Tumbuh Kembang Manusia dan Pengukuran Antropometri
Fariduddin Aththar
(185110800111020)
Pendahuluan
Manusia adalah salah satu makhluk
hidup yang telah lama bertahan di bumi. Eksistensinya telah melewati beberapa
abad dengan berbagai macam rintangan dan halangan. Oleh karena itulah, spesies
manusia yang dapat bertahan hingga saat ini, adalah spesies manusia yang paling
baik karena telah mampu melewati seleksi alam. Untuk melewati seleksi alam itu,
manusia dituntut untuk selalu beradaptasi, dan salah satu bentuk adaptasi itu
adalah pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Pertumbuhan
dan perkembangan, secara mendasar adalah salah satu ciri atau tanda dari
makhluk hidup. Semua makhluk hidup, dari organisme terkecil hingga terbesar,
mengalami keduanya dengan pelbagai macam bentuk dan tahapnya. Tanpa keduanya,
suatu hal tidak dapaat dikatakan sebagai makhluk hidup, contohnya: batu tidak
tumbuh dari kecil lalu membesar, air tidak tumbuh dari sedikit menjadi banyak
dan lain sebagainya. Oleh karena itulah, suatu hal yang tidak mengalami
pertumbuhan dan perkembangan, disebut benda mati.
Di dunia yang semakin modern ini,
tumbuh-kembang manusia menjadi suatu studi tersendiri yang dalam praktiknya
terdapat dalam berbagai bidang; kedokteran, ilmu gizi, desain furniture, dan
lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa tumbuh-kembang manusia tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri. Oleh larena itlah muncul
antropometri sebagai sebuah bidang yang memfokuskan studinya pada pengukuran
tubuh manusia. Dalam esai inilah penulis akan menjabarkan tumbuh kembang
manusia dan pengukuran antropometri secara umum.
Pembahasan
Secara mendasar, pertumbuhan adalah
suatu proses perubahan fisik yang ditandai membesarnya bagin-bagian tubuh.
Contoh pertumbuhan adalah penambahan massa tubuh yang semakin berat,
bertambahnya ukuran tubuh yang semakin meninggi, dan lain sebagainya. Hal ini
utamanya disebabkan oleh bertambahnya sel-sel dalam setiap organ tubuh manusia
seperti tulang, daging, dan organ dalam lainnya.
Sedangkan perkembangan adalah proses
yang berkaitan dengan kemampuan kualitatif manusia yang berhubungan dengan
tubuhnya. Jika pada pertumbuhan yang dihitung adalah massa tubuh secara
kuantitatif, maka perkembangan mengukur kemampuan manusia dalam menggunakan
tubuhnya seperti makan, minum, berolahraga, berpikir, dan bersosialisasi. Hal
inilah yang kemudian banyak disebut sebagai proses menuju kedewasaan, karena
manusia dewasalah yang secara umum dapat memfungsikan tubuhnya secara sempurna (Usman
et al., 2014).
Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan
Peraturan Menteri (Permen) Kesehatan No. 66 tahun 2014 tentang Pemantauan
Pertumbuhan, Perkembangan, Dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak. Hal ini dilakukan
mengingat masih banyak masyarakat yang menyepelekan tumbuh-kembang anak.
Padahal, jika dilakukan secara baik, maka akan melahirkan generasi penerus yang
lebih baik.
Sebelum menginjak pada pembahasan mengenai fase-fase tumbuh-kembang,
setidaknya perlu diketahui terlebih dahulu bahwa banyak para ahli yang telah
memaparkan idenya masing-masing terkait fase-fase dalam tumbuh-kembang.
Beberapa ahli memisahkan kedua hal tersebut sehingga menjabarkan fase
pertumbuhan di satu sisi dan fase perkembangan di sisi yang lain. Fase
pertumbuhan cukup dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu prenatal (sebelum
dilahirkan) dan postnatal (setelah dilahirkan), sedangkan fase perkembangan
diurutnya sejak bayi, anak-anak, remaja, dan diakhiri di masa dewasa.
Menurut penulis, pertumbuhan dan perkembangan, adalah dua hal yang tidak
dapat dipisahkan sehingga banyak referensi yang kemudian menyebutnya sebagai
‘tumbuh-kembang’. Pertumbuhan fisik manusia secara kuantitatif akan diikutu
oleh perkembangan skill secara kualitatif dan begitu pula sebaliknya. Dalam hal
itu, manusia memiliki beberapa fase dalam tumbuh-kembangnya. Fase-fase itu
antara lain: Neonatus, Bayi, Toddler, Pra-Sekolah, Sekolah, dan Remaja.
Fase Neonatus, adalah
masa di mana bayi telah memiliki kehidupan, yaitu sejak dalam kandungan hingga
usia 28 hari. Dalam fase ini, pertumbuhan yang terjadi sangat drastic karena
bayi harus beradaptasi setelah dilahirkan. Di fase ini pulalah organ-organ
tubuh yang sebelumnya belum berfungsi mulai aktif seperti ginjal, hati, saluran
pencernaan, sistem peredaran darah dan sistem pernafasan.
Fase selanjutnya
adalah fase bayi, yang mana kemudian dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap
bulan pertama dan tahap bulan kedua. Dalam tahap pertama, bayi mempelajari
gerakan kasar seperti menggerakkan tangan dan kaki, gerakan halus seperti
menoleh ke kanan atau kiri, belajar berkomunikasi dan bersosialisasi. Di tahap
bulan kedua, bayi manusia mulai bergerak aktif seperti mengangkat kepala,
bersuara, dan tersenyum. Di fase ini pula, orang tua atau pengasuh wajib
memiliki pengetahuan tentang standar pertumbuhan bayi agar dapat mendeteksi
secara dini gangguan pertumbuhan yang mungkin saja terjadi. Karena bayi adalah
salah satu fase pertumbuhan yang sangat penting sehingga membutuhkan pengawasan
dan pemeliharaan tingkat tinggi.
Setelah satu tahun,
bayi manusia memasuki masa Toddler, yang mana mulai belajar dari lingkungannya.
Di fase ini, orang tua dapat memulai mendidik anak untuk perkembangan kognitif,
fisik dan mentalnya. Beberapa kemampuan dasar seperti memgang sendok, menaiki
anak tangga, berbicara singkat dengan satu dua patah kata.
Menginjak usia satu
tahun, anak mulai belajar beragam hal dari lingkungannya. Sebagai pengasuh
utama, orangtua dapat belajar bagaimana menyokong perkembangan anak baik
kognitif, fisik dan mental anak. Perkembangan yang didukung pun sebaiknya tidak
terlalu memberatkan sehingga anak mampu belajar sekaligus bermain.
Fase
selanjutnya adalah masa Pra-sekolah. Dalam tahap ini, yang berkisar pada usia
3-5 tahun, anak mulai mengalami perkembangan yang cukup pesat ditandai dengan
tingginya rasa ingin tahu. Anak akan mulai banyak bertanya dan mencoba berbagai
hal yang baru. Akhirnya, banyak pula hal lain yang muncul seperti: konsep
identitas, egosentrisme, imajinasi, cara berpikir, kemampuan berbahasa, dan
perilaku. Dalam masa inilah peran orang tua sangat vital dalam perkembangan
sosial anak sehingga tidak terpengaruh dari lingkungan yang buruk.
Fase
berikutnya yaitu fase sekolah di mana anak akan mempelajari seluk-beluk
kehidupan bersosial secara lebih luas, baik di kelompok kecil maupun di
kelompok besar. Anak akan mulai belajar
untuk mengikuti kelompok tertentu yang sesuai dengan dirinya. Hal ini juga
tidak terlepas dari sifat manusia yang secara alami mencari tempat yang nyaman
bagi dirinya. Selain faktor kenyamanan, popularitas juga tidak dapat dipisahkan
sehingga anak akan mencari kelompok yang dapat mengakui eksistensi dirinya.
Di
antara fase sekolah tersebut, ada fase lain yang ikut berkembang, yaitu fase
remaja. Dalam tahap ini, pertumbuhan fisik yang dinamakan pubertas dimulai dan
ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Setidaknya ada lima perkembangan yang
menyertai fase sekolah, yaitu: perkembangan fisik, intelektual, seksual, dan
emosional. Faktor lingkunga sangat berpengaruh dalam fase ini sehingga piak
orang tua maupun pihak sekolah atau institusi yang menaungi si anak harus mampu
mengerti dan merangkul remaja menuju kedewasaan yang sempurna.
Dari
sekian fase yang dipaparkan di atas, manusia sebagai makhluk hidup juga tidak
lepas dari gangguan. Beberapa gangguan itu menjurus langsung pada proses
pertumbuhan dan perkembangan manusia sehingga menimbulkan ketidaksempurnaan.
Oleh karena itu, perlu dikenali secara mendalam, apa saja gangguan dalam proses
tumbuh-kembang manusia.
Setidaknya
ada tiga gangguan utama dalam umbuh-kembang manusia, yaitu: down syndrome, autisme, dan ADHD. Ketiga gangguan itu, yang di dalam
beberapa literatur disebut sebagai penyimpangan, terlihat sangat jelas dalam
beberapa kasus. Akibatnya, beberapa anak tidak dapat bertumbuh dan, utamanya,
berkembang secara sempurna. Oleh karena itu, akan dijelaskan satu persatu
mengenai ketiga gangguan tersebut.
Yang
pertama, down syndrome, adalah
penyimpangan genetik yang terjadi sekali dari 800-1000 kelahiran. Karena
sifatnya yang genital, maka gangguan ini sangat berkaitan dengan pertumbuhan
prenatal. Gangguan ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1866
oleh seorang dokter Inggris, John
Langdon Down. Down syndrome utamanya disebabkan
oleh kelebihan kromosom ke-21 pada sel tubuh sehingga bayi akan memiliki 47
kromosom pada rangkaian DNA-nya. Penderita gangguan ini biasanya terlhat dari
pemnampilan fisiknya yang kurang sempurna, antara lain: wajah bulat, hidung
datar, ukuran kepala di bawah rereta normal, mulut kecil, lidah menjulur, mata
sipit, dan tangan kaki yang pendek.
Yang kedua, autism, adalah gangguan yang ada kuhususnya
pada kemampuan komunikasi dan interaksi sosial. Gangguan ini terjadi dalam
berbagai bentuk, seperti gangguan dalam hubungan timbal-balik dalam percakapan,
kemampuan komunikasi nonverbal, kemampuan untuk mengembangkan, menjaga, dan
memahami suatu hubungan dengan orang lain. Penderita autisme memiliki tingkah
laku, minat, dan kegiatan yang terbatas dan selalu berulang-ulang. Beberapa kriteria yang ada dalam penderita
autisme adalah keterlambatan atau bahkan ketidakmampuan untuk berinteraksi
secara sosial, gerakan motorik yang selalu berulang, dan ketertarikan terhadap
suatu hal secara terus-menerus.
Yang ketiga, ada Attention Deficit Hyperactivity Disorder
(ADHD) yang merupakan sebuah gangguan pemusatan perhatian yang ditandai dengan
perilaku hiperaktif dan terburu-buru (impulsif). Selain ADHD, Ada pula gangguan
yang disebut Attention Deficit Disorder
(ADD) yaitu gangguan yang sama tetapi tanpa diikuti perilaku hiperaktif..
Beberapa karakteristik ADHD adalah kurang perhatian, hiperaktivitas
impulsifitas, adanya gangguan secara klinis dalam fungsi sosial, akademik, atau
pekerjaan (Chamidah,
n.d.)
Beberapa
penelitian tentang tumbuh kembang telah dilakukan, antara lain seperti yang
dilakukan dalam meneliti anak usia 3-24 bulan di daerah konflik, dalam hal ini
lokasi penelitian difokuskan di Kabupaten Poso selama Februari sampai Maret
2014 dengan sampel 40 anak. Hasilnya, anak usia tersebut mengalami gangguan
perkembangan yang cukup signifikan akibat ketidakstabilan yang ada dalam
kehidupan sosial masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat maupun pemerintah
haruslah menyadari keberadaan para penerus bangsa yang kondisinya sangat
memprihatinkan (Usman
et al., 2014)
Selanjutnya,
untuk mengetahui secara lebih mendalam terkait tumbuh-kembang, maka tidak bisa
dilepaskan dari pengukuran antropometri yang menjadi penopangnya. Dengan
antropometri, tumbuh-kembang manusia dapat terpantau dengan baik. Tanpanya,
maka manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara tepat.
Pengukuran Antropometri
Antropometri, secara bahasa berasal
dari dua kata, yaitu ‘anthro’ yang
berarti manusia dan ‘metri’ yang
berarti ukuran. Antropometri setidaknya memiliki arti sebagai suatu bidang ilmu
yang mempelajari pengukuran tubuh manusia dari tulang, otot, dan jaringan
adiposa atau lemak. Bidang yang diteliti yaitu ukuran tubuh manusia ketika
berdiri, merentangkan tangan, lingkar tubuh, dan lain sebagainya. Hal ini
sangat diperlukan mengingat manusia membutuhkan berbagai furnitur yang sesuai
dan cocok untuk tubuh sehingga membuat nyaman dan tidak menimbulkan gangguan
bagi pertumbuhan tubuh (Hasimjaya
et al., 2017).
Data-data yang didapatkan dari
pengukiran antropometri, setidaknya bersumber pada tiga hal, yaitu: dimensi
tubuh (meliputi berat, tinggi, panjang, dan lingkar tubuh), komposisi (tebal
lemak dan indeks masa tubuh), serta pembengkakan (lingkar, volume dan palpasi).
Pengukuran antropometri untuk mendapatkan data-data tersebut menggunakan
alat-alat yang mumpuni, antara lain: timbangan injak (untuk berat badan),
mikrotoise (tinggi badan), meteran gulung (lingkar tubuh dan panjang anggota
badan), skin folder (lemak tubuh) dan tabel (indeks massa tubuh).
Pengukuran antropometri, selain
untuk desain mebel atau furniture secara ergonomi, juga berfungsi untuk
mengawasi pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal itu dilakukan untuk mencegah
adanya gangguan atau penyimpangan pada tumbuh-kembang sebagaimana telah
disebutkan sebelumnya (Narendra,
n.d.).
Pengukuran antropometri itupun tidak boleh sembarang dilakukan, melainkan
haruslah melalui standar-standar pengukuran yang tepat. Kesalahan pengukuran
atau penggunaan standar yang tidak tepat dapat mengabaikan gangguan yang
sebenarnya terjadi.
Beberapa
contoh penelitian tentang antropometri telah dilakukan, antara lain yang
dilakukan untuk mengukur desain mebel yang digunakan dalam pendidikan usia dini
di Siwalankerto, Surabaya. Permasalahan yang mereka temukan cukup pelik, yaitu
tidak adanya kesesuaian mebel yang digunakan dalam proses belajar mengajar,
terutama pada anak usia 3-4 tahun yang sering berada dalam kelas dan
berinteraksi menggunakan furnitur sekolah. Oleh karena itu, perlu desain mebel
yang lebih sesuai dan nyaman, agar selain memberikan kenyamanan dalam proses
belajar mengajar, juga tidak mengganggu pertumbuhan anak usia dini (Hasimjaya
et al., 2017)
Contoh lain penelitian antropometri
adalah analisis terkait perkembangan kemampuan motori kasar pada balita. Dalam
penelitian ini, yang mengambil sampel berupa beberapa balita yang ternaungi
dalam sebuah posyandu, kedua peneliti hendak mengetahui pengukuran antropometri
mana yang memicu perkembangan kemapuan motorik kasar. Hasilnya, setidaknya ada
dua antropometri yang memicu perkembangan kemampuan motorik kasar balita, yaitu
tinggi badan berdasarkan umur (TB/U) dan massa tubuh berdasarkan umur
(IMT/U) (Rosidi
and Syamsianah, n.d.)
Selain beberapa ukuran standar yang
tela banyak dilakukan, muncul pula pengukuran antropometri pengganti. Hal ini
berupa pengukuran lingkar betis yang dianggap mampu mendeteksi secara dini
Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). Penelitian yang dilakukan di Kota Pontianak
ini, berhasil mengambil kesimpulan bahwa pengukuran lingkar betis telah
dibuktikan mampu mendeteksi kasus itu dengan rasio yang amat tinggi. Dalam
beberapa kasus, pengukuran lingkar betis juga dapat menjadi pengganti
pengukuran berat badan (Kusharisupeni
and Marlenywati, 2011).
Penelitian
lain terkait antropometri yang terakhir adalah sebuah terobosan teknologi
karena menghasilkan sebua produk berupa Sistem Informasi Antropometri
Terintegrasi yang kemudian diberi nama OTOTIM. Sistem ini dibuat untuk
menyempurnakan sistem-sistem antropometri yang sebelumnya sudah ada yang
kemudian akan memudahkan pengguna dan ahli-ahli di bidang antropometri
mengetahui kebutuhan klien secara lebih mendalam. Selain itu, pengawasan
terhadap tumbuh kembang bayi maupun balita akan dilakukan secara lebih mudah. (Wicaksono
et al., 2016)
Kesimpulan
Dari
beberapa uraian di atas, dapat diambil setidaknya dua kesimpulan utama, yaitu:
pertumbuhan dan perkembangan adalah suatu proses yang ada dalam setiap bentuk
kehidupan, termasuk manusia. Dalam proses tersebut, manusia berkembang baik
secara kuantitatif maupun kualitatif. Pengawasan dan bimbingan yang tepat perlu
dilakukan untuk mencegah adanya gangguan atau penyimpangan dalam kedua proses
itu.
Sedangkan pengukuran antropometri
adalah pengukuran tubuh melalui berbagai dimensi dengan tujuan mengetahui
kebutuhan manusia terkait gizi, furnitur, dan pencegahan gangguan pertumbuhan
secara tepat dan sesuai. Dalam pengukuran antropometri, penggunaan
standar-standar yang tepat sangat diperlukan agar tidak menimbulkan kerancuan
data. Pada akhirnya, kebutuhan gizi, furniture, dan deteksi gangguan dini dapat
dilakukan dengan baik.
Daftar
Pustaka
Chamidah, A.N., n.d. DETEKSI DINI GANGGUAN
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK 8.
Hasimjaya, J., Wibowo,
M., Wondo, D., Siwalankerto, J., 2017. Kajian Antropometri & Ergonomi
Desain Mebel Pendidikan Anak Usia Dini 3-4 Tahun di Siwalankerto 5, 11.
Kusharisupeni, K.,
Marlenywati, M., 2011. LINGKAR BETIS, SATU PENGUKURAN ANTROPOMETRI SEDERHANA
PENGGANTI BERAT LAHIR. J. Kesehat. Masy. Andalas 5, 81–84.
Narendra, M.B., n.d.
PENGUKURAN ANTROPOMETRI 10.
Rosidi, A., Syamsianah,
A., n.d. OPTIMALISASI PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR DAN UKURAN ANTROPOMETRI ANAK
BALITA DI POSYANDU “BALITAKU SAYANG” KELURAHAN JANGLI KECAMATAN TEMBALANG KOTA
SEMARANG. Semin. Has.-Has. Penelit. – LPPM UNIMUS 2012 162–169.
Usman, H., Sukandar,
H., Sutisna, M., 2014. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 3-24 Bulan di
Daerah Konflik. Kesmas Natl. Public Health J. 9, 44.
https://doi.org/10.21109/kesmas.v9i1.455
Wicaksono, N.B.,
Kridalukmana, R., Windasari, I.P., 2016. Sistem Informasi Antropometri
Terintegrasi Dengan Sistem Tertanam Sebagai Pengukur Berat Dan Tinggi Balita.
J. Teknol. Dan Sist. Komput. 4, 187. https://doi.org/10.14710/jtsiskom.4.1.2016.187-201

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?