Review Masculinization of Javanese Farming Community’s Household Economy; Petungkriyono, 1984-2009


Judul
Masculinization of Javanese Farming Community’s Household Economy; Petungkriyono, 1984-2009
Judul Buku
Revisiting Rural Places: Pathways to Poverty and Prosperity in Southeast Asia (ed Rigg Jonathan and Peter Vandergeest)
Tahun
2012
Penulis
Pujo Semedi
Penerbit
NUS Press
Reviewer
Fariduddin Aththar (185110800111020)
Tanggal Review
5 Mei 2019


Pendahuluan
Petungkriyono adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Lamongan, Jawa Tengah dan menjadi fokus studi dalam penelitian diakronis ini selama tahun 1984 hingga tahun 2009. Sebelumnya, daerah ini merupakan kawasan yang terisolasi dan tidak banyak berinteraksi dengan daerah sekitarnya. Kemudian, dengan masuknya arus globalisasi, kawasan ini pun muali berubah secara perlahan.
Pembahasan
Fokus utama peneliian ini adalah bagaimana proses perubahan sosial terjadi dalam masyarakat Petungkriyono. Terutama yang berkaitan dengan maskulinisasi yang ditandai dengan dominannya wilayah kerja laki-laki dalam ekonomi keluarga. Beberapa faktor yang mendorong perubahan itu adalah dengan munculnya kendaraan bermotor. Dengan kemunculan kendaraan bermotor, aktivitas pertanian maupun perburuan babi menjadi lebih efektif dan efesien. Selain itu, kemunculan kendaraan bermotor juga membantu masyarakat Petung mendapat kebutuhan rumah tangga menjadi lebih mudah. Perubahan yang cukup mencolok adalah perubahan model rumah masyarakat dari gubuk menjadi bertembok.
Kesimpulan
Inti dari kemunculan kendaraan bermotor adalah ia kemudian menjadi symbol atas maskulinitas masyarakat. Laki-laki dianggap lebih pantas untuk mengendarai motor dan kemudian menjadi tulang punggung keluarga. Oleh karena itu, dapat dikatakan secara sederhana bahwa modernitas yang terjadi dalam masyarakat Petung membuat dominasi laki-laki semakin menguat.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir