta maaf."

Setelah itu, aku berdiri dan berjalan menjauh. Dia yang kaget seolah-olah aku tidak memaafkannya. Dia bertanya aku mau pergi ke mana.

"Ke mall, yok." kataku mengajak ia yang masih duduk dengan santainya. Dia dengan malas-malasan mulai beranjak juga. "Aku hendak mencari suatu buku."

"Oh ya?" Anak tampan itu bertanya dengan penasaran. "Sejak kapan kau suka membaca buku?"

"Tidak, aku tidak membelinya untuk diriku." Jawabku dengan santai. Pepohonan kampus sngat rindang, membuatku merasa nyaman. Tidak lagi seperti sesaat yang lalu. "Aku membelikan buku titipan Hasna."

"Hasna?" Anak tampan itu terkaget. "Kau ingin beli buku untuk Hasna."

"Ya," jawabku. Mall kota kami tak terlalu jauh dari kampus. Kami cukup berjalan kaki lima belas menit saja. "Ia tahu aku suka pergi ke mall."

"Oh, ya?" Temanku yang paling tampan ini semakin penasaran. "Sejak kapan kau akrab sama Hasna?"

Aku berhenti. Kuulang-ulang pertanyaan terakhir darinya di dalam otakku. Aku mendapat suatu perasaan yang mengganjal darinya.

"Hei, Ram," kataku sembari memegang pundaknya. "Jangan bilang kamu suka Hasna."

Yang mengejutkan, ia benar-benar tersipu. Haduh!

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir