Variasi Penyebab Ketertarikan Seksual dalam Budaya Jawa
Oleh: Fariduddin Aththar
NIM: 185110800111020
Pendahuluan
Manusia
dengan naluri dasarnya telah menyadari bahwa hubungan seksual adalah salah satu
kebutuhan biologis yang wajar dan mendasar. Dengan hubungan seksual, maka
manusia dapat memuaskan kebutuhan biologisnya. Selain itu, manusia juga musti
memastikan keberlangsungan kehidupan dan budaya masyarakatnya. Oleh karna
itulah, melalui hubungan seksual, manusia dapat bereproduksi sehingga tujuan-tujuan
laten kebudayaan terpenuhi.
Tapi
ada satu fakta penting yang mendasari terjadinya hubungan seksual antara
individu: tidak semua manusia berhubungan seksual dengan sembarang lawan jenis.
Ada beberapa kriteria yang mereka tetapkan untuk mendapatkan pasangan
seksualnya –terlepas dari faktor apakah hubungan seksual itu berkomitmen atau
tidak. Dan pada setiap masyarakat, kriteria-kriteria untuk mendapatkan pasangan
itu akan berbeda, tergantung pada budaya yang melekat pada masyarkat tersebut.
Maka,
dalam esai ini, penulis akan berfokus pada variasi penyebab yang memengaruhi
perbedaan faktor ketertarikan seksual dalam berbagai budaya di dunia. Dengan
begitu, dapat diambil kesimpulan umum yang menggeneralisasi dan menggambarkan
budaya manusia secara keseluruhan dan tidak berfokus pada suku tertentu saja.
Metodologi
Penulisan esai ini diawali dengan
studi pustaka mengenai ketertarikan seksual manusia dan perbedaannya yang cukup
merata antara budaya di dunia. Metode ini pada tahap awal menelusuri penelitian
yang relevan dengan tema yang diangkat sehingga mampu mendapatkan setidaknya
delapan referensi yang terdiri dari enam jurnal dan dua artikel web site.
Langkah selanjutnya adalah menemukan definisi utama atas tema yang diangkat,
yaitu sexual attractiveness atau
ketertarikan seksual. Langkah ketiga adalah mencatat kelebihan dan kekurangan
dari setiap refernsi sehingga mampu –setidaknya- menyatukan pandangan atas tema
yang diangkat dan menutupi kekurangan dari penelitian yang dilakukan
sebelumnya. Langkah terakhir adalah menganalisa data yang ditemukan dan
menjelaskannya secara kompleks dalam esai singkat ini.
Telaah Pustaka
Selama ini, kajian terhadap seksualitas
selalu menjadi perbicangan yang sulit ditemukan dalam masyarakat, terutama yang
masih menganut tradisionalitas. Oleh karena itulah Prof. Myrtati Dyah Artaria dari
prodi Antropologi Universitas Airlangga mencoba menjelaskan bagaimana seks
(jenis kelamin), gender, orientasi seksual, dan perilaku seksual yang selama
ini dianggap sebagai satu hal yang sama, padahal keempatnya adalah objek yang
berbeda.
Seks atau jenis kelamin adalah pembagian
jenis manusia berdasarkan organ reproduksinya. Sejauh ini, hanya ada dua jenis
kelamin yang dikenali, yaitu prian dan wanita. Secara biologis, ada beberapa
temuan yang menyatakan bahwa jenis kelamin manusia lebih dari itu, begitu pula
penemuan bahwa ada pula manusia yang tidak memiliki jenis kelamin. Jika seks
atau jenis kelamin ditentukan oleh faktor biologis yang tampak, maka gender
adalah pembagian peran dalam masyarakat yang didasarkan pada jenis kelamin.
Contohnya, pada masyarakat agraris Jawa, prian bekerja pada sector public dan wanita
berfokus pada pengasuhan anak dan urusan rumah tangga domestic. Itu hanya salah
satu contoh pembagian kerja dalam sistem gender yang bisa jadi akan berbeda
pada bentuk masyarakat lainnya, seperti kelompok nelayan, kelompok industrin,
maupun pegunungan. Oleh karena itu, tidak semua kelompok masyarakat memiliki
persepsi yang sama terkait gender.
Selain itu, ada pula orientasi seksual yang
didefinisikan sebagai ketertarikan manusia terhadap manusia lain secara
seksual, baik itu lawan jenis maupun lawan jenis. Oleh karena itulah, di zaman
modern ini, mulai banyak orang yang mengaku sebagai homoseksual, lesbian,
ataupun queer. Ketiganya merupakan orientasi seksual yang telah lama hadir di
tengah-tengah manusia, tetapi tidak mendapat tempat dan pengakuan di masyarakat
sehingga terkucilkan. Dengan adanya sains modern dan media sosial, diharapkan
keberadaan mereka dapat diungkap secara penuh sehingga mampu diterima
masyarakat umum.
Ketertarikan seksual telah sejak lama
menjadi suatu objek studi yang menarik. Robert Starr melalui artikelnya yang
dimuat di The Daily Texan menyatakan bahwa di Amerika sendiri standar
kecantikan itu telah bergeser; yang sebelumnya digambarkan dengan kulit putih,
badan ramping, dan rambut panjang berkilau. Di tengah gempuran masyarakat baru
yang multi-kultur, standar itu bergeser. Puncaknya, dinyatakan dengan lantang
oleh Megan Trainor melalui lagunya, “All About That Bass.”
Sedangkan, penjelasan yang lebih lengkap
tentang kaitan seksualitas dengan budaya dijelaskan oleh Phillip Stevens Jr
bahwasanya seksualitas menjadi dasar budaya manusia. Sayangnya, ia tidak
berfokus pada faktor apa yang
menyebabkan ketertarikan seksual: ia melihat bagaimana agama sebagai salah satu
unsur budaya membatasi seksualitas.
Di tahap awal, manusia tidak memiliki
banyak pilihan mengenai pasangan seksual. Suami atau istri dapat ditemukan dari
kerabat sendiri yang berhubungan darah secara langsung. Kemudian, dalam
tahapan-tahapan berikutnya, di mana populasi manusia berkembang hingga tingkat yang cukup banyak, seksualitas
manusia belum diatur. Maka, untuk mencegah adanya kekacauan akibat hubungan
seksual yang tidak teratur, maka manusia melembagakannya dengan sistem
pernikahan. Agama juga turut mengatur pernikahan dengan mengaitkannya dengan
hal supernatural: adanya kekuatan-kekuatan ilahiah yang mempersatukan antara
dua individu menjadi pasangan, pengaruh buruk bisikan setan yang mencoba
menyesatkan manusia dengan hubungan di luar nikah, dan lain sebagainya. Dalam
hal ini, agama dan budaya memiliki tujuan dan cara-cara yang serupa: pernikahan
harus melalui tahap-tahap tertentu agar hubungan yang berkomitmen itu langgeng
hingga akhir hayat keduanya.
Jika seksualitas sebagai kebutuhan dasar
biologis manusia dapat diatur dan dilembagakan sedemikian rupa oleh agama dan
budaya, maka ada pula hubungan seksual yang dilarang oleh keduanya. Di
antaranya: homoseksualitas dan prostitusi. Agama-agama langit (Islam, Nasrani,
dan Yahudi) dan budaya-budaya yang berpegang teguh dengan dasar salah satu
agama di atas menolak dengan tegas homoseksualitas. Begitu pula dengan
prostitusi meskipun pada faktanya, praktik bisnis ini menjamur di berbagai
negara dan budaya. Dalil-dalil Tuhan dan leluhur selalu dihadirkan untuk
menolak pelaku homoseksual dan bisnis prostitusi. Tapi hasrat manusia akan
hubungan seksual dan uang tidak dapat ditentang sehingga keduanya akan selalu
muncul di setiap zaman.
Jika sebelumnya dijabarkan hubungan
antara seksualitas dengan budaya dan agama, maka seksualitas juga berpengaruh
terhadap kepribadian manusia secara individual. Dalam buku Sex Determinants dijelaskan bahwa pengaruh seksualitas terhadap
kepribadian tidak dapat dirasakan secara langsung. Namun, jika seksualitas
mempengaruhi konsep diri seseorang, maka hal tersebut (seksualitas) akan
menjadi faktor utama yang membentuk kepribadiannya. Oleh karena itu, dalam beberapa
pembahasan terkait seksualitas, setiap orang memiliki preferensi yang
berbeda-beda.
Dalam
pengumpulan data, ditemukan beberapa penelitian yang relevan terkait tema ini.
Salah satunya yang dilakukan oleh Barnaby J. Dixson dari University of Queensland
dan tim penelitinya (2010). Penelitian yang disusun dalam bentuk penelitian
komparatif ini membandingkan prian dan wanita dalam dua wilayah berbeda, yaitu
Selandia Baru dan California, Amerika. Studi dilakukan pada beberapa aspek,
yaitu pose punggung, pose dada dan perut, panjang penis (ketiganya untuk prian),
warna kulit dan lekuk pinggang (pada wanita). Hasilnya, kelima faktor memiliki
pengaruhnya masing-masing, terutama yang tampak dari luar (panjang penis tidak
termasuk).
Penelitian lain yang relevan dengan tema ini juga
dilakukan oleh John Marshall Townsend dan Timothy Wasserman di New York.
Keduanya memiliki dua hipotesis dasar bahwasanya pria memiliki ketertarikan
secara fisik, sehingga memperhitungkan kecantikan berdasarkan komponen-komponen
yang menyatukan kecantikan itu. Apabila standar kecantikan itu bagus menurut
lelaki maka wanita itu pantas diinvestasikan (dinikahi). Sedangkan bagi wanita,
kemampuan finansial yang dimiliki prian menjadi titik tentu bagi penerimaan
lelaki agar dapat berinvestasi pada pemeliharaan kecantikan yang mereka miliki.
Hasilnya, isyarat akan status sosial lebih
berpengaruh pada wanita daripada prian. Begitu pula wanita lebih berfokus pada
prospek hubungan berkomitmen, tidak saja pada hubungan seksual. Oleh karena
itu, dalam suatu hubungan seksual, terutama yang diawali atau dilanjutkan
dengan komitmen pada pernikahan, prian tampak lebih mendominasi dan lebih
memiliki daya tarik.
Selain penelitian di atas, Duo John Marshall
Townsend dan Timothy Wasserman juga mempublikasikan penelitiannya yang lain
terkait dengan perspektif ketertarikan seksual. Dinyatakan oleh keduanya bahwa prian
heteroseksual memiliki variabel ketertarikan kepada lawan
jenis yang lebih besar daripada wanita heteroseksual. Selain itu, tampilan tubuh
yang lebih atletis pada prian akan
membuat ketertarikan seksul wanita akan semakin tinggi (John Marshall Townsend & Timothy Wasserman, 1997) .
Hasil
Setiap budaya memiliki preferensi yang
berbeda-beda terhadap ketertarikan seksual dan variasinya sangat besar (Starr, 2015) . Mungkin ada standar
kecantikan tertentu yang jamak pada banyak budaya, tetapi hal itu tetap tidak
universal. Hal itu juga tidak menghitung selera, chemistry personal, dan kecocokan.
Daya tarik seksual adalah
ciri pubertas; itu juga bersifat biologis, meskipun
para ilmuwan mengakui bahwa sifat pasti dari ketertarikan seksual hetero - (atau homo - ) tidak dipahami dengan jelas (Stevens Jr, 2014)
Orientasi
seksual tidak berdasar pada pergaulan atau lingkungan, melainkan telah
diwariskan secara genital, baik manusia itu homoseksual maupun heteroseksual (Artaria, 2016) .
Berdasar
jenis kelamin, Pria dan wanita memiliki alasan yang berbeda dalam motivasi
seksual. Bagi wanita, kepuasan seksual merupakan alat untuk mencapai keinginan
setelahnya, yaitu kehidupan yang layak dan berkecukupan. Berbeda dengan lelaki
yang termotivasi pada kepuasan seksual yang sementara. Berdasar kelas sosial: prian
dari kelas sosial yang rendah lebih menganggap wanita sebagai partner seks,
bukan sebagai partner intelektual atau sosial. Wanita dari tingkat sosial yang
sama akan menganggap seksualitas dan anak-anak sebagai beban dari kehidupan
rumah tangga. Selain itu, faktor kepribadian
juga turut berpengaruh. Bagi anak-anak yang mudah beradaptasi dan
bergaul dengan baik, maka ketertarikan seksualnya lebih mudah terkontrol
sehingga kehidupan seksualnya akan aman terjaga. Sebaliknya, anak-anak yang
tidak dapat bergaul dengan baik tidak dapat mengkontrol ketertarikan seksualnya
sehingga, tidak hanya terobsesi pada seksualitas secara khusus, melainkan juga
akan mendapat masalah seksualitas di masa dewasanya (Sex
Determinants )
Beberapa faktor penyebab ketertarikan
seksual: waist-to-hip ratio (WHR)
untuk wanita, berat badan, warna kulit, fisik, tinggi tubuh, rambut, dan ukuran
penis pada prian (Dixson, Dixson, Bishop, & Parish, 2010) .
Ketertarikan seksual dalam hubungan yang
tidak terikat dipelajari dalam sosiosexuality (Townsend & Wasserman, 1998) . Dalam hal ini,
beberapa faktor yang mempengaruhi ketertarikan seksual antara lain: tinggi
tubuh, berat badan, lekuk pinggang, dan lain-lain. Tapi, wanita memiliki
kriteria tersendiri dalam ketertaikan seksualnya terhadap kaum pria, yaitu
status sosial. Hal ini sesuai dengan hasrat wanita yang tidak hanya berfokus
pada kenikmatan seksual semata, melainkan kehidupan pernikahan yang stabil dan
stabilitas hubungan. Dengan begitu, dapat dibuktikan bahwa wanita menginginkan
kehidupan sosial yang baik, baik itu dalam hubungan yang terjalin dalam
komitmen seperti pernikahan, atau pun sebaliknya.
Pembahasan
Budaya
Jawa sangat memperhatikan bagaimana seorang prian memilih pasangannya, sehingga
ada beberapa kriteria wanita yang ditetapkan untuk dipilih berdasarkan tiga
faktor bibit, bobot, dan bebet. Tidak hanya dalam memilih pasangan, budaya Jawa
juga mengajarkan bagaimana sikap dan tingkah laku seorang istri maupun suami
dalam berkeluarga hingga urusan hubungan seksual yang banyak dipengaruhi oleh
kultur Islam (Mahendra, 2013)
Jika
harus dikomparasikan dengan budaya Barat –dalam hal ini dicontohkan dengan
penduduk Selandia Baru dan Amerika- maka masyarakat Jawa tidak hanya melihat
kecantikan fisik semata, melainkan juga sifat dan prilakunya. Hal ini tidak
hanya berkaitan dengan ketertarikan seksual semata, melainkan demi masa depan
dan stabilitas kehidupan berkeluarga. Karena dalam budaya Jawa, setiap hubungan
seksual haruslah melalui komitmen terlegitimasi berupa pernikahan, tidak
seperti budaya Amerika, Eropa, maupun negara maju lainnya yang menganggap
hubungan seksual adalah kebutuhan biologis semata.
Kesimpulan
Dari
uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwasanya masyarakat Jawa
memiliki faktor ketertarikan seksual yang berbeda dengan Eropa dan Selandia
Baru yang telah diteliti oleh Townsend dan Wasserman. Masyarakat Jawa
–tradisional maupun modern yang masih memegang teguh tradisionalitas-
menganggap bahwa wanita yang cantik adalah yang gemuk karena dianggap lebih
sehat dan dapat melahirkan keturunan yang banyak. Berbeda dengan faktor-faktor
ketertarikan seksual pada masyarakat Barat yang berdasarkan pada warna kulit,
lekuk pinggang, warna rambut (untuk wanita), ukuran penis, postur punggung,
bentuk perut, dan status sosial (pada pria). Dengan begitu, standar kecantikan
manusia pada umumnya adalah sama, tetapi sedikit memiliki perbedaan pada tujuan
dan kelanjutan dari ketertarikan seksual tersebut.
Sebagai
saran, alangkah baiknya prospek penelitian terhadap ketertarikan seksual (sexual attractiveness) mendapat tempat
yang utama dalam studi antropologi ragawi khusunya di Indonesia. Dengan begitu,
maka dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan mempermudah kelanjutan
studi ini secara mendalam.
Bibliography
Artaria, M. D. (2016). Dasar Biologis Variasi Jenis
kelamin, Gender, dan Orientasi Seksual. BioKultur, Vol.V/No.2,
157-165.
Dixson, B. J., Dixson, A. F.,
Bishop, P. J., & Parish, A. (2010). Human Physique and Sexual
Attractiveness in Men and Women: A New Zealand–U.S. Comparative Study. Arch
Sex Behav, 798-806.
John Marshall Townsend, P., &
Timothy Wasserman, M. (1997). The Perception of Sexual Attractiveness: Sex
Differences in Variability. Archives of Sexual Behavior, Vol. 26, No. 3,
243-268.
Mahendra, A. Y. (2013). Mitos
Masyarakat Jawa dalam Hubungan Seksual menurut Serat Centhini.
Yogyakarta: Program Studi Bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta.
(n.d.). Sex Determinants . In Gender
Sebagai Faktor Penentu (pp. 1-78).
Starr, R. (2015, April 1).
Retrieved May 8, 2019, from The Daily Texan: https://www.dailytexanonline.com/2015/04/01/science-scene-sexual-attraction-based-on-cultural-and-individual-preferences
Stevens Jr, P. (2014, November
17). Wiley Online Library. Retrieved May 8, 2019, from
https://doi.org/10.1002/9781118896877.wbiehs110
Townsend, J. M., & Wasserman,
T. (1998). Sexual Attractiveness: Sex Differencesin Assessment and Criteria. Evolution
and Human Behavior 19, 171-191.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?