Ngomongin Minoritas 2: Tidak Hanya Syiah, Ahmadiyah dan LGBT

Hal kedua yang menjadi kontradiksi dalam kehidupan kuliah saya, adalah tugas UAS mata kuliah Antropologi Ragawi. Sebagai pengantar, antropologi ragawi adalah salah satu sub-bidang antropologi yang berkutat pada tubuh manusia sebagai objeknya. Ruang lingkupnya termasuk pada evolusi tubuh, ras manusia, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sebagian orang menyebutnya juga sebagai antropologi biologi. Di Indonesia, Universitas Airlangga menjadi yang terdepan dalam studi ini. Sepengetahuan saya, dosen kami, Prof. Myrta yang juga dekan FIB Unair, pernah ngomong kalo mereka punya museum itu. Iya, museum yang mempelajari evolusi manusia.

Nah, salah satu objek yang menjadi tugas saya ketika UAS adalah membuat makalah tentang 'variasi penyebab ketertarikan seksual secara lintas budaya.' Dari tema sepanjang itu, antum tinggal tulis kata kunci ketertarikan seksual atau sexual attractiveness di google, maka akan banyak sekali referensi yang muncul. Tak dinyana, dalam penulisan makalah UAS ini, saya ternyata turut serta dalam membela LGBT! Wauw! Ini jelas bukan anak pondokan sama sekali. Dalam Islam, setahu saya, belum ditemukan satu pun referensi tentang ini. Aduh, gak mau ngomong banyak saya kalo masalah ini.

Dan memang ada lho, identitas seks selain laki-laki dan perempuan. Beberapa budaya telah mengenalnya sebagai jenis kelamin ketiga. Tak jarang pula, keadaan mereka yang 'berbeda' itu membuat mereka diperlakukan secara berbeda pula: ada satu budaya yang mengecam, mengucilkan, dan merampas hak-hak kehidupannya. Di budaya lain, mereka diperlakukan layaknya orang suci, karena dengan tidak memiliki jenis kelamin, maka mereka sama atau setara dengan Tuhan yang tak memiliki preferensi seksual. dan seperti itulah pergumulan saya terkait fenomena ini.

Intinya, saya turut membela mereka. Iya. Mereka yang berbeda secara seksual itu.

Tak cukup di situ, saya juga membela Syiah.

Hal itu terjadi juga di ujian akhir semester dua ini. Dosen pluralisme saya, Pak Ibnu Mujib, memerintahkan kami untuk memilih salah satu topik, dari beberapa topik yang tersedia. Saya, sebagai orang yang ingin bekerja dengan senang hati, maka saya memilih topik yang mudah saja. Atau setidaknya sesuai dengan latar belakang saya.

Ya, antum bener. Saya mengambil topik tentang kasus Syiah di Sampang. Yang waktu itu beritanya pernah sampe pondok. Dan saya, sebagai anak pondokan, belum bisa menerima banyak berita karena akses kami terhadap informasi yang kurang. Oleh karena itu, saya menjadikan UAS ini sebagai ajang untuk mendalami kasus itu tanpa harus menghakimi mereka yang sampai saat ini masih dianggap sesat.

(bersambung...)

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir