Bagian Mana yang Salah dari Fenomena Hijrah?

Siang ini, saya kembali membuka akun facebook, melihat beranda yang penuh dengan kiriman dari dua grup besar di mana saya menjadi anggotanya: grup wibu penggemar One Piece dan grup lawakan santri yang sangat khas NU-nya. Sudah lama saya menjadi anggota grup wibu itu, sedangkan untuk grup yang kedua baru berjalan sekitar satu bulan, mungkin. Salah seorang teman kampret saya yang sekarang sedang melanjutkan studi -dan aktivitas perkampretannya- di Mesir mengundang saya untuk masuk di grup itu. Sebenarnya saya belum bergabung, tapi apa daya, ketika teman saya me-like setiap postingan di sana, maka post itu juga akan masuk ke beranda. Dan begitulah kisah seorang remaja penikmat facebook di masa orang-orang lebih fokus memperbaiki feed Instagram.

Tapi tak apa, toh masih banyak orang-orang dewasa -untuk tidak menyebutnya tua- masih tetap aktif di facebook. Beberapa di antaranya adalah senior dalam dunia kepenulisan. Sebut saja nama Puthut EA, Arman Dhani, Gus Muhidin, dan lain sebagainya. Saya mengenal mereka melalui tulisan mereka yang dimuat di Mojok.co. Dan sebagai pembaca yang (mencoba) kritis, tulisan-tulisan mereka cukup netral, baik dalam isu politik, atau isu agama. Isu terakhir tak perlu dijelaskan. Naik turun iman membuktikan bagaimana kita menjadi lebih berusaha menang dalam urusan ini.

Nah, tak disangka. Arman Dhani membuat sebuah status tentang kondisi itu: fenomena hijrah yang merebak dalam dasawarsa terakhir. Dalam ilmu antropologi sendiri -yang saat ini sayaa dalami di Malang- fenomena hijrah menjadi sebuah studi yang menarik karena melibatkan perubahan sosial yang cukup luas: ia bersifat trans-nasional dan memungkinkan penganutnya kehilangan identitas. Oleh karena itulah, dalam tulisan ini, saya mencoba memuat ulang apa yang telah dituliskan Arman Dhani.

"Hijrah itu dilakukan diam-diam, saat malam hari oleh nabi. Saat itu untuk alasan keamanan, bahwa mereka yang mengaku Islam akan mengalami persekusi bahkan ancaman kekerasan. 
Hijrah adalah usaha untuk mencari keselamatan dari ancaman. Bukan sertifikasi jadi lebih beriman. Hanya karena anda berhijrah, sementara saudara anda yang lain belum, tak memberi anda otoritas untuk menghina, mengkafirkan, menyesatkan, apalagi mengingatkan dengan nada merendahkan. 
Hijrah dilakukan diam-diam untuk keselamatan. Hijrah yang diumumkan, sembari menganggap orang lain yang belum mampu melakukan perubahan mutu ibadah sebagai umat yang rendah, barangkali serupa satu mahluk. Ia yang menolak tunduk pada Adam karena merasa lebih baik. 
Ada pula hijrah yang lain. Hijrah yang dilakukan oleh kaum yang merasa bahwa Qur'an telah cukup, hukum yang mutlak tanpa perlu tafsir apalagi penjelasan. Kelompok ini memerangi sesama muslim yang dianggapnya sesat, yang dianggapnya menyimpang, sembari mendaku diri paling beriman. 
Peristiwa serupa terjadi saat nabi masih hidup. Saat itu ada orang yang meragukan keadilan nabi. Khalid ibn Walid yang marah lantas berkata: "Wahai Rasulullah, izinkan aku menikam lehernya." Nabi menjawab: "Jangan, barangkali dia salat." 
Khalid masih ngeyel: "Banyak sekali orang salat yang mengucap sesuatu yang berbeda dengan hatinya." Nabi berkata: "Sungguh aku tidak diperintah untuk menyelidiki hati manusia dan membedah isi perutnya." 
Tapi ini juga bisa jadi masalah. Jangan-jangan, kita malu sama yang hijrah terang-terangan, lalu merasa lebih baik. Hingga diam-diam memelihara api hasut dan dengki karena merasa lebih berilmu, lebih beragama, dan lebih banyak membaca kitab.

(Arman Dhani, 29 Mei 2019)

*****

Bagaimana? Ada tanggapan? 

Komentar

Paling Banyak Dibaca Sepekan Terakhir