Selamat Hari Kesaktian Pancasila untuk Kalian Yang Merayakan


Hari ini hari Sabtu. Normalnya, saat ini sudah masuk weekend sehingga kegiatan sekolah dan perkantoran libur. Tapi, mengingat hari ini sudah masuk tanggal satu Juni, maka tanggal merah pun menghitam. Hebat ya.

Ada apa di tanggal satu Juni?

Gak ada. Gak ada apa-apa sebenarnya. Beneran. Sumpah.

Cuma, tepat di tanggal ini, 74 tahun yang lalu, Soekarno ngenalin lima poin yang disebutnya sebagai Pancasila. Iya, beneran. Dia cuma NGENALIN. Udah itu aja. Gak ada yang lain. Itu pun idenya agak-agak mirip sama dua orang orator sebelum dia, M. Yamin sama Mr. Soepomo. Jadi kayak nyontek gitu. Tapi karena orasi Soekarno lebih hebat, dan kebetulan juga waktu itu hari terakhir, audience pun lebih apresiatif sama Soekarno. Selesai berorasi, semua anggota sidang berdiri. Mereka memberikan standing applause untuk ide dan gagasan hebat Soekarno tentang dasar negara. Maka, lahirlah Pancasila.

Hore.

Yah, saya gak bakal ngomong tentang sejarah pancasila. Kita sebagai mantan peserta wajib belajar sembilan tahun udah ngapalin rangkaian kejadian sejak kekalahan Jepang di PD II sampe Endonesa bereformasi menurunkan Joko, eh, Soeharto. Eh, gak cuma itu. Kita masih hapal nama-nama kerajaan dari zaman Kutai kan? Sampe ngafalin candi-candinya juga. Sumpah, rasanya useless banget semua pengetahuan itu. Untung gak sepahit pengalaman jalan sama mantan. Kalo rasanya sama pengin dibuang aja.

Yah, saya cuma ngucapin selamat. Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Ya, bagi kalian yang merayakan. Udah Sabtu, eh malah gak jadi libur dan harus dateng upacara. Selamat buat kalian yang masih percaya sama pancasila.

Selamat buat kalian yang merasa agamis sesuai sila pertama tapi mengkafirkan saudara sesama muslim. Selamat buat pemerintah -entah Soeharto atau Jokowi- yang menolak agama-agama lokal dan memaksa mereka buat masuk ke Big Six agama di Endonesa. Selamat buat kalian yang merasa benar sendiri dengan iman kalian dan dengan seenaknya mengusir hak kehidupan kelompok Syiah dan Ahmadiyah padahal mereka tetangga sendiri.

Agamis banget ya negeri kita? Udah sesuai kok sama sila pertama pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Selamat juga buat kalian yang masih mendiskriminasi sesama manusia atas perbedaan pilihan politik. Selamat buat pemerintah yang dengan kekuatan u(nd)ang-u(nd)angnya mempersekusi masyarakat adat, menghancurkan kekuatan oposisi, dan menggerakkan aparat untuk membersihkan para penuntut HAM. Oh iya, selamat juga buat aparat yang udah -dengan cara yang paling manusiawi- menerima teman-teman pers. Katanya data-data jurnalistik sering diamankan polisi kan? Wah, baik sekali. Kalo gitu saya nitip IPK saya juga dong. Biar aman.

Humanis kan negeri kita? Ya iyalah. Jelas. Sesuai dengan sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Selamat juga buat kalian yang sudah secara yakin memutus hubungan keluarga karena beda (aliran) agama, tak mau menguburkan jenzah tetangga karena pendukung presiden (yang katanya) PKI, dan menolak lambang salib di jalan raya atau pemakaman. Selamat buat kalian yang masih pecaya kalo bersatu itu berarti harus sama semua: suku, agama, ras, dan pilihan presiden. Selamat buat kalian yang masih menutup mata terhadap kelompok minoritas. Selamat.

Kalian ngelakuin semua itu berdasar sila ketiga kan? Ya jelaslah. Semua itu demi Persatuan Indonesia.

Hari Kesaktian Pancasila nih juga pasti dirayakan sama orang-orang parpol ya kan? Selamat ya. Berkat kalian, setiap warga Endonesa ini berpeluang untuk jadi presiden asal ada sokongan uang. Alhamdulillah. Ya iyalah. Masak mau jadi presiden tapi gak punya rekening di Swiss? Ya kali. Mau dikasih apa coba para relawan Jokowi  ngabisin tenaga buat mendulang suara? Dikasih makan nawacita? Halah, harapan palsu aja sekarang gak semanis dulu bikinnya. Lidah masyarakat sekarang nih jadi lebih pahit. Tentu saj itu berevolusi akibat overdosis harapan populis. Ya kan?

Selamat juga buat amggota dewan yang rela bolos rapat -bahkan sekelas rapat paripurna. Widih, berat banget tuh. Itu semua demi sila keempat kan? Permusyawaratan dan Perwakilan? Wuih, hebat emang Endonesa ini.

Udah, ah. Masak saya harus nerusin kayak gini. Masak saya harus nulisin kekurangan bangsa kita di setiap sila Pancasila. Ngingetin bangsa kita lagi kalo emang harus balik ke Pancasila, kita gak boleh kayak gini kayak gitu. Ya emang sih ada orang-orang yang mendiskriminasi satu sama lain. Merendahkan kelompok minoritas, mengusir aliran (sesat), menghina orang-orang yang terlahir biseksual atau no-seks, dan lain sebagainya yang gak sesuai sila terakhir Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Tapi ini kan juga salah pemerintah: yang mendukung kapitalisme sehingga jurang kesenjangan kaya-miskin semakin lebar, bikin undang-undang gak ngeliat masyarakatnya, mendorong pembangunan tapi gak liat dampaknya ke lingkungan, dan memonopoly tambang yang jelas-jelas merugikan. Ah, pokoknya pemerintah banyak hebatnya dah. Jokowi nomor satu!

Oh iya, Pak Jokowi. Selamat Hari Kesaktian Pancasila!

Saya Cebong, Saya Pancasila!

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir