Review Diferensiasi Kehidupan Ekonomi Petani Selama 85 Tahun



Judul
Diferensiasi Kehidupan Ekonomi Petani Selama 85 Tahun
Judul Buku
Di Bawah Asap Pabrik Gula: Masyarakat Desa di Pesisir Jawa Sepanjang Abad ke 20
Tahun
1996
Penulis
Hiroshi Kano
Penerbit
AKATIGA dan UGM Press
Reviewer
Fariduddin Aththar (185110800111020)
Tanggal Review
15 April 2019

Kerangka dan Metode Penelitian
Penelitian dilakukan pada Desember 1990, oleh tim peneliti yang terdiri dari tiga orang ekonom Jepang dan lima asisten peneliti dari UGM. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data perbandingan dari penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya.
Klasifikasi Desa Comal:
1.      Desa dengan perbedaan luas kepemilikan tanah yang tidak terlalu banyak berbeda
2.      Desa dengan perbedaan luas tanah yang agak menonjol tapi tidak ada pemilik tanah besar
3.      Serta desa dengan perbedaan luas tanah yang besar dan ditandai dengan satu pemilik tanah besar.
Dari 24 desa yang pernah diteliti sebelumnya, tim peneliti mengkompres subjek menjadi 6 desa saja dengan sampel 500 kepala keluarga. Sedangkan pertanyaan yang diajukan adalah tentang 12 hal, yaitu: data pokok susunan keluarga, keturunan keluarga, kepemilikan benda-benda bergerak, data mengenai tanah dan bangunan, data mengenai lahan dan sawah yang digaraap sendiri, data mengenai lahan yang digarap orang lain, data mengenai lahan orang lain yang digarap sendiri, data mengenai produksi padi, data mengenai produksi palawija, data mengenai produksi tebu, pekerjaan buruh tani, dan pekerjaan di bidang nonpertanian.

Pertumbuhan Penduduk dan Perubahan Pola Distribusi Pemelikan Tanah
Selama 85 tahun, wilayah Distrik Comal telah meluas secara umum. Hanya saja, jumlah desa menurun dari 92 menjadi 69 akibat penggabungan administratif. Sementara itu, jumlah penduduk meningkat pesat dari angka 84 ribu menjadi 251 ribu. Semakin meningkatnya jumlah penduduk membuat perluaan lahan menjadi semakin mengecil. Rata-rata peningkatan rumah tangga mencapai empat kali lipat, sedangkan luas lahan berkurang hingga sepertiga hektar.
Data di atas telah sesuai dengan teori involusi pertanian yang diungkapkan Clifford Geertz. Namun, teori itu tidak dapat mengungkapkan penjelasan mengenai dua fakta lapangan bahwa: 1) semakin banyak keluarga yang tidak memiliki tanah (mencapai 55% dari total penduduk) , dan 2) melebarnya jarak perbedaan kepemilikan lahan antar-petani.
Proses berpencarnya diferensiasi pelapisan keluarga petani itu disebabkan banyak hal. Salah satu hipotesa paling kuat adalah pencairan sistem tanah komunal. Dalam hal ini, tanah komunal itu adalah tanah milik desa dan tidak diwariskan secara individual. Oleh karena itu, tanah komunal atau tanah desa diberikan hal pengelolaannya kepada perangkat desa. Dengan dicairkannya tanah desa, maka jual-beli tanah ini pun menjadi tidak terhindarkan. 
Kesimpulannya, telah terjadi diferensiasi pelapian penguasaan tanah secara riil selama 85 tahun di Daerah Comal yang berbanding lurus dengan penurunan rata-rata luas kepemilikan.
   
Perluasan Kesempatan Kerja di Sektor Nonpertanian dan Perubahan Struktur Ekonomi Pedesaan
            Selain diferensiasi penguasaan tanah, terjadi pula perluasan kesempatan kerja di sektor nonpertanian. Hal ini dilihat dari fakta lapangan bahwa tidak semua penduduk Comal murni sebagai petani: ada yang mendapat penghasilan dari sector lain dengan pertanian sebagai sumber pendapatan utama, maupun keluarga yang menjadikan sector lain di luar pertanian sebagai sumber pendapatan utama.

Kesimpulan
Secara umum, penelitian diankronis ini sangat membantu sekali dalam memahami bentuk perubahan dalam masyarakat. Dalam hal ini, perubahan itu diwakili oleh perubahan kuantitas penguasaan tanah dan peralihan sumber pendapatan tambahan masyarakat. Secara khusus, penyajian data hasil penelitian berupa tabel diankronis juga mampu mengambarkan perubahan itu secara holistic hingga ke aspek yang partikular.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir