Plesetan Sarkastik dalam Akun Informasi Sepakbola berbasis LINE dan Instagram: PLESBOL
Tugas
Paper Ujian Akhir Semester Genap 2019
Oleh:
Fariduddin Aththar
(185110800111020)
Nomor
HP: 081332844617
FAKULTAS
ILMU BUDAYA
UNIVERITAS
BRAWIJAYA
MALANG
2019
Pendahuluan
Dewasa
ini, sepakbola telah menjadi sisi lain dari kehidupan bermasyarakat. Tidak
hanya sebagai olahraga yang secara alami menyehatkan jasmani, sepakbola kini
telah menjelma menjadi sebuah panggung raksasa di mana semua pemain muncul:
industri, hiburan, dan –jika turut melihat perkembangannya yang kompleks-
politik. Dilihat dari sisi industri, permainan yang asal-usul kelahirannya
masih diperdebatkan ini menciptakan berbagai peluang kerja: pabrik pemain
berupa tim sepakbola, pelatih, manajer, agen sepakbola, konfederasi di tingkat
daerah hingga internasional. Dari sisi hiburan, sepakbola menampilkan berbagai
drama yang tidak kalah apiknya: pertandingan yang sengit, ekspresi kemenangan
dan kekalahan dalam satu frame lapangan, komentar dan psywar yang saling beradu di media massa, transfer pemain dengan
harga mencapai ratusan juta Euro, gaji yang melambung dan dibayar setiap pekan,
dan lain sebagainya. Dari sisi politik, para penggemar sepakbola juga tidak
luput mengikuti perkembangan sepakbola dunia yang dikuasai konglomerat minyak
dari Timur Tengah, sepakbola Indonesia yang penuh mafia, dan tentunya
riavalitas antar suporter di lingkup akar rumput. Setiap sisi memiliki dramanya
sendiri yang kemudian menjadi komoditas berita. Dari sinilah kemudian
bermunculan akun-akun sosial media yang menyediakan berita-berita sepakbola.
Salah
satu akun sosial media yang menyediakan berita sepakbola itu adalah Plesetan
Bola atau yang akrab disebut Plesbol. Di ranah media sosial, Plesetan Bola
memiliki dua saluran utama, yaitu Instagram dan LINE. Kedua media sosial
memiliki kesamaan dalam post media sosial, yaitu dengan menyediakan gambar atau
video yang kemudian diberi keterangan berupa caption. Salah satu keunikan yang kemudian dieksplorasi dalam
penelitian ini adalah penggunaan plesetan dalam menyebut beberapa nama pemain
atau klub dalam dunia sepakbola. Terkadang, tak jarang pula admin akun Plesbol
memplesetkan hasil pertandingan dari hasil yang asli agar setiap follower-nya, baik dari pihak yang kalah
maupun yang menang merasa terhibur.
Penelitian
ini berfokus pada plesetan apa saja yang berhasil diciptakan oleh akun Plesbol
melalui dua saluran media sosialnya, yaitu Instagram dan LINE. Selain itu,
ditelusuri pula bagaimana setiap istilah plesetan terbentuk. Dengan begitu,
dapat disusun kamus khusus yang mengandung semua istilah plesetan dan dan dapat
menerangkan secara jelas makna dari setiap plesetan.
Diharapkan,
penelitian ini dapat memperkaya wawasan kebahasaan dalam hal plesetan dan
mengungkap bagaimana perkembangan kebahasaan yang semakin kompleks.
Telaah
Pustaka
Bahasa
plesetan secara umum telah menjadi wacana yang menarik dalam beberapa tahun
terakhir. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa penelitian terhadapnya yang
kemudian membuat referensi pustaka terkait bahasa plesetan ini begitu melimpah.
Oleh karena itu, untuk mempersempit ruang lingkup penelitian, maka hanya ada
beberapa referensi yang digunakan untuk menjadi acuan dan pedoman dalam menyusun
penelitian ini. Di antaranya adalah penelitian yang dilakukan I Dewa Putu Wijana
tentang Problema Seksual dalam Plesetan
Berbahasa. Dalam penelitiannya, dinyatakan bahwa kata plesetan berasal dari
bahasa Jawa yang berarti hasil penyimpangan satuan lingual secara formal atau
semantik (Wijana, 1999) . Bentuk penyimpangan satuan lingual itu
pun beraneka ragam, seperti substitusi, penghilangan atau pembalikan bunyi,
suku kata, atau satuan bahasa lain yang lebih besar.
Penelitian
lain dilakukan oleh Triyulianto yang diajukan sebagai skripsinya demi
memperoleh gelar Sarjana Sastra di Univeritas Negeri Yogyakarta. Jika
sebelumnya I Made Putu Wijana menaruh
plesetan peribahasa dalam komunikasi sehari-hari, maka Triyulianto berfokus
pada plesetan yang ditampilkan pada produk, yaitu kaos bermerk Cak Cuk asal Surabaya. Dijelaskan bahwa plesetan
berasal dari masyarakat Jawa yang suka menghindari konflik sehingga dalam
proses sosialisasinya gemar bermain dalam bentuk manipulasi dan rekayasa bahasa
(Triyulianto, 2014) . Kemampuan memplesetkan bahasa ini pun
menyebar ke seluruh suku bangsa di Indonesia meskipun ada kemungkinan setiap
bahasa memiliki cara, kebiasaan, dan budayanya tersendiri dalam hal plesetan.
Diungkapkan
pula oleh Haryanto (dalam skripsi Triyulianto) bahwasanya plesetan terbagi
menjadi tiga macam, yaitu plesetan murni yang bertujuan sebagai permainan
bahasa saja, plesetan konyol yang menjungkirbalikkan kebenaran dari nama atau
singkatan, dan plesetan radikal yang menjadi metode berbahasa sehari-hari maupun
dalam pentas sebagaimana yang dilakukan oleh Putu Wijaya dalam beberapa karya
panggungnya.
Selain
pada Kaos Cak Cuk yang merupakan
produk asal Surabaya, plesetan juga dipakai dalam produk kaos asal Kediri
bermerk T-Geer. Merk T-Geer sendiri merupakan suatu bentuk
plesetan dari bahasa Inggris yang berarti Tiger atau macan, simbol Kota Kediri.
Penelitian yang dilakukan oleh Mita Paskareta sebagai skripsinya ini menyatakan
bahwa bahasa plesetan adalah bahasa yang bentuk dan maknanya disimpangkan dari
yang sebenarnya digunakan sebagai alat komunikasi untuk menyatakan maksud lain (Paskareta,
2015) .
Dilihat
dari bentuknya, maka plesetan dibagi menjadi lima bidang, yaitu dalam bidang
fonologi yang merubah bunyi atau fonem suatu bahasa, dalam bidang morfologi
yang merubah susunan bentuk kata, dalam bidang sintaksis yang merubah kontruksi
lingual dalam satuan yang lebih besar seperti frasa, klausa, kalimat dan
wacana, dalam bidang semantik ataupun ambiguisitas maknanya, dalam bidang
pragmatik yang merubah makna tertutur maupun tertafsir, dan dalam bidang
sosiolinguistik yang merubah plesetan kaitannya dengan faktor sosial dan
situasional.
Berdasarkan
tujuannya, bahasa plesetan digunakan untuk beberapa hal, yaitu: untuk
memperkaya ragam variasi bahasa, menciptakan selera humor dalam komunikasi,
mencairkan suasana yang sebelumnya kaku, menyampaikan gagasan atau ide menjadi
lebih mudah diterima, dan menjalin kominukasi yang lebih akrab.
Berdasarkan
fungsinya, plesetan sebagaimana diungkap oleh Mita (2015) dibagi menjadi enam,
yaitu: sebagai sarana komunikasi informal yang dapat mengkomunikasikan
informasi menjadi lebih mudah dipahami, sebagai sarana kritik sosial tanpa
adanya perasaan tersinggung secara langsung sehingga dapat menghindari konflik,
sebagai simbol eufimistis yang dapat menghilangkan atau memperhalus
ungkapan-ungkapan kasar menjadi lebih hilang atau berkurang kekasarannya,
sebagai fungsi kreatif yang mana merupakan tujuan dari sang penutur, seagai
fungsi rekreatif atau humor semata, dan sebagai fungsi estetis yang ditujukan
untuk mengekspresikan kekaguman atau keindahan terhadap sesuatu tidak secara
berlebihan.
Metodologi
Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah digital
etnography yang mana peneliti diharuskan mengamati dan mendalami aktivitas
masyarakat di sosial media serta mengenali fenomena-fenomena sosio-kultural
yang ada sesuai dengan interaksi yang tercipta antar-individu. Hal ini yang
kemudian disetujui oleh Hendri Prasetya bahwasanya etnografi vitual hanya
berfokus pada keberadaan individu dalam ruang sistem interaksi sosial karena
konsep ruang atau tempat yang semakin mengabur dalam dunia maya (Prasetya,
2013) .
Definisi yang
berbeda diberikan oleh Ahmad Toni yang menyatakan bahwa digital etnography digunakan untuk mempelajari dan memahami tentang
perilaku komunitas yang menggunakan sosial media sebagai wahana ekspresi
kebebasan dan ruang publik demokratis atas kepentingan kelompok (Toni, 2017) . Melalui definisi
tersebut, dapat dipahami bahwa Ahmad Toni berfokus pada keberadaan manusia yang
berkelompok dalam sosial media dan berinteraksi antar anggota kelompok maupun
dengan kelompok lainnya. Maka dari itu, fenomena sosio-kultural yang kemudian
muncul adalah hasil dari interaksi antar-kelompok maupun dalam kelompok.
Penelitian ini
disusun melalui beberapa proses dalam pengumpulan datanya, antara lain dengan: 1) pengamatan yang
mendalam terkait konten media sosial. Dalam hal ini, ada dua media sosial utama
yang digunakan sebagai subjek, yaitu LINE dan Instagram. Keduanya digunakan
karena sama-sama memiliki akun Plesbol atau Plesetan Bola yang mana dimiliki
oleh admin (pengelola) yang sama. 2) pencatatan istilah plesetan yang tersebar
dalam beberapa postingannya, baik itu ada dalam konten (berupa gambar atau
video) maupun yang tertulis dalam bentuk caption
(keterangan dari konten). Hal ini diperlukan untuk mendapatkan data plesetan
yang dibutuhkan. 3) pencarian makna yang dilakukan melalui penelusuran web
maupun komentar. Penelusuran web dilakukan untuk mengetahui makna beberapa kata
berbahasa inggris yang diplesetkan. Selain itu, penelusuran komentar dilakukan untuk
memvalidasi data makna yang didapatkan dari penelusuran web. Setelah melalui
tiga proses itu, maka data penelitian diolah kembali dengan langkah terakhir,
yaitu 4) penyusunan kamus istilah plesetan sesuai dengan data penelitian yang
didapatkan.
Penjelasan Singkat tentang Plesetan Bola
Plesetan bola adalah akun media
sosial yang berisikan konten informasi olahraga, khususnya pada sepakbola.
Didirikan sejak 2011, Plesbol diyakini merupakan akun bisnis yang sangat laku.
Hal itu ditandai dengan banyaknya iklan, baik itu produk berupa barang maupun
jasa, dan tidak hanya diposting di instastory,
melainkan juga di postingan kronologi. Akun ini sendiri pernah dihentikan
aktivitas hariannya oleh pihak resmi Instagram akibat penggunaan video atau
foto yang melanggar hak cipta. Akibatnya, akun resmi dan asli Plesbol kehilangan
sebagian besar jumlah pengikutnya yang telah mencapai 8oo ribu. Sebagai
gantinya, akun Plesbol pun dibuat kembali dengan id @plesbol_pusat dan hingga saat penelitian ini ditulis, telah
mendapatkan 206 ribu pengikut dengan 908 postingan.
Untuk
mengantisipasi hal yang sama terulang kembali, maka admin pengelola akun
Plesbol pun membuat beberapa akun yang terafiliasi secara langsung: Plesbol for
Timnas (menyediakan informasi tentang Timnas Sepakbola Indonesia dan Liga
Indonesia), Plesbol Liga Inggris, Plesbol UCL (UEFA Champions League),
PlesbolVideo, dan Plesbol Serie A Liga Italia. Selain bertujuan untuk
menghindari suspend (pemberhentian)
dari Instagram, akun tambahan juga berfungsi untuk beberapa hal, antara lain:
memperluas bisnis, klasifikasi konten agar lebih terfokus, dan sebagai akun
cadangan apabila akun aslinya dihentikan kembali.
Jika di
instagram akun Plesbol pernah dihentikan, maka berbeda dengan di platform LINE.
Akun plesbol di LINE hingga saat penelitian ini ditulis (12 Mei 2019) telah
mencapai angka 393.923 pengikut dengan jumlah pos 16,709. Platform media sosial
LINE sendiri memiliki filter yang berbeda sehingga tidak mudah dalam
memberhentikan suatu akun. Oleh karena itu, perjalanan akun plesbol ini,
memiliki dinamika yang berbeda dalam dua platform media sosial.
Daftar
plesetan di Akun Plesetan Bola
Nama Individu (pemain
atau pelatih)
|
Nama Plesetan
|
Nama Individu (Pemain
atau Pelatih)
|
|
Goat
|
Lionel Messi
|
|
Alien
|
|
|
Bang Krisno
|
Cristiano Ronaldo
|
|
Robot Tua
|
|
|
Jainudin
|
Zinedine Zidane
|
|
Jomblo Ngenes
|
Phil Jones
|
|
Jonesta
|
|
|
Petarung Keturunan Saiya
|
|
|
Menteri Pertahanan
|
Jose Mourinho
|
|
Moukidi
|
|
|
Raja Kolong
|
Thibaut Cortuois
|
|
Persib Legend
|
Michel Essien
|
|
Bison Afrika
|
|
|
Ole Mujaer
|
Ole Gunnar Solksjaer
|
|
Stiker Ramping
|
Gonzalo Higuain
|
|
Mbappe Kawe
|
Marcus Rashford
|
|
Sarrifuddin
|
Maurizio Sarri
|
|
Bang Ben
|
Benzema
|
|
Preman STM
|
Diego Costa
|
|
Smalldini
|
Chris Smalling
|
|
Bang Udin
|
Edin Hazard
|
|
Agunkero
|
Kun Aguero
|
|
Risleting
|
Raheem Sterling
|
|
Anak Pesantren
|
Riyad Mahrez
|
|
Fedi Nuril
|
David Silva
|
|
Presiden Turki
|
Ilkay Guendogan
|
|
Kisame
|
Edirson Moraes
|
|
Pejalan Kaki
|
Kyle Walker
|
|
McGregor
|
Otamendi
|
|
Dimas Anggara
|
Mesut Oezil
|
|
Sontoloyo
|
Son Heung Min
|
|
Bang Pepsodent
|
Roberto Firmino
|
|
Bau Kemenyan
|
Aubameyang
|
|
Jandia Eka
|
Virgil van Dijk
|
|
Where
|
Sadio Mane
|
|
Irwansyah
|
Ricardo Kaka
|
|
Juragan Klopp
|
Juergen Klopp
|
|
Jelalatan
|
Zlatan Ibrahimovic
|
|
Eli Sugigi
|
Luis Suarez
|
|
Kang Termos
|
Sergio Ramos
|
|
Biji Gandum
|
Giorginio Wijnaldum
|
|
Bek Tangguh
|
Dejan Lovren
|
|
Cowok di Mata Cewek
|
Mohamed Salah
|
|
Eyes
|
Juan Mata
|
|
Manual
|
Nemanja Matic
|
|
Thor Ragnarok
|
Alisson Becker
|
|
Lezattante
|
Alexandre Lacazette
|
|
Nama Plesetan
|
Nama Klub Sepakbola
|
|
Chicken Collage
|
Tottenham Hotspur
|
|
Kentucky FC
|
|
|
Ayam Tiren
|
|
|
Emyu
|
Manchester United FC
|
|
Own Goal FC
|
|
|
Mang Ujang
|
|
|
Kalah Seri Terus (KST) Pusat
|
Arsenal FC
|
|
Meriam Lontong
|
|
|
Kalah Seri Terus (KST)
Cabang Spanyol
|
Real Madrid CF
|
|
Real Medioker
|
|
|
Jainudin FC
|
|
|
Kalah Seri Terus (KST)
Cabang Indonesia
|
Persib Indonesia
|
|
Uka-Uka
|
Manchester City FC
|
|
Ghoib City
|
|
|
Manchester Biru
|
|
|
Untuk Apa
|
Watford
|
|
Daging Penuh
|
Fullham
|
|
Bango
|
Liverpool
|
|
Mang Ipul
|
|
|
Next Year
|
|
|
Klub Banyak Cobaan
|
|
|
Kastil Baru
|
Newcastle FC
|
|
Cahaya 1000 Kilo
|
Brighton & Have
Albion
|
|
Evertong
|
Everton FC
|
|
Daging Barat
|
Westham FC
|
|
Anak Muda
|
Ajax FC
|
|
Aki-Aki
|
Juventus FC
|
|
Tayo FC
|
Chelsea FC
|
|
Mpok Romlah
|
AS Roma
|
|
Aseng Milan
|
AC Milan
|
|
Angsa Laut
|
Swansea FC
|
|
Nama Plesetan
|
Nama Suporter
|
|
Dedemit
|
Dede Madridista
|
|
Decul
|
Dede Cules
|
|
Kopites
|
sebutan asli untuk
supporter Liverpool
|
|
Istilah Plesetan Lain
|
Makna
|
|
Derby Unggas
|
Pertandingan antara
Tottenham Hotspur dan Liverpool
|
|
Liga Petani
|
Liga Prancis
|
|
Trio Firmansyah
|
Trio Penyerang Liverpool
yang terdiri dari Firmino, Mane, dan Salah
|
|
Keluar kecapnya
|
sebutan untuk pemain
yang berdarah karena insiden atau cedera
|
|
Pembantaian
|
sebutan untuk hasil
pertandingan dengan selisih gol di atas tiga point atau pertandingaan yang
menampilkan dua tim yang tidak seimbang
|
|
Jokowi Cup
|
Piala Presiden,
Kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh presiden
|
|
Tragedi Kulit Pisang
|
kejadian di mana Steven
Gerrard, Kapten Liverpool saat itu, terpeleset dalam pertandingan penting
melawan Chealsea FC yang kemudian menentukan juara klasemen Liga Premier
Inggris
|
|
Langganan BPJS
|
sebutan untuk pemain
yang terlalu mudah atau sering cedera
|
|
Barcelona Training
Ground
|
Santiago Bernabeu,
markas dari Real Madrid, rival utama Barcelona
|
Asal-Usul
Beberapa Istilah Plesetan
Dari
daftar plesetan di atas, dapat dibahas beberapa hal terkait dengan plesetan
dalam dunia sepakbola serta penggunaanya di media sosial.
Dilihat
dari polanya, maka beberapa plesetan yang digunakan dalam akun Plesbol ini
terbentuk dari beberapa faktor, antara lain: 1) perubahan nama secara langsung,
2) terjemah bebas dari bahasa Inggris, 3) perubahan bunyi ke dalam bentuk
tulis, 4) ejekan sarkatis kepada performa atau kualitas individu maupun tim,
dan 5) penyesuaian dengan istilah dalam kultur Indonesia.
Faktor
pertama dapat dilihat dalam beberapa contoh, seperti Bang Krisno (untuk nama
Individu) dan Mang Ipul (nama Klub)
Faktor
kedua dapat dilihat dalam contoh Eyes yang merupakan bahasa Inggris dari pemain
Manchester United bernama (Juan) Mata dan Untuk Apa yang merupakan terjemah
bebas dari klub Inggris bernama Watford FC.
Faktor
ketiga dapat dilihat dalam contoh Emyu yang merupakan cara membaca singkatan
dari klub Manchester United (MU).
Faktor
keempat dicontohkan dengan plesetan Alien yang merupakan sebutan untuk Lionel
Messi atas kehebatan dan kejeniusannya bermain sepakbola. Selain itu ada juga
istilah Own Goal FC yang digunakan untuk menyebut performa Manchester United
yang lebih banyak membuat gol bunuh diri daripada gol ke gawang lawan dalam
kompetisi Eropa.
Faktor
kelima sangat banyak dicontohkan, karena hal itu membuat pengikut akun Plesbol
terhibur. Contohnya antara lain: Preman STM yang digunakan untuk menyebut Diego
Costa atas permainan sepakbolanya yang kasar dan keras, layaknya preman. Di
tataran nama klub, ada istilah Uka-Uka
untuk menyebut klub Manchester City FC. Pasalnya, klub ini adalah klub kaya
baru sehingga berisikan pemain hebat-hebat. Sayangnya, tidak memiliki supporter
dengan basis kuat seperti klub hebat lain di Inggris. Akhirnya, klub ini pun
mendapatkan julukan Uka-Uka (acara hantu Indonesia pada masa 90-an) karena
tidak memiliki supporter.
Beberapa
istilah plesetan lain tercipta tidak hanya untuk seseorang secara individu
maupun untuk sebuah tim atau sekelompok supporter secara kolektif, tetapi juga
untuk suatu kejadian atau fenomena sepakbola tertentu. Di tabel ketiga, dapat
dilihat adanya istilah Liga Petani yang digunakan untuk menyebut France Ligue 1 atau kasta tertinggi
kompetisi Liga Prancis. Hal itu dikarenakan jam kerja para atlet sepakbola di
Prancis adalah pagi hari, tidak seperti liga elit lain di Eropa yang bisa saja
bermain di siang, sore atau malam hari. Karena jam kerjanya yang hanya pagi
hari itulah, seperti jam kerja petani, Liga Prancis kemudian disebut sebagai
Liga Petani.
Sarkasme
dalam Plesetan
Dari
kelima faktor asal-usul plesetan, tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan plesetan yang
sebenarnya adalah untuk menghibur pembaca atau penikmatnya. Salah satu cara
untuk menghibur itu adalah dengan memberi suatu ejekan – yang kemudian nanti
berbentuk julukan yang diplesetkan. Maka, muncullah satire maupun sarkasme
dalam plesetan yang tercipta.
Satire,
sebagaimana dijelaskan Keraf dalam skripsi Eko Arif Rahman, merupakan suatu
acuan yang lebih kasar yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas dan
menyakiti hati. Kata sarkasme diturunkan dari kata Yunani sarkasmos, yang lebih
jauh diturunkan dari kata kerja sarkasein
yang berarti “merobek-robek daging seperti anjing”, “menggigit bibir karena
marah”, atau “berbicara dengan kepahitan”, misal: “Mulutmu harimaumu.” (Rahman, 2015)
Definisi
sarkasme yang dituturkan oleh Keraf juga dikutip oleh Maratus Solekah yang menyatakan bahwa Majas sarkasme
merupakan suatu acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme. Ia adalah suatu
acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Sarkasme ini akan
menyakiti hati dan kurang enak didengar (Solekah, 2013) .
Dari
kedua definisi tersebut, maka sangatlah cocok dan sesuai dengan plesetan yang
digunakan oleh admin plesbol dalam mengelola akunnya. Ia mampu mengejek,
menyindir, dan terkadang pula -terlewat- menghina pihak yang kalah dalam suatu
pertandingan atau fenomena. Hal itu dibuktikan dengan adanya istilah-istilah
yang dapat menyakiti hati atlet maupun penggemar sepakbola.
Plesetan:
Baik atau Buruk?
Jika
mengamati secara mendalam bagaimana admin Plesbol mengelola akun Instagramnya,
maka tidak dapat dipungkiri bahwa mereka juga memiliki beberapa niat baik yang
mana didasari pada syariat Islam. Di setiap hari Jumat, admin Plesbol –yang
diduga terdiri dari beberapa orang- mengadakan pembagian nasi gratis untuk
masyarakat tidak mampu dan anak jalanan di Kota Medan, tempat asal mereka.
Selain itu, mereka juga ikut dan turut berkontribusi dalam kegiatan kemanusiaan
seperti penggalangan dana, bantuan sosial, dan lain sebagainya. Demikian itu
menunjukkan bahwa Plesbol tidak hanya berfokus pada persoalan sepakbola atau
olahraga saja, melainkan juga pada kenyataan bahwa dunia ini membutuhkan aksi
nyata kemanusiaan.
Terlepas
dari persoalan itu, konten plesetan yang mereka usung kadang menimbulkan
polemik: banyak orang terhibur, tetapi lebih banyak lagi yang sakit hati. Hal
itu ditunjukkan dengan di-suspend-nya
akun Plesbol di Instagram maupun beberapa postingan mereka di LINE. Admin
Plesbol, dalam klarifikasinya menyatkan bahwa banyak akun resmi berita
sepakbola dari Eropa mempertanyakan legalitas dari video maupun foto yang
mereka post, terkait hak cipta dan hak siarnya. Tetapi kenyataan bahwa banyak
post mereka yang dihapus oleh pengelola dari kedua media sosial menunjukkan
bahwa tak sedikit pula yang tidak menyukai atau membenci akun ini. Oleh karena
itu, muncullah pertanyaan yang menjadi dilemma dalam persoalan ini: baik atau
burukkah plesetan itu?
Dalam
ruang lingkup yang sederhana, plesetan sebaiknya menjadi medium menghibur diri
bagi para penggemar sepakbola. Peluang itu dapat dilihat dengan sangat baik
oleh beberapa orang, yang kemudian membuat akun ini. Dan secara bisnis, semua
komoditas menjadi halal atau boleh untuk dijual. Termasuk plesetan sepakbola.
Sayangnya,
penggunaan sarkasme yang berlebihan menimbulkan konflik media sosial yang
menyebalkan: ia terselesaikan oleh satu pihak –operator- dan tidak
memfasilitasi mediasi kedua belah pihak yang berkonflik. Oleh karena itu, menghindari
penggunaan sarkasme yang berlebihan menjadi salah satu opsi terbaik bagi admin
Plesbol, agar tetap terus menghibur pengikutnya yang mencapai 800 ribu itu
tanpa harus berkonflik dengan pengikutnya yang tidak suka.
Bibliography
Paskareta, M. (2015). Bahasa Plesetan pada kaos
Oblong T-Geer di Kediri. Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni Universitas
negeri Yogyakarta.
Prasetya, H. (2013). Virtual Etnography: Kajian
Etnografi Komunikasi pada Media Sosial Facebook di Indonesia. Wacana
Volume XII No. 4, 355-371.
Rahman, E. A. (2015). Analisis Gaya Bahasa
Sarkasme dan Gaya Bahasa Metafora pada Wacana Kolom "Sorak
Suporter" Harian SoloPos Edisi Januari-Maret 2011. Surakarta:
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Solekah, M. (2013). Majas Sarkasme pada Rubrik
Kriminal dalam Koran Meteor. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Toni, A. (2017). Studi Netnografi 'Komunitas
Anti-Islam' di Media Online Facebook. Prosiding SNaPP2017 Sosial, Ekonomi,
dan Humaniora, 127-138.
Triyulianto. (2014). Bahasa Plesetan pada Kaos
Oblong Produk Cak Cuk Kota Surabaya. Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Yogyakarta.
Wijana, I. D. (1999). Problema Seksual dalam
Plesetan Peribahasa. Humaniora No.12, 109-114.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?