Antropologi Dental
Disusun
oleh:
|
Velia Erlina Tiodoris
|
185110801111010
|
|
Fariduddin Aththar AM
|
185110800111020
|
PROGRAM STUDI ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Gigi adalah salah satu bagian tubuh yang penting
dalam keseharian manusia. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan manusia paling
primer yaitu pangan, yang mana gigi dibutuhkan untuk tahap pertama pencernaan
makanan. Tanpa gigi, manusia tidak dapat mencerna makanan kasar menjadi lebih
lembut sehingga tidak mengganggu sistem pencernaan di daerah perut.
Selain itu, dari masa ke masa, gigi adalah salah
satu bagian dari tubuh manusia yang mengalami evolusi sesuai dengan budaya
manusia dalam mengelola makanannya. Oleh karena itulah muncul antropologi
dental yang studinya berfokus pada gigi dan perkembangannya dalam budaya
manusia. Geligi manusia juga erat kaitannya dengan faktor keturunan, dimana
seseorang umumnya memiliki bentuk atau karakteristik gigi yang sama dengan
orangtua dan saudara sekandungnya. Di bidang forensik, gigi juga bisa menjadi
salah satu indikator dalam identifikasi mayat yang tidak dapat dikenali akibat
berbagai macam bentuk kematian seperti kebakaran, kapal tenggelam, dan lain
sebagainya. Oleh karena itulah, studi tentang antropologi dental sangatlah
penting sehingga dapat mengetahui pentingnya studi tentang gigi dan
perkembangannya yang terkait dengan kebudayaan manusia.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
itu antropologi dental? Apa saja ruang lingkup studinya?
2. Apa
saja jenis-jenis gigi dan bentuknya?
3. Apa
saja gangguan dan penyakit pada gigi?
4. Apa
itu kedokteran gigi dan fungsinya dalam identifikasi forensik?
C.
Tujuan
Penulisan
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat
menjawab pertanyaan-pertanyan yang telah ada sebelumnya, antara lain, untuk
mengetahui:
1. Definisi
antropologi dental dan ruang lingkupnya.
2. Jenis-jenis
gigi dan bentuknya.
3. Penyakit
dan gangguan pada gigi.
4. Perawatan
gigi (odontologi) dan fungsi gigi dalam forensik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Antropologi Dental
Studi mengenai geligi manusia dalam antropologi
disebut dengan antropologi dental. Dalam studi ini, geligi manusia diteliti
baik dari sisi morfologisnya maupun dari segi budaya, di mana seringkali
modifikasi pada gigi berkaitan erat dengan budaya, termasuk kebiasaan manusia (Artaria, 2014) . Antropologi gigi adalah
bidang studi baru di Indonesia, karenanya ada beberapa jumlah penelitian dapat
ditemukan di lapangan ini. Pengetahuan di bidang ini diperlukan karena wilayah
yang luas dan keragaman penduduknya. Dipelopori oleg Georg von Carabelli (1842)
yang menemukan accessory mesiolingual
cups pada molar atas populasi Eropa. Selain itu, ada juga beberapa
antropolog dental lain yang mulai bermunculan, seperti: C. S. Tomes yang
menemukan variasi mahkota dan akar gigi manusia, Ales Hrdlicka membuat
klasifikasi derajat ekspresi pada gigi, W.K. Gregory, T. D. Campbell, J.C.M
Shaw, E. Yamada, A.A. Dahlberg, P.O. Pedersen, B. Kraus, dan D.R Brothwell yang
mengedit dan menerbitkan Dental
Anthropology (1963) sehingga ilmu
baru ini berkembang sangat pesat.
B.
Ruang
Lingkup Antropologi Dental
Ruang lingkup dari antropologi dental yaitu bentuk
dan karakteristik gigi geligi manusia dihubungkan dengan ilmu alam, factor
genetis, dan kebudayaan yang terdapat pada sekelompok manusia yang
bersangkutan. Pada ilmu antropologi dental juga dikaji bagaimana evolusi gigi
yang terdapat pada manusia, seiring dengan evolusi kebudayaan yang terjadi pada
sekelompok manusia yang bersangkutan.
C.
Jenis-Jenis
Gigi
1. Gigi seri adalah 8 gigi di depan mulut
Anda (4 di atas dan 4 di bawah). Gigi seri digunakan untuk mengigit
makanan. Gigi seri biasanya merupakan gigi pertama yang muncul, sekitar 6
bulan usia bayi.
2. Gigi taring adalah gigi yang paling tajam dan
digunakan untuk merobek makanan. Gigi taring muncul antara usia 16-20 bulan
dengan gigi taring berada tepat di atas dan bawah. Namun, pada gigi permanen,
urutannya terbalik, gigi taring baru akan berganti di sekitar usia 9 tahun.
3. Premolar digunakan untuk mengunyah dan
menggiling makanan. Orang dewasa memiliki 8 premolar di setiap sisi mulut, 4 di
rahang atas dan 4 di rahang bawah. Premolar pertama muncul sekitar usia 10
tahun dengan premolar kedua muncul sekitar setahun kemudian. Premolar terletak
di antara gigi taring dan gigi geraham.
4. Gigi geraham juga digunakan untuk mengunyah
dan menggiling makanan. Gigi ini muncul antara usia 12-28 bulan, dan digantikan
oleh premolar pertama dan kedua (4 atas dan 4 bawah). Jumlah gigi geraham
adalah 8.
5. Gigi geraham bungsu merupakan gigi yang paling
akhir muncul, terletak di paling belakang gigi geraham. Biasanya gigi bungsu ini belum akan muncul hingga menginjak usia 18-20
tahun. Namun, pada beberapa orang gigi ini mungkin tidak akan tumbuh sama
sekali. Sayangnya, gigi bungsu ini bisa tumbuh mendesak gigi yang lain dan
menyebabkan nyeri sehingga harus segera dicabut.
D.
Karakteristik
Gigi
1.
Molar
(Geraham) Atas
· Carabelli
Trait
Merupakan
tonjolan pada gigi geraham yang umumnya terletak pada gigi geraham paling depan
dan gigi geraham yang kedua. Ukurannya menyesuaikan dengan ukuran mahkota gigi
dan terdapat indikasi dimorfisme seksual pada ukuran carabelli cusp dimana
laki-laki cenderung memiliki ukuran cusp yang lebih besar ketimbang perempuan.
· Hypocone
Merupakan
Cusp yang paling “muda” dalam evolusi molar. Terdapat pada molar atas yang
paling depan serta molar atas yang kedua.
· Metacone
Merupakan
tonjolan ketiga pada molar atas dan ukurannya relative terhadap cusp lain.
·
Metaconule
Merupakan
cusp kelima yang terletak di antara metacone dan hypocone. Umumnya terdapat
pada molar atas pertama meskipun tidak menutup kemungkinan munculnya di molar
kedua dan ketiga.
· Parastyle
Merupakan
tonjolan yang terdapat pada molar atas kedua dan ketiga. Tonjolan ini termasuk
jarang dijumpai pada gigi molar. Jika ada, biasanya terletak pada buccal
paracone atau bagian gigi yang menghadap ke pipi.
2. Molar Bawah
· No
Hypoconulid
Merupakan
kondisi tidak munculnya cusp hypoconulid atau cusp kelima pada molar bawah yang
paling depan atau molar bawah yang kedua.
· Entoconulid
Merupakan
tonjolan ke enam yang terletak pada bagian distolingual molar bawah yang paling
depan.
· Cusp
7
Merupakan
tonjolan yang berbentuk menyerupai segitiga
terletak diantara metaconule dan entoconule. Tonjolan seperti ini biasa
terletak pada molar bawah yang paling depan.
· Protostylid
Merupakan
cusp yang menempel pada cusp (bukan cusp sesungguhnya). Letaknya adalah pada
bagian buccal (bagian yang menghadap ke pipi) dari cusp 1 molar bawah.
E.
Masalah
atau Penyakit pada Gigi
1.
Gigi
berlubang:
Timbunan plak atau sisa-sisa makanan yang mengundang bakteri
dapat menghancurkan email atau lapisan terluar gigi sehingga menimbulkan gigi
berlubang. Menyikat gigi secara teratur dengan pasta gigi mengandung fluoride
dua kali sehari, membersihkan gigi dengan benang gigi (dental floss),
berkumur dengan obat kumur yang mengandung flouride, serta memeriksakan gigi ke
dokter secara teratur setidaknya dua kali setahun dapat membantu mencegah gigi
berlubang.
Selain pada permukaan gigi, bakteri juga terdapat pada lidah
dan sisi dalam kanan kiri pipi. Bersihkan bagian ini dengan lembut secara
teratur untuk mengurangi bau napas tidak sedap. Mengakhirinya dengan obat kumur
antiseptik akan makin menunjang kebersihan mulut dan kesegaran napas.
2.
Gigi
sensitif
Gigi sensitif disebabkan oleh penipisan pada lapisan terluar
gigi yang disebut dengan email. Penipisan itu membuat lapisan tengah gigi
menjadi terbuka dan terpapar. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan gigi
sensitif adalah menyikat gigi dengan tekanan yang terlalu kuat, gangguan pada
gusi, lubang pada gigi, gigi patah atau keropos, ataupun akar gigi yang
terpapar makanan dingin atau panas.
Biasanya dokter akan melakukan perawatan sesuai dengan
penyebab gigi sensitif, seperti perawatan akar gigi, penambalan, atau pembuatan
mahkota jaket. Sementara itu, Anda dapat menggunakan pasta gigi khusus gigi
sensitif untuk mengurangi gejala.
3.
Tumbuhnya
gigi bungsu
Tumbuhnya gigi ini bisa menimbulkan rasa sakit dan masalah
lainnya. Gigi bungsu baru tumbuh pada usia dewasa, yakni 17 hingga 23 tahun.
Ketika gigi bungsu tumbuhnya miring, makanan bisa terjejal di dalamnya dan
kemudian terjadi lubang gigi karena sulit dibersihkan.
Selain itu, bukan hanya gigi ini yang sakit, lubang juga
akan terjadi di gigi sebelahnya yang terjejal makanan. Masalah lain yang
mungkin dihadapi oleh seseorang yang memiliki gigi bungsu adalah radang pada
gusi.
4.
Abrasi
gigi
Gigi abrasi bisa terjadi akibat gigi mengalami gesekan yang
terlalu kuat dan terus-menerus. Penyebabnya bisa bermacam-macam, seperti
menyikat gigi terlalu keras, kawat gigi yang terlalu mencengkeram, dan
kebiasaan-kebiasaan tertentu. Beberapa kebiasaan penyebab gigi abrasi
contohnya, kebiasaan menggunakan tusuk gigi dan kebiasaan menggigit benda
keras.
5.
Hyperdontia
Hyperdontia adalah kondisi mulut yang ditandai dengan jumlah
gigi yang berlebih, di mana seseorang memiliki lebih dari 20 gigi primer atau
lebih dari 32 gigi permanen. Gigi tambahan tersebut dinamakan gigi
supernumerary.
Orang yang mengalami hyperdontia umumnya mengalami tumor
jinak atau disebut sindrom Gardner’s. Pencabutan dan koreksi gigi adalah
langkah yang biasanya dilakukan untuk menangani hyperdontia.
6.
Gangguan
gusi
Gusi berdarah atau radang gusi adalah bagian dari mekanisme
pertahanan tubuh. Ketika daerah gusi kotor, tubuh akan menganggapnya sebagai iritan
yang perlu dibasmi dengan mengeluarkan darah. Apabila proses ini berlangsung
terus-menerus, bukan hanya bakteri yang dibasmi tetapi juga tulang penyangga
gigi.
Masalah utama dari radang gusi ini adalah gejalanya tidak
terasa sakit, sehingga kebanyakan penderita tidak menyadarinya. Alhasil, gusi
berdarah pun berlarut-larut dibiarkan dan menjadi infeksi yang berkelanjutan.
Hal ini dapat dicegah dengan melakukan pembersihan karang gigi setiap 6 bulan
sekali di dokter gigi.
7.
Gigi
Keropos
Gigi keropos disebabkan oleh ketidakseimbangan proses
pelepasan mineral (demineralisasi) dengan pengembalian mineral dalam gigi. Pola
makan yang tidak benar, perawatan gigi yang buruk, kecelakaan dan benturan pada
gigi dapat menyebabkan gigi keropos.
Penanganan yang akan diberikan tergantung pada kerusakan
yang terjadi pada gigi. Apabila kerusakan gigi hanya terjadi pada lapisan luar
gigi dan masih mengandung saraf dan pembuluh darah, dokter mungkin akan
mengaplikasikan resin, pulp, ataupun perawatan akar gigi dengan veneer untuk
menyelamatkan gigi. Tetapi jika kekeroposan terjadi hingga lapisan dalam gigi,
maka gigi kemungkinan harus diangkat.
8.
Gigi
geraham bungsu patah
Meski berada di paling belakang,
bukan berarti gigi geraham bungsu dapat luput dari masalah gigi patah. Gigi
patah biasanya terjadi pada gigi yang memang sudah mengalami kerusakan,
misalnya saja keropos.
Jika gigi geraham Anda patah, jangan
panik. Anda bisa segera pergi ke dokter gigi, disarankan untuk menyimpan
patahan gigi geraham di dalam susu. Pada kondisi tertentu, dokter memiliki
kemungkinan untuk dapat menempelkannya kembali. Tapi hal ini tentu tergantung
pada tingkat kerusakan yang terjadi
9.
Gigi
Ngilu
Gigi terasa ngilu atau gigi sensitif
umumnya disebabkan karena terkikisnya lapisan pelindung gigi yang disebut email
atau karena terpaparnya akar gigi. Gigi Anda menjadi sensitif ketika gusi
terbuka, sehingga dentin, lapisan di bawahnya, terpapar berbagai rangsangan.
Dentin terdiri dari bagian dalam
gigi dan akar yang terhubung pada ribuan saluran kecil yang menuju saraf gigi.
Kondisi ini menyebabkan paparan dingin, panas, atau gesekan keras dapat memicu
rasa ngilu.
F.
Odontologi
Kedokteran gigi adalah
ilmu mengenai pencegahan dan perawatan penyakit atau kelainan pada gigi dan mulut
melalui tindakan tanpa atau dengan pembedahan. Seseorang yang mempraktikkan
ilmu kedokteran gigi disebut sebagai dokter
gigi.
G. Gigi sebagai Alat Pendeteksi atau Forensik
Gigi
dan restorasinya merupakan jaringan yang keras dan resisten terhadap
pembusukan serta kondisi lingkungan yang
ekstrem. Sehingga ketika bagian tubuh lain dari jenazah mungkin telah hancur atau
rusak, maka gigi akan tetap bertahan utuh. Selain itu bentuk gigi juga berkaitan erat
dengan factor genetis, dimana gigi seorang anak umumnya mirip atau serupa
dengan gigi orangtua nya dan saudara sekandungnya. Oleh karena itu gigi dapat
berperan besar dalam bidang forensik sebagai alat pendeteksi jenazah yang tidak
dikenali.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Gigi merupakan bagian tubuh manusia yang berperan
penting dalam ilmu antropologi dimana gigi manusia mengalami evolusi sesuai
dengan budayanya. Kebiasaan-kebiasaan tertentu yang ada pada manusia seperti
jenis makanan yang dikonsumsi sering kali mempengaruhi bentuk dan karakteristik
gigi. Selain itu, faktor keturunan pun juga mempengaruhi bentuk dan
karakteristik gigi manusia, dimana seseorang umumnya memiliki bentuk atau
karakter gigi yang setipe dengan orangtua dan saudara sekandungnya. Sehingga,
gigi juga memiliki peran yang besar dalam bidang forensik.
Gigi juga dapat mengalami berbagai macam masalah
kerusakan atau penyakit gigi dan dari setiap bentuk kerusakan atau penyakit
tersebut memiliki cara penanganannya masing-masing.
B.
Saran
Ilmu antropologi dental merupakan ilmu
yang sangat berfungsi bagi kehidupan manusia. Namun, terdapat beberapa bagian
yang dikaji dalam antropologi dental yang terbilang cukup sulit untuk dipahami
oleh orang awam. Sehingga, alangkah baiknya jika dalam proses penjelasan dan
penggambarannya lebih diperjelas lagi sehingga dapat lebih mudah untuk
dipahami.
Bibliography
Artaria, M. D. (2014). Variasi Non-Metris pada
Geligi Manusia.
Permatasari, W. A., & Artaria, M. D. (2015).
Keterkaitan kebiasaan manusia terhadap kondisi gigi. Masyarakat,
Kebudayaan dan Politik Vol. 28, No.4, 181-187.
Prastya, A. A. (n.d.). Karakteristik Gigi Deutromalayid
Etnis Jawa Berdasarkan Frekuensi Kemunculan Dental Traits pada Molar.
Syafitri, K., Auerkari, E., & Suhartono, W.
(Januari-April 2013). Metode pemeriksaan jenis kelamin melalui analisis
histologis dan DNA dalam identifikasi odontologi forensik. Jurnal PDGI Vol
62 No. 1, 11-16.

Komentar
Posting Komentar
Apa pendapatmu?