Plesetan Sarkastik dalam Akun Informasi Sepakbola berbasis LINE dan Instagram: PLESBOL


Tugas Paper Ujian Akhir Semester Genap 2019
Oleh: Fariduddin Aththar
(185110800111020)
Nomor HP: 081332844617

FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019

Pendahuluan
Dewasa ini, sepakbola telah menjadi sisi lain dari kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya sebagai olahraga yang secara alami menyehatkan jasmani, sepakbola kini telah menjelma menjadi sebuah panggung raksasa di mana semua pemain muncul: industri, hiburan, dan –jika turut melihat perkembangannya yang kompleks- politik. Dilihat dari sisi industri, permainan yang asal-usul kelahirannya masih diperdebatkan ini menciptakan berbagai peluang kerja: pabrik pemain berupa tim sepakbola, pelatih, manajer, agen sepakbola, konfederasi di tingkat daerah hingga internasional. Dari sisi hiburan, sepakbola menampilkan berbagai drama yang tidak kalah apiknya: pertandingan yang sengit, ekspresi kemenangan dan kekalahan dalam satu frame lapangan, komentar dan psywar yang saling beradu di media massa, transfer pemain dengan harga mencapai ratusan juta Euro, gaji yang melambung dan dibayar setiap pekan, dan lain sebagainya. Dari sisi politik, para penggemar sepakbola juga tidak luput mengikuti perkembangan sepakbola dunia yang dikuasai konglomerat minyak dari Timur Tengah, sepakbola Indonesia yang penuh mafia, dan tentunya riavalitas antar suporter di lingkup akar rumput. Setiap sisi memiliki dramanya sendiri yang kemudian menjadi komoditas berita. Dari sinilah kemudian bermunculan akun-akun sosial media yang menyediakan berita-berita sepakbola.
Salah satu akun sosial media yang menyediakan berita sepakbola itu adalah Plesetan Bola atau yang akrab disebut Plesbol. Di ranah media sosial, Plesetan Bola memiliki dua saluran utama, yaitu Instagram dan LINE. Kedua media sosial memiliki kesamaan dalam post media sosial, yaitu dengan menyediakan gambar atau video yang kemudian diberi keterangan berupa caption. Salah satu keunikan yang kemudian dieksplorasi dalam penelitian ini adalah penggunaan plesetan dalam menyebut beberapa nama pemain atau klub dalam dunia sepakbola. Terkadang, tak jarang pula admin akun Plesbol memplesetkan hasil pertandingan dari hasil yang asli agar setiap follower-nya, baik dari pihak yang kalah maupun yang menang merasa terhibur.
Penelitian ini berfokus pada plesetan apa saja yang berhasil diciptakan oleh akun Plesbol melalui dua saluran media sosialnya, yaitu Instagram dan LINE. Selain itu, ditelusuri pula bagaimana setiap istilah plesetan terbentuk. Dengan begitu, dapat disusun kamus khusus yang mengandung semua istilah plesetan dan dan dapat menerangkan secara jelas makna dari setiap plesetan.
Diharapkan, penelitian ini dapat memperkaya wawasan kebahasaan dalam hal plesetan dan mengungkap bagaimana perkembangan kebahasaan yang semakin kompleks.

Telaah Pustaka
Bahasa plesetan secara umum telah menjadi wacana yang menarik dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa penelitian terhadapnya yang kemudian membuat referensi pustaka terkait bahasa plesetan ini begitu melimpah. Oleh karena itu, untuk mempersempit ruang lingkup penelitian, maka hanya ada beberapa referensi yang digunakan untuk menjadi acuan dan pedoman dalam menyusun penelitian ini. Di antaranya adalah penelitian yang dilakukan I Dewa Putu Wijana tentang Problema Seksual dalam Plesetan Berbahasa. Dalam penelitiannya, dinyatakan bahwa kata plesetan berasal dari bahasa Jawa yang berarti hasil penyimpangan satuan lingual secara formal atau semantik (Wijana, 1999). Bentuk penyimpangan satuan lingual itu pun beraneka ragam, seperti substitusi, penghilangan atau pembalikan bunyi, suku kata, atau satuan bahasa lain yang lebih besar.
Penelitian lain dilakukan oleh Triyulianto yang diajukan sebagai skripsinya demi memperoleh gelar Sarjana Sastra di Univeritas Negeri Yogyakarta. Jika sebelumnya  I Made Putu Wijana menaruh plesetan peribahasa dalam komunikasi sehari-hari, maka Triyulianto berfokus pada plesetan yang ditampilkan pada produk, yaitu kaos bermerk Cak Cuk asal Surabaya. Dijelaskan bahwa plesetan berasal dari masyarakat Jawa yang suka menghindari konflik sehingga dalam proses sosialisasinya gemar bermain dalam bentuk manipulasi dan rekayasa bahasa (Triyulianto, 2014). Kemampuan memplesetkan bahasa ini pun menyebar ke seluruh suku bangsa di Indonesia meskipun ada kemungkinan setiap bahasa memiliki cara, kebiasaan, dan budayanya tersendiri dalam hal plesetan.
Diungkapkan pula oleh Haryanto (dalam skripsi Triyulianto) bahwasanya plesetan terbagi menjadi tiga macam, yaitu plesetan murni yang bertujuan sebagai permainan bahasa saja, plesetan konyol yang menjungkirbalikkan kebenaran dari nama atau singkatan, dan plesetan radikal yang menjadi metode berbahasa sehari-hari maupun dalam pentas sebagaimana yang dilakukan oleh Putu Wijaya dalam beberapa karya panggungnya.
Selain pada Kaos Cak Cuk yang merupakan produk asal Surabaya, plesetan juga dipakai dalam produk kaos asal Kediri bermerk T-Geer. Merk T-Geer sendiri merupakan suatu bentuk plesetan dari bahasa Inggris yang berarti Tiger atau macan, simbol Kota Kediri. Penelitian yang dilakukan oleh Mita Paskareta sebagai skripsinya ini menyatakan bahwa bahasa plesetan adalah bahasa yang bentuk dan maknanya disimpangkan dari yang sebenarnya digunakan sebagai alat komunikasi untuk menyatakan maksud lain (Paskareta, 2015).
Dilihat dari bentuknya, maka plesetan dibagi menjadi lima bidang, yaitu dalam bidang fonologi yang merubah bunyi atau fonem suatu bahasa, dalam bidang morfologi yang merubah susunan bentuk kata, dalam bidang sintaksis yang merubah kontruksi lingual dalam satuan yang lebih besar seperti frasa, klausa, kalimat dan wacana, dalam bidang semantik ataupun ambiguisitas maknanya, dalam bidang pragmatik yang merubah makna tertutur maupun tertafsir, dan dalam bidang sosiolinguistik yang merubah plesetan kaitannya dengan faktor sosial dan situasional.
Berdasarkan tujuannya, bahasa plesetan digunakan untuk beberapa hal, yaitu: untuk memperkaya ragam variasi bahasa, menciptakan selera humor dalam komunikasi, mencairkan suasana yang sebelumnya kaku, menyampaikan gagasan atau ide menjadi lebih mudah diterima, dan menjalin kominukasi yang lebih akrab.
            Berdasarkan fungsinya, plesetan sebagaimana diungkap oleh Mita (2015) dibagi menjadi enam, yaitu: sebagai sarana komunikasi informal yang dapat mengkomunikasikan informasi menjadi lebih mudah dipahami, sebagai sarana kritik sosial tanpa adanya perasaan tersinggung secara langsung sehingga dapat menghindari konflik, sebagai simbol eufimistis yang dapat menghilangkan atau memperhalus ungkapan-ungkapan kasar menjadi lebih hilang atau berkurang kekasarannya, sebagai fungsi kreatif yang mana merupakan tujuan dari sang penutur, seagai fungsi rekreatif atau humor semata, dan sebagai fungsi estetis yang ditujukan untuk mengekspresikan kekaguman atau keindahan terhadap sesuatu tidak secara berlebihan.
Metodologi
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah digital etnography yang mana peneliti diharuskan mengamati dan mendalami aktivitas masyarakat di sosial media serta mengenali fenomena-fenomena sosio-kultural yang ada sesuai dengan interaksi yang tercipta antar-individu. Hal ini yang kemudian disetujui oleh Hendri Prasetya bahwasanya etnografi vitual hanya berfokus pada keberadaan individu dalam ruang sistem interaksi sosial karena konsep ruang atau tempat yang semakin mengabur dalam dunia maya (Prasetya, 2013).
Definisi yang berbeda diberikan oleh Ahmad Toni yang menyatakan bahwa digital etnography digunakan untuk mempelajari dan memahami tentang perilaku komunitas yang menggunakan sosial media sebagai wahana ekspresi kebebasan dan ruang publik demokratis atas kepentingan kelompok (Toni, 2017). Melalui definisi tersebut, dapat dipahami bahwa Ahmad Toni berfokus pada keberadaan manusia yang berkelompok dalam sosial media dan berinteraksi antar anggota kelompok maupun dengan kelompok lainnya. Maka dari itu, fenomena sosio-kultural yang kemudian muncul adalah hasil dari interaksi antar-kelompok maupun dalam kelompok.
Penelitian ini disusun melalui beberapa proses dalam pengumpulan datanya,  antara lain dengan: 1) pengamatan yang mendalam terkait konten media sosial. Dalam hal ini, ada dua media sosial utama yang digunakan sebagai subjek, yaitu LINE dan Instagram. Keduanya digunakan karena sama-sama memiliki akun Plesbol atau Plesetan Bola yang mana dimiliki oleh admin (pengelola) yang sama. 2) pencatatan istilah plesetan yang tersebar dalam beberapa postingannya, baik itu ada dalam konten (berupa gambar atau video) maupun yang tertulis dalam bentuk caption (keterangan dari konten). Hal ini diperlukan untuk mendapatkan data plesetan yang dibutuhkan. 3) pencarian makna yang dilakukan melalui penelusuran web maupun komentar. Penelusuran web dilakukan untuk mengetahui makna beberapa kata berbahasa inggris yang diplesetkan. Selain itu, penelusuran komentar dilakukan untuk memvalidasi data makna yang didapatkan dari penelusuran web. Setelah melalui tiga proses itu, maka data penelitian diolah kembali dengan langkah terakhir, yaitu 4) penyusunan kamus istilah plesetan sesuai dengan data penelitian yang didapatkan.
Penjelasan Singkat tentang Plesetan Bola
            Plesetan bola adalah akun media sosial yang berisikan konten informasi olahraga, khususnya pada sepakbola. Didirikan sejak 2011, Plesbol diyakini merupakan akun bisnis yang sangat laku. Hal itu ditandai dengan banyaknya iklan, baik itu produk berupa barang maupun jasa, dan tidak hanya diposting di instastory, melainkan juga di postingan kronologi. Akun ini sendiri pernah dihentikan aktivitas hariannya oleh pihak resmi Instagram akibat penggunaan video atau foto yang melanggar hak cipta. Akibatnya, akun resmi dan asli Plesbol kehilangan sebagian besar jumlah pengikutnya yang telah mencapai 8oo ribu. Sebagai gantinya, akun Plesbol pun dibuat kembali dengan id @plesbol_pusat dan hingga saat penelitian ini ditulis, telah mendapatkan 206 ribu pengikut dengan 908 postingan.    
Untuk mengantisipasi hal yang sama terulang kembali, maka admin pengelola akun Plesbol pun membuat beberapa akun yang terafiliasi secara langsung: Plesbol for Timnas (menyediakan informasi tentang Timnas Sepakbola Indonesia dan Liga Indonesia), Plesbol Liga Inggris, Plesbol UCL (UEFA Champions League), PlesbolVideo, dan Plesbol Serie A Liga Italia. Selain bertujuan untuk menghindari suspend (pemberhentian) dari Instagram, akun tambahan juga berfungsi untuk beberapa hal, antara lain: memperluas bisnis, klasifikasi konten agar lebih terfokus, dan sebagai akun cadangan apabila akun aslinya dihentikan kembali.
Jika di instagram akun Plesbol pernah dihentikan, maka berbeda dengan di platform LINE. Akun plesbol di LINE hingga saat penelitian ini ditulis (12 Mei 2019) telah mencapai angka 393.923 pengikut dengan jumlah pos 16,709. Platform media sosial LINE sendiri memiliki filter yang berbeda sehingga tidak mudah dalam memberhentikan suatu akun. Oleh karena itu, perjalanan akun plesbol ini, memiliki dinamika yang berbeda dalam dua platform media sosial.
Daftar plesetan di Akun Plesetan Bola
Nama Individu (pemain atau pelatih)
Nama Plesetan
Nama Individu (Pemain atau Pelatih)
Goat
Lionel Messi
Alien
Bang Krisno
Cristiano Ronaldo
Robot Tua
Jainudin
Zinedine Zidane
Jomblo Ngenes
Phil Jones
Jonesta
Petarung Keturunan Saiya
Menteri Pertahanan
Jose Mourinho
Moukidi
Raja Kolong
Thibaut Cortuois
Persib Legend
Michel Essien
Bison Afrika
Ole Mujaer
Ole Gunnar Solksjaer
Stiker Ramping
Gonzalo Higuain
Mbappe Kawe
Marcus Rashford
Sarrifuddin
Maurizio Sarri
Bang Ben
Benzema
Preman STM
Diego Costa
Smalldini
Chris Smalling
Bang Udin
Edin Hazard
Agunkero
Kun Aguero
Risleting
Raheem Sterling
Anak Pesantren
Riyad Mahrez
Fedi Nuril
David Silva
Presiden Turki
Ilkay Guendogan
Kisame
Edirson Moraes
Pejalan Kaki
Kyle Walker
McGregor
Otamendi
Dimas Anggara
Mesut Oezil
Sontoloyo
Son Heung Min
Bang Pepsodent
Roberto Firmino
Bau Kemenyan
Aubameyang
Jandia Eka
Virgil van Dijk
Where
Sadio Mane
Irwansyah
Ricardo Kaka
Juragan Klopp
Juergen Klopp
Jelalatan
Zlatan Ibrahimovic
Eli Sugigi
Luis Suarez
Kang Termos
Sergio Ramos
Biji Gandum
Giorginio Wijnaldum
Bek Tangguh
Dejan Lovren
Cowok di Mata Cewek
Mohamed Salah
Eyes
Juan Mata
Manual
Nemanja Matic
Thor Ragnarok
Alisson Becker
Lezattante
Alexandre Lacazette

Nama Plesetan
Nama Klub Sepakbola
Chicken Collage
Tottenham Hotspur
Kentucky FC
Ayam Tiren
Emyu
Manchester United FC
Own Goal FC
Mang Ujang
Kalah Seri Terus (KST) Pusat
Arsenal FC
Meriam Lontong
Kalah Seri Terus (KST) Cabang Spanyol
Real Madrid CF
Real Medioker
Jainudin FC
Kalah Seri Terus (KST) Cabang Indonesia
Persib Indonesia
Uka-Uka
Manchester City FC
Ghoib City
Manchester Biru
Untuk Apa
Watford
Daging Penuh
Fullham
Bango
Liverpool
Mang Ipul
Next Year
Klub Banyak Cobaan
Kastil Baru
Newcastle FC
Cahaya 1000 Kilo
Brighton & Have Albion
Evertong
Everton FC
Daging Barat
Westham FC
Anak Muda
Ajax FC
Aki-Aki
Juventus FC
Tayo FC
Chelsea FC
Mpok Romlah
AS Roma
Aseng Milan
AC Milan
Angsa Laut
Swansea FC

Nama Plesetan
Nama Suporter
Dedemit
Dede Madridista
Decul
Dede Cules
Kopites
sebutan asli untuk supporter Liverpool

Istilah Plesetan Lain
Makna
Derby Unggas
Pertandingan antara Tottenham Hotspur dan Liverpool
Liga Petani
Liga Prancis
Trio Firmansyah
Trio Penyerang Liverpool yang terdiri dari Firmino, Mane, dan Salah
Keluar kecapnya
sebutan untuk pemain yang berdarah karena insiden atau cedera
Pembantaian
sebutan untuk hasil pertandingan dengan selisih gol di atas tiga point atau pertandingaan yang menampilkan dua tim yang tidak seimbang
Jokowi Cup
Piala Presiden, Kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh presiden
Tragedi Kulit Pisang
kejadian di mana Steven Gerrard, Kapten Liverpool saat itu, terpeleset dalam pertandingan penting melawan Chealsea FC yang kemudian menentukan juara klasemen Liga Premier Inggris
Langganan BPJS
sebutan untuk pemain yang terlalu mudah atau sering cedera
Barcelona Training Ground
Santiago Bernabeu, markas dari Real Madrid, rival utama Barcelona

Asal-Usul Beberapa Istilah Plesetan
Dari daftar plesetan di atas, dapat dibahas beberapa hal terkait dengan plesetan dalam dunia sepakbola serta penggunaanya di media sosial.
Dilihat dari polanya, maka beberapa plesetan yang digunakan dalam akun Plesbol ini terbentuk dari beberapa faktor, antara lain: 1) perubahan nama secara langsung, 2) terjemah bebas dari bahasa Inggris, 3) perubahan bunyi ke dalam bentuk tulis, 4) ejekan sarkatis kepada performa atau kualitas individu maupun tim, dan 5) penyesuaian dengan istilah dalam kultur Indonesia.
Faktor pertama dapat dilihat dalam beberapa contoh, seperti Bang Krisno (untuk nama Individu) dan Mang Ipul (nama Klub)
Faktor kedua dapat dilihat dalam contoh Eyes yang merupakan bahasa Inggris dari pemain Manchester United bernama (Juan) Mata dan Untuk Apa yang merupakan terjemah bebas dari klub Inggris bernama Watford FC.
Faktor ketiga dapat dilihat dalam contoh Emyu yang merupakan cara membaca singkatan dari klub Manchester United (MU).
Faktor keempat dicontohkan dengan plesetan Alien yang merupakan sebutan untuk Lionel Messi atas kehebatan dan kejeniusannya bermain sepakbola. Selain itu ada juga istilah Own Goal FC yang digunakan untuk menyebut performa Manchester United yang lebih banyak membuat gol bunuh diri daripada gol ke gawang lawan dalam kompetisi Eropa.
Faktor kelima sangat banyak dicontohkan, karena hal itu membuat pengikut akun Plesbol terhibur. Contohnya antara lain: Preman STM yang digunakan untuk menyebut Diego Costa atas permainan sepakbolanya yang kasar dan keras, layaknya preman. Di tataran nama klub, ada istilah  Uka-Uka untuk menyebut klub Manchester City FC. Pasalnya, klub ini adalah klub kaya baru sehingga berisikan pemain hebat-hebat. Sayangnya, tidak memiliki supporter dengan basis kuat seperti klub hebat lain di Inggris. Akhirnya, klub ini pun mendapatkan julukan Uka-Uka (acara hantu Indonesia pada masa 90-an) karena tidak memiliki supporter.
Beberapa istilah plesetan lain tercipta tidak hanya untuk seseorang secara individu maupun untuk sebuah tim atau sekelompok supporter secara kolektif, tetapi juga untuk suatu kejadian atau fenomena sepakbola tertentu. Di tabel ketiga, dapat dilihat adanya istilah Liga Petani yang digunakan untuk menyebut France Ligue 1 atau kasta tertinggi kompetisi Liga Prancis. Hal itu dikarenakan jam kerja para atlet sepakbola di Prancis adalah pagi hari, tidak seperti liga elit lain di Eropa yang bisa saja bermain di siang, sore atau malam hari. Karena jam kerjanya yang hanya pagi hari itulah, seperti jam kerja petani, Liga Prancis kemudian disebut sebagai Liga Petani.
Sarkasme dalam Plesetan
Dari kelima faktor asal-usul plesetan, tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan plesetan yang sebenarnya adalah untuk menghibur pembaca atau penikmatnya. Salah satu cara untuk menghibur itu adalah dengan memberi suatu ejekan – yang kemudian nanti berbentuk julukan yang diplesetkan. Maka, muncullah satire maupun sarkasme dalam plesetan yang tercipta.
Satire, sebagaimana dijelaskan Keraf dalam skripsi Eko Arif Rahman, merupakan suatu acuan yang lebih kasar yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas dan menyakiti hati. Kata sarkasme diturunkan dari kata Yunani sarkasmos, yang lebih jauh diturunkan dari kata kerja  sarkasein yang berarti “merobek-robek daging seperti anjing”, “menggigit bibir karena marah”, atau “berbicara dengan kepahitan”, misal: “Mulutmu harimaumu.” (Rahman, 2015)
Definisi sarkasme yang dituturkan oleh Keraf juga dikutip oleh Maratus Solekah  yang menyatakan bahwa Majas sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme. Ia adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Sarkasme ini akan menyakiti hati dan kurang enak didengar (Solekah, 2013).
Dari kedua definisi tersebut, maka sangatlah cocok dan sesuai dengan plesetan yang digunakan oleh admin plesbol dalam mengelola akunnya. Ia mampu mengejek, menyindir, dan terkadang pula -terlewat- menghina pihak yang kalah dalam suatu pertandingan atau fenomena. Hal itu dibuktikan dengan adanya istilah-istilah yang dapat menyakiti hati atlet maupun penggemar sepakbola.

Plesetan: Baik atau Buruk?
Jika mengamati secara mendalam bagaimana admin Plesbol mengelola akun Instagramnya, maka tidak dapat dipungkiri bahwa mereka juga memiliki beberapa niat baik yang mana didasari pada syariat Islam. Di setiap hari Jumat, admin Plesbol –yang diduga terdiri dari beberapa orang- mengadakan pembagian nasi gratis untuk masyarakat tidak mampu dan anak jalanan di Kota Medan, tempat asal mereka. Selain itu, mereka juga ikut dan turut berkontribusi dalam kegiatan kemanusiaan seperti penggalangan dana, bantuan sosial, dan lain sebagainya. Demikian itu menunjukkan bahwa Plesbol tidak hanya berfokus pada persoalan sepakbola atau olahraga saja, melainkan juga pada kenyataan bahwa dunia ini membutuhkan aksi nyata kemanusiaan.
Terlepas dari persoalan itu, konten plesetan yang mereka usung kadang menimbulkan polemik: banyak orang terhibur, tetapi lebih banyak lagi yang sakit hati. Hal itu ditunjukkan dengan di-suspend-nya akun Plesbol di Instagram maupun beberapa postingan mereka di LINE. Admin Plesbol, dalam klarifikasinya menyatkan bahwa banyak akun resmi berita sepakbola dari Eropa mempertanyakan legalitas dari video maupun foto yang mereka post, terkait hak cipta dan hak siarnya. Tetapi kenyataan bahwa banyak post mereka yang dihapus oleh pengelola dari kedua media sosial menunjukkan bahwa tak sedikit pula yang tidak menyukai atau membenci akun ini. Oleh karena itu, muncullah pertanyaan yang menjadi dilemma dalam persoalan ini: baik atau burukkah plesetan itu?
Dalam ruang lingkup yang sederhana, plesetan sebaiknya menjadi medium menghibur diri bagi para penggemar sepakbola. Peluang itu dapat dilihat dengan sangat baik oleh beberapa orang, yang kemudian membuat akun ini. Dan secara bisnis, semua komoditas menjadi halal atau boleh untuk dijual. Termasuk plesetan sepakbola.
Sayangnya, penggunaan sarkasme yang berlebihan menimbulkan konflik media sosial yang menyebalkan: ia terselesaikan oleh satu pihak –operator- dan tidak memfasilitasi mediasi kedua belah pihak yang berkonflik. Oleh karena itu, menghindari penggunaan sarkasme yang berlebihan menjadi salah satu opsi terbaik bagi admin Plesbol, agar tetap terus menghibur pengikutnya yang mencapai 800 ribu itu tanpa harus berkonflik dengan pengikutnya yang tidak suka.


Bibliography

Paskareta, M. (2015). Bahasa Plesetan pada kaos Oblong T-Geer di Kediri. Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni Universitas negeri Yogyakarta.
Prasetya, H. (2013). Virtual Etnography: Kajian Etnografi Komunikasi pada Media Sosial Facebook di Indonesia. Wacana Volume XII No. 4, 355-371.
Rahman, E. A. (2015). Analisis Gaya Bahasa Sarkasme dan Gaya Bahasa Metafora pada Wacana Kolom "Sorak Suporter" Harian SoloPos Edisi Januari-Maret 2011. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Solekah, M. (2013). Majas Sarkasme pada Rubrik Kriminal dalam Koran Meteor. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Toni, A. (2017). Studi Netnografi 'Komunitas Anti-Islam' di Media Online Facebook. Prosiding SNaPP2017 Sosial, Ekonomi, dan Humaniora, 127-138.
Triyulianto. (2014). Bahasa Plesetan pada Kaos Oblong Produk Cak Cuk Kota Surabaya. Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.
Wijana, I. D. (1999). Problema Seksual dalam Plesetan Peribahasa. Humaniora No.12, 109-114.

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir