Review Pesta, Persaingan, dan Konsep Harga Diri di Flores


Judul
Pesta, Persaingan dan Konsep Harga Diri di Flores
Judul Buku
Globalisasi dan Deteritorialisasi Budaya
Tahun
2007
Penulis
Drs. Hans J. Daeng
Reviewer
Fariduddin Aththar (185110800111020)
Tanggal Review
15 April 2019


Pendahuluan
Dalam antropologi, studi tentang pesta telah lama dilakukan melihat bahwa pesta itu sendiri menjadi ritual yang cukup penting dalam kehidupan bermasyarakat. Di sisi lain, modernitas yang membawa nafas individualism menyatakan bahwa pesta merupakan bentuk pemborosan sumber daya.
Pesta tradisional berfungsi untuk memepertahankan status dan prestise sosial dan mengatur distribusi penduduk.  
Deskripsi Umum Pulau Flores
·         Geografi
Pulau Flores terletak kurang lebih 550 mil laut sebelah selatan khatulistiwa dan terdiri atas pegunungan dan beberapa pulau kecil. 
·         Sejarah
Flores pernah berada dalam kekuasaan Majapahit, lalu Malaka dan akhirnya Portugis ketika kolonialisme mulai mewabah di Asia Tenggara. Kemudian Flores mulai berpindah tangan, dari kesultanan-kesultanan lokal hingga VOC. Di masa peralihan setelah kemerdekaan, raja-raja Flores beraliansi dalam satu persekutuan. Setelah habis masa perserikatan, aliansi ini dibubarkan kemudian berdirilah Propinsi Nusa Tenggara Timur yang melingkupi Pulau Flores.
·         Demografi
Total jumlah penduduk Pulau Flores mencapai 1.249.052 jiwa (pada 1980)
·         Ekonomi
Dasar mata pencaharian penduduk Flores adalah bertani. Kemudian pertanian itu berkembang seiring munculnya metode-metode baru dari daerah lain. Ada pula beberapa daerah yang mengembangkan peternakan, antara lain kerbau kuda dan sapi. Bagi penduduk, ternak di Flores memiliki beberapa makna khusus: 1) ekonomis secara tidak langsung, 2) pemujaan leluhur, 3) status sosial pemiliknya, 4) kemampuan membayar mas kawin, dan 5) persaingan antar kepala suku atau kepala adat.
·         Aspek Sosial, Politis dan Hukum
Secara politis, Flores dipimpin oleh kepala suku yang diangkat sebagai Raja oleh pemerintah Hindia-Belanda. Secara sosial, kekerabatan dalam lingkungan Flores masih terikat erat. Hal itu dikarenakan tingkat partisipasi anggota masyarakat sangat tinggi demi keberlangsungan hidup masyarakat Flores.
·         Seremoni
Pesta telah menjadi hal yang wajib dalam kebudayaan Flores. Banyak upacara-upacara yang kemudian memerlukan banyak biaya, tidak hanya untuk selama perayaan berlangsung, melainkan untuk hadiah yang bisa dibawa pulang masyarakat. Prestise yang diusung pun sangat tinggi sehingga perayaan pesta yang tidak meriah bisa sangat mempermalukan keluarga.
Boka Goe
Boka goe adalah festival yang diadakan untuk menyelesaikan sengketa tanah. Prinsipnya, setiap tanah adalah milik leluhur atau nenek moyang. Maka dari itu, demi mendapatkan persetujuan dari mereka yang telah lama meninggal, maka diadakan perlombaan dari kedua belah pihak yang bertikai. Perlombaan yang dilakukan adalah menyembelih hewan sebanyak-banyaknya dan meminta dukungan dari pihak luar. Kriteria siapa yang boleh melakukan boka goe adalah para pemimpin klan, dan siapapun yang menjadi anggota klan – dalam arti ikut serta menggunakan tanah leluhur – diwajibkan hadir.
Para pemimpin klan juga berhak mengatur sumbangan yang dilakukan dalam boka goe. Umumnya, sumbangan yang diberikan berupa hewan ternak, tuak, dan beras. Selain itu, sumbangan yang diberikan anggota kemudian akan dikembalikan setelahnya berupa distribusi yang merata. Oleh karena itulah boka goe tidak hanya dilihat sebagai pesta atau festival yang boros, melainkan juga ajang distribusi kekayaan antara orang mampu kapada orang kurang mampu.
Tujuan utama boka goe, sebagaimana praktiknya, adalah untuk melerai pertikaian tanah. Keputusan nenek moyang, diwakilkan kepada raja suku. Akhirnya, pihak yang menang terkadang adalah pihak yang memiliki hewan koban paling banyak.
Fungsi Boka Goe
·         Analisa Fungsional
Fungsi yang nyata dari boka goe adalah untuk menyelesaikan pertikaian tanah, sedangkan fungsi latennya adalah untuk menyelesaikan prestise dan status kekeluargaan. Mengapa prestise menjadi penting? Karena dengan status dan prestise sosial yang tinggi, masyarakat dapat mengklaim tanahnya sendiri.
·         Pemerataan Penduduk atau Tanah
Penyelesaian sengketa tanah melalui boka goe juga menjadi jalan bagi distribusi tanah ke seluruh masyarakat. Hal ini didasari pada kemenangan boka goe umumnya diraih oleh klan dengan jumlah anggota yang terbanyak. Oleh karena itu, tanah hasil kemenangan didistrribusikan kepada seluruh anggota klan sesuai porsi masing-masing.
·         Memperkecil Rasio Hewan atau Tanah
Pengecilan rasio hewan dan tanah didasari pada dua hal: pengorbanan hewan ternak dan perebutan status kepemilikan tanah. Dengan begitu, maka keduanya akan selalu berkurang. Hal ini juga menjadi salah satu fungsi dari boka goe yang kemudia memengaruhi perubahan sosial dan kultural masyarakat Flores.
Perubahan-Perubahan Dewasa Ini
·         Mengganti Pesta dengan Pengadilan
Kemajuan zaman membawa masyarakat tradisional ikut melebur dalam identitas nasional. Lahirnya negara Indonesia juga membuat masyarakat tradisonal terintervensi oleh peraturan dan hukum-hukum nasional. Maka dari itu, pesta-pesta termasuk juga boka goe, mulai digantikan dengan penyelesaiain sengketa tanah di pengadilan. Hal mistis seperti keputusan luluhur sistem politik yang tidak lagi dipegang oleh raja, dan pendidikan hukum yang semakin tinggi juga turut memengaruhi eksistensi boka goe.
·         Munculnya Persaingan dalam Mas Kawin
pada mulanya, prestise masyarakat Flores terletak pada penguasaan tanah: siapa yang memiliki tanah paling luas maka kehormatannya semakin tinggi. Sayangnya, prestise masyarakat di zaman modern telah bergeser pada uang, dan tidak hanya tanah, baik pertanian atau peternakan, melainkan juga dapat dipenuhi oleh mata pencaharian modern berbasis penyediaan jasa. Oleh karena itu, prestise masyarakat kemudian bergeser pada penyediaan mas kawin.  
Ringkasan, Kesimpulan dan Rekomendasi
Setidaknya ada dua kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini: 1) Ada satu korelasi yang hidup dan dinamis antara tekanan atas dan struktur masyarakat pribumi di Flores. 2) Tingkah laku manusia yang bersifat sosial, seeremonial dan kegamaan, harus berhubungan atau tidak ada sangkut-pautnya dengan tingkah laku yang bersifat ekologis dan ekonomis.
Intervensi pemerintah terhadap kebudayaan tradisional tidak boleh sampai menghapus kebudayaan itu sendiri, karena eksistensi masyarakat itu didasari oleh ritual-ritual bentuk kebudayaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi lebih lanjut terkait eksistensi kebudayaan dan pengaruh pemerintah terhadap praktik-praktik kebudayaan.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir