Review Produksi dan Reproduksi Kebudayaan dalam Ruang Sosial Baru


Judul
Produksi  dan Reproduksi  Kebudayaan dalam Ruang  Sosial  Baru
Judul Buku
Globalisasi dan Deteritorialisasi Budaya
Tahun
2007
Penulis
Irwan Abdullah
Reviewer
Fariduddin Aththar (185110800111020)
Tanggal Review
15 April 2019


Pendahuluan
Proses reproduksi kebudayaan merupakan proses aktif yang menegaskan keberadaannya dalam kehidupan sosial sehingga mengharuskan adanya adaptasi bagi kelompok yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda
Ada dua hal yang membuat reproduksi kebudayaan menjadi penting, yaitu: 1) adanya proses dominasi dan subordinasi yang dinamis pada tataran sosial sehingga dinamika kebudayaan dapat dijelaskan secara lebih lengkap. 2) adanya proses resistensi dalam reproduksi identitas kultural pada tataran individual. Kedua hal itulah yang kemudian menentukan eksistensi suatu kebudayaan dalam kebudayaan lain yang lebih besar.
Referensi mengenai proses reproduksi kultural suatu kebudayaan di Indonesia sangat terbatas sehingga penelitian yang serupa sangat perlu digalakkan. Terutama di masa modern di mana terjadi mobilisasi massa yang sedikit tetapi berfrekuensi tinggi terus terjadi.
Mobilitas, Konteks Budaya dan Pembentukan ldentitas
Mobilitas adalah nafas utama modernitas. Hal itu menimbulkan suatu pertemuan budaya, antara identitas pribadi dengan budaya lingkungan. Oleh karena itu, muncul dilema: manusia modern di satu sisi musti beradaptasi dengan budaya di lingkungan yang baru demi eksistensinya, sedangkan ia tak bisa meninggalkan begitu saja identitas budaya yang sudah ia bawa dan dibentuk sejak lahir.
Identitas kelompok dan identitas kebudayaan setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor: wilayah tempat tinggal, latar belakang sosial, dan latar belakang kebudayaan. Perubahan yang terjadi dan masuk menjadi sejarahnya kemudian memberikan corak warna baru. Oleh karena itu, identitas manusia secara individu di masa modern ini tidak lagi terikat pada suatu wilayah. Identitas itu kemudia melebur seiring hilangnya batas-batas kebudayaan dalam masyarakat internasional.
Karena mobilitas yang terjadi tidak lagi bersifat personal, melainkan komunal maka kerja antropolog saat ini adalah melihat bagaimana suatu masyarakat dapat mempertahankan identitas kebudayaan itu bersama-sama dalam lingkungan yang baru. Selain itu, terjadi pula peleburan wilayah kebudayaan yang semakin mengkabur seiring kemajuan teknologi transportasi dalam memobilisasi manusia.
Setidaknya ada dua proses dalam rekonstruksi identitas kebudayaan secara komunal: 1) adaptasi kultural para pendatang dengan kebudayaan asli di lingkungan yang baru. 2) pembentukan identitas individual yang dapat saja mengacu kepada nilai-nilai kebudayaan asalnya. Kedua proses ini pada dasarnya bertahap tapi membuka kemugkinan untuk selalu berjalan beriringan di mana mobilitas manusia juga selalu dan terus terjadi.
Untuk menjelaskan perubahan adaptasi suatu etnis, maka perlu digunakan teori konfigurasi budaya. Ada tiga proses yang berhubungan dengan proses migrasi: 1) pengelompokan baru dengan orang-orang yang berbeda, 2) redefinisi sejarah kehidupan seseorang karena ada fase kehidupan yang terbentuk, dan 3) pemberian makna baru bagi diri sesorang yang mana ia akan meredefinisi identitas kulturalnya.
            Tidak hanya konteks sosial yang terjadi seiring meningkatnya migrasi, melainkan perubahan makna sosial dan individual juga terjadi. Hal ini yang kemudian memberikan makna baru dalam aktivitas manusia selanjutnya, karena dalam setiap tindakan, manusia selalu bersandar pada konteksnya.
            Selain itu reproduksi kebudayaan merupakan proses penegasan dentitas budaya yang dilakukan oleh pendatang, yang dalam hal ini menegaskan eksistensi kebudayaan asalnya. hal itu akan selalu terjadi dalam lingkup pendatang atau migran, yang kemudian bertemu kebudayaan lain, baik dengan perbedaan yang cukup besar atau kecil.
Pembentukan Ruang Simbolik Baru
Tidak hanya identitas kultural yang berubah, melainkan sikap dan aktivitas konsumsi secara global. Hal ini tidak terlepas dari integrasi ekonomi ke ekonomi gloal. Dalam proses integrasi itu, maka aktivitas konsumsi menjadi faktor yang penting dalam mengubah tatanan nilai dan tatanan simbolis.
Sifat pembangunan ekonomi yang industrialis mengubah peta pemerataan ekonomi menjadi lebih memusat pada perkotaan. Hal itu pula yang meingkatkan migrasi penduduk desa ke kota dan berimbas pada meningkatnya jumlah penduduk perkotaan. Setidaknya ada beberapa implikasi terkait hal itu: 1) fasilitas yang kurang memadai karena pengadaan sara dan pra-sarana tidak seimbang dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, 2) pengelolaan ruang yang semain rumit sehingga mempengaruhi harga tanah dan berimbas pula pada tingginya biaya hidup. 3) berkurangnya kenyamanan dan keamanan untuk tinggal di perkotaan.
Terjadinya transformasi sosial perkotaan digambarkan melalui dua hal: proses konsumsi simbolis dan transformasi estetis. Kedua hal itu kemudian dijelaskan dengan tiga cara: 1) kelas sosial yang membedakan proses konsumsi di mana setiap kelas menunjukkan identifikasi yang berbeda, 2) barang konsumsi menjadi wakil dari eksistensi, dan 3) citra yang dipancarkan oleh suatu produk atau praktik tertentu merupakan alat ekspresi bagi kelompok.
Perubahan konteks sosial itu terjadi di desa maupun kota. Di desa, perubahan itu berupa pelemahan symbol-simbol dan rekonstruksi symbol di kota. Karena pada dasarnya kebudayaan selalu terikat dengan lokalitas, maka symbol-simbol kebudayaan itu terus berubah seiring perubahan lokasi pembawanya, yaitu manusia.
Penutup: Yang Produktif dan Reproduktif dari Kebudayaan
            Di masa modern ini, media memegang pengaruh massa terutama dalam distribusi kebudayaan global dan hal itu mempengaruhi hidup secara langsung. Sebaliknya, institusi-institusi yang sebelumnya menjadi sumber resmi perubahan seperti pemerintah, kebudayaan dan lembaga agama malah tidak terlibat banyak dalam proses produksi – reproduksi citra simbolik. Selain itu, kebudayaan telah beralih fungsi yang sebelumnya merupakan pedoman tingkah laku menjadi symbol untuk identifikasi personal maupun komunal. Kemudian batas-batas kebudayaan yang mulai mengabur dibangun kembali yang diikuti pula dengan sifat eksklusifisme kelompok.
            Tiga hal penting yang perlu dicatat adalah: 1) strategi adaptasi sekelompok etnis di dalam proses integrasi sosial perlu dipahami di mana ia menjadi bagian dari sebuah sistem umum, 2) bagaimana dominasi dan kendali kebudayaan asli terhadap corak budaya individu, dan 3) bagaimana kebudayaan direpresentasikan dan dimaknai oleh sekelompok orang, asli maupun pendatang, yang mana batas keduanya semakin kabur.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir