Batman: Assault on Arkham (2014) - The Better Suicide Squad

Saya menulis ini dalam keadaan sakit. Jadi mohon dimaklumi apabila tulisan ini tidak seperti karakteristik saya biasanya. Mohon doanya agar saya cepat sembuh.


*****


Dalam keadaan bingung karena pilihan film yang sangat banyak di situs film bajakan, saya akhirnya memilih film Suicide Squad (2016) yang disutradarai David Ayer untuk menemani malam senin kali ini. Sayangnya, saya sudah berkali-kali menonton film ini hingga berulang-ulang. Terutama di adegan ketika Chato Santana a.k.a El Diablo (Jay Hernandes) melawan saudara Enchantress dan berubah menjadi iblis-tengkorak-berapi. Kemampuannya mengeluarkan api adalah impian saya. Film ini, meskipun bermaalah di banyak sisi, tetap menjadi favorit saya karena ada El Diablo

Jika disuruh memilih tokoh apa yang pantas dikembangkan dengan mini-seri atau spin-off, saya memilih El Diablo. 

Yah, tapi saya tidak ingin membahas Suicide Squad atau El Diablo. Karena saya mendapat saran film bertema suicide squad yang lain, yaitu:

Batman: Assault On Arkham!

Premis

Cerita bermula dari seorang ilmuwan genius bernama Riddler yang menciptakan bom dengan daya ledak setengah populasi kota Gotham. Amanda Waller, sebagai perwakilan pemerintah AS yang bertanggung jawab dalam menanggulangi bencana, mengirimkan pasukan khusus. Sayangnya, tim pemerintah kalah cepat (dan kuat) dengan Batman. Ridller pun tertangkap dengan meninggalkan satu PR bersama: bomnya tdisembunyikan di tempat rahasia.

Amanda Waller pun membentuk Task Force X beranggotakan Deadshot, Captain Boomerang, Harley Quinn, King Shark, Black Spider, Killer Force, dan KGBeast. Tujuan utama mereka adalah membobol Arkham dan kemudian menangkap Riddler karena kepemilikan data rahasia negara. Sebagaimana film Suicide Squad, premis itu kemudian dilengkapi dengan kenyataan bahwa Amanda Waller berbohong: ada tujuan lain yang hendak dicapai dan itu terungkap di tangan Batman.

Kisah Batman versi animasi ini berfokus pada Tim Suicide Squad dan bagaimana mereka memecahkan masalah di Arkham. Sosok Batman tidak terlalu dieksplor secara berlebih, untuk mengimbangi kehadiran setiap tokoh Gotham yang lain seperti Oswald Cobblepot a.k.a Penguin, Commisioner James Gordon, dan -tentu saja- Joker.  Meski begitu, sosok Batman tetap dihadirkan apa adanya: kaya, penuh taktik, berteknologi tinggi, dan kemampuan berbagai macam beladiri. Film ini, secara sederhana, adalah versi kompleks dan asli dari Suicide Squad versi David Ayer


Penampilan Batman

Sebagaimana saya ungkapkan, Batman dalam animasi ini digambarkan secara sederhana. Namanya memang menjadi judul, tapi fokus cerita selalu mengiringi tim suicide squad. Ia dihadirkan sesekali, dengan segala kemampuan dan kekayaannya. Penggambarannya memang tidak sebagus di Batman Ninja, Gotham by Gaslight, atau live-action di DC Cinematic Universe. Ia tidak team-up dengan kawan-kawan Justice League, atau dengan anak buahnya seperti Robin, Nightwing, Batgirl, dll. Alfred membantunya dalam mengungkap keganjilan Arkham. Selain itu, Batman benar-benar sendiri. Bukan berarti ia egois. Ia hanya ingin fokus tanpa harus dibebani untuk melindungi seseorang atau berkompromi dengan rekan.

Tipe Batman sekali.

Di film ini, eksistensinya sebagai kesatria malam di Gotham digambarkan secara sempurna.

Penokohan yang Berimbang

Hal yang paling saya kagumi dari suicide squad animasi ini adalah bagaimana setiap tokoh dihadirkan apa adanya. Pemerintah direpresentasikan dengan Amanda Waller yang gemuk dan tidak memiliki rasa simpati. Ia menganggap Task Force X sebagai aset atau robot, bukan manusia. Setiap kata-katanya adalah kebohongan yang ketika ketahuan, akan jujur dengan wajah tanpa dosa. Tetapi, yang menyenangkan dan melegakan hati, tidak seperti yang diperankan Viola Davis, Amanda Waller versi animasi berhasil dibunuh oleh Deadshot di penghujung film.

villain-villain lain yang muncul di Arkham juga hadir dengan segala kemampuannya, meskipun tidak cukup mencolok seperti Bane, Two-Face, dan Poison Ivy. Alur cerita jug berimbang mengingat mereka adalah sesama penjahat yang dipaksa untuk bekerja sama, maka konflik antar anggota tim juga sering terjadi. Deadshot sebagai mantan tentara yang memiliki minat untuk memberantas berandal jalanan (sama seperti Batman) muncul sebagai pemimpin secara alami. Killer Frost dan King Shark berinteraksi secara khusus: mereka saling melindungi atas dasar perasaan, bukan tugas. Animasi ini mencoba menggambarkan para villlain sebagai manusia biasa. Konflik yang terjadi antar mereka membuat alur cerita menjadi kompleks.

Empat Bintang

Untuk sekelas film animasi yang berdasar pada komik, Assault on Arkham cukup membuat saya kagum. Sejauh ini, dari sekian banyak tokoh DC Comic, hanya live-action Aquaman (2018) yang mampu memikat hati saya. Jason Momoa menghayati peran (dan perang)-nya. James Wan, yang sejauh ini hanya saya kenal melalui horor jumpscare seperti The Conjuring dan Insidious serta Furious 7, berani mengambil tokoh superhero untuk karirnya. Selain itu, konsep penokohan Aquaman sejauh ini selalu berbeda-beda. Maka, Aquaman untuk Justice League kali ini, adalah kepuasan tersendiri bagi saya karena akhirnya mereka bisa bersaing dengan Marvel.

Oleh karena itu, setelah Aquaman, saya mendapuk Batman: Assault on Arkham sebagai film DC Comic rekomendasi kedua. Batman hadir ala kadarnya, dengan fokus cerita pada suicide squad yang lebih bagus dari versi live-action David Ayer (Ya, tapi saya tetep kagum sama El Diablo-nya). Dari lima bintang, saya berani memberi empat. Itu sudah yang paling terang. Kalo emang ada yang lebih bagus, kasih tahu yak.


Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir