The Post (2017): Ketika Pers Melawan Pemerintah



Alhamdulillah. Akhirnya saya punya kesempatan untuk menulis review film lagi.

The Post (2017) berkisah tentang dinamika kehidupan pers. Saat itu, koran lokal yang terkenal adalah The New York Times (The Times) menjadi harian nasional. Kualitas berita mereka luar biasa, begitu pula konten-konten yang mereka sajikan. Tak ayal, Salah seorang mantan peneliti perang yang ikut turun ke Vietnam membocorkan riset pemerintah yang bersifat sangat rahasia kepada mereka. Akibatnya, The Times harus dicekal oleh pemerintah yang saat itu dipimpin oleh Richard Nixon. Tapi The Times hanyalah awal mula.

Di sisi lain, The Washington Post (The Post) mencoba mengembangkan perusahaan dengan melantai di bursa saham. Tidak lagi menjadi bisnis keluarga, melainkan menjadi perusahaan umum. Sayangnya, ruang redaksi tidak mendapat bahan berita yang pas untuk mengalahkan dominasi The Times. Pencekalan The Times yang dilakukan pemerintah membuat mereka semakin bernafsu untuk mendapatkan data penelitian yang disebut Pentagon Papers itu. Dan ketika mereka mendapatkannya, banyak kontradiksi terjadi yang tak hanya melibatkan pers, tetapi juga memaksa mereka melawan pemerintahan Nixon.

Pers dan Pemerintah

Sebagaimana disebut dalam film, pemilik dari perusahaan ini, Katharine Graham (Meryl Streep), memiliki relasi khusus dengan pemerintah. Apalagi, ia juga bersahabat dengan Robert McNamara (Bruce Greenwood) yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Bukan suatu pemandangan yang langka jika keduanya kerap makan malam bersama.

Relasi perusahaan The Post sudah dibangun oleh ayah Kay Graham, Eugene dan terus dijalin hingga Nixon menjabat. Tak ayal, rencana pemred Ben Bredlee (Tom Hanks) untuk mengikuti jejak The Times membongkar kebusukan pemerintah terkait perang dan politik Vietnam membuat relasi itu terancam hancur. Dan hal itu terbukti ketika The Post mengambil langkah berani untuk menerbitkan Pentagon Papers, Nixon melarang wartawan The Post untuk masuk ke wilayah Gedung Putih, bahkan untuk fotografer sekalipun.

Sebelum kejadian itu, The Post melalui Judith Martin (Jessie Mueller) sudah pernah mempermalukan Nixon dengan meliput pernikahan putrinya yang pernuh dengan kepentingan politis.


Dinamika Ruang Redaksi

Pengalaman saya dalam dunia jurnalistik sangat minim. Dulu di SMA, saya sempat bergabung dengan kelompok santri jurnalis yang meliput kegiatan santri, pembangunan pondok, sosok Kyai, dan sebagainya. Sayang sekali, kehidupan jurnalis yang terlalu kaku membuat saya lebih memilih untuk bergabung dengan kelompok kepenulisan Saintifik al-Qur'an. Kelompok yang sempat saya bina ketika menjadi muallim di pondok itu sampai saat ini tetap ada. Namanya FKAIP.

Nah, melihat dinamika ruang redaksi melalui film, membuat saya takjub bukan kepalang. Ketegangan dan intensitas tekanannya sangat tinggi. Sebagai orang yang ingin hidup santai tanpa tekanan, saya ragu dapat bertahan. Tapi itu terbayar. Kehidupan redaktur seperti itu terbayar dengan kepuasan pembaca. Sebelum penerbitan kasus itu, dibutuhkan dua kali rapat direksi: yang pertama untuk menentukan apakah kasus itu diambil ketika redaksi telah mendapatkan datanya, dan yang kedua untuk menetukan pencetakan final kasus itu. Dan menurut saya, keputusan Kay Graham untuk tetap menerbitkannya di tengah ancaman ia akan dipenjara karena melawan UU. Spionase dan berkurangnya investor non-bank adalah keputusan yang tepat. Ia lebih memilih kebebasan pers di atas segalanya.

Selain The Post, saya juga sudah melihat Spotlight (2015), yang tak disangka-sangka memenangi The Best Picture Oscar mengalahkan The Revenant. Berbeda dengan The Post yang berfokus mendalami Pentagon Papers di rumah Ben selama kurang lebih dua hari, tim Spotlight dari The Boston Globe mendalami pelecehan seksual dan pedofilia di lingkungan gereja melalui penelusuran lapagan yang mendalam. Jika The Post melawan pemerintah rezim Nixon, tim Spotlight melawan kemunafikan Kejaksaan dan Gereja Vatikan.

Kesimpulan: Emosi yang Tertahan

Untuk film bertema jurnalistik, The Post adalah film yang bagus dan pantas baginya masuk ke dalam daftar 1001 Film Terbaik. Penulisan naskah film ini yang berdasarkan teks faktual tidak menghalangi keepikan visualnya, sebagaimana film-film lain yang berdasarkan novel tetapi malah lebih bagus versi tekstualnya. Sayangnya, ketegangan dalam film ini tidak banyak tersampaikan. Film ini terlalu mencoba menahan emosi karakternya, sebagaimana kehidupan jurnalis yang netral. Narasi dan visualisasi kondisi sejarah kurang banyak tereksplor. Meski membuat saya menangis di scene dimana mereka mendapat kemenangan 6-3 atas pemerintah, film ini tetap datar. Steven Spielberg, sebagai sutradara film ini, seperti orang bersin yang tidak jadi. Hehe

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir