Review Dari Domestik ke Publik; Jalan Panjang Pencarian Identitas Perempuan


Judul
Dari Domestik ke Publik; Jalan Panjang Pencarian Identitas Perempuan
Judul Buku
Sangkan Paran Gender
Tahun
1997
Penulis
Irwan Abdullah
Penerbit
Kanisius
Reviewer
Fariduddin Aththar (185110800111020)
Tanggal Review
7 Mei 2019


Pendahuluan
Permasalahan utama dari isu yang diangkat oleh Irwan Abdullah adalah bagaimana transformasi peran perempuan yang menula hanya berfokus pada ranah domestic (rumah) kemudian merambah pula pada sector public (karir). Ketimpangan-ketimpangan yang terlihat dengan nyata mensyarakatan hal itu: Irwan menyebutnya dengan istilah ketidaksiapan sector public menerima peran aktif perempuan. Di mana pun ia berada, perempuan selalu mendapat posisi kelas dua, lebih rendah dari laki-laki. Maka penulis pun mencoba untuk menggambarkan dengan jelas bagaimana perempuan menjalankan peran barunya dalam transisi identitas.
Pembahasan
Ada dua hal yang menarik dalam pembahasan ini: Pertama, gugatan terhadap ideology feminis yang sebenarnya tidak memihak perempuan, tetapi memberi kesempatan perempuan untuk tetap ‘terlihat’ berperan aktif dalam pembangunan masyarakat. Konstruksi masyarakat akan sosok perempuan sudah terdaftar sebagai sosok istri dan ibu, tanpa peran lain. Kemudian, ketika perempuan diberi sedikit kesempatan untuk aktif di sector public, mereka tetap tidak setara dengan laki-laki. Puncaknya –menurut saya pribadi- adalah hilangnya makna Hari Kartini. Secara simbolis, hari di mana perempuan dituntut untuk setara (oleh siapa?) itu kemudian dijadikan pengingat bahwa perempuan adalah (lagi-lagi) ibu dari anak-anaknya dan istri dari suaminya. Dan lagi-lagi, itu urusan domestic. Memang tidak salah, tapi makna Hari Kartini menjadi tidak sesuai sasaran.
Hal kedua adalah bagaimana perempuan memiliki hak penuh terhadap tubuhnya. Harapannya, jika memang perempuan tidak dihargai dalam berbagai sector kehidupan sosial, ia masih memiliki ha katas tubuhnya sendiri. Sayangnya, konstruksi masyarakat yang sudah menganggap sebagai objek seksual belaka menjadikan hal itu tidak berarti: perempuan tetap diminta untuk tampil cantik, anggun, dan seksi sesuai keinginan pasar. Dan perempuan saat ini terperangkap dalam jebakan itu: Irwan Abdullah menggambarkannya dengan masifnya produk atau jasa perawatan tubuh. Memang tidak salah untuk tampil cantik. Tetapi hasrat untuk sesuai dengan konstruksi laki-laki sebagai penguasa masyarakat adalah suatu kesalahan tersendiri. Oleh karena itu, dalam ranah tubuhnya sendiri pun, perempuan masih dianggap terjajah dan belum setara dengan lelaki.
Kesimpulan
Tulisan ini tidak sepenuhnya lahir dari sinisme bahwa di mana pun berada, perempuan tetap tidak setara dengan lelaki. Tapi Irwan Abdullah berusaha menyadarkan masyarakat bahwasanya memang ada yang salah dalam konstruksi masyarakat kita: ia terlalu didominasi laki-laki dan ketika perempuan mencoba menyetarakan posisinya, ia tidak mendapat perlakuan yang setara. Oleh karena itu, diharapkan, dengan adanya tulisan ini, dapat menyadarkan masyarakat Indonesia agar tetap memberikan hak dan kewajiban kepada perempuan secara proporsional baik dalam posisi ibu, istri, maupun karirnya.   

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir